Kompetensi Utama

Layanan


B I N T A N G
07 Jan 2019
B  I  N  T  A  N  G



Star trail di Kupang, Nusa Tenggar Timur (Foto : M. Zamzam Nurzaman)



Konstelasi dan Rasi Bintang

Bila di suatu malam yang cerah Anda berada jauh dari keramaian kota, Anda akan melihat pemandangan yang indah di langit. Anda akan melihat jalur putih seperti awan yang membentang kira-kira dari utara ke selatan, itulah galaksi kita Bima Sakti yang menurut orang Barat dinamakan Milky Way.

Selain galaksi Bima Sakti Anda akan melihat bintang bintang bertebaran yang sudah sejak zaman dahulu dijadikan sebagai pedoman arah, terutama saat mereka berada di laut. Bintang bintang ini juga sering dijadikan pedoman bagi para petani untuk menentukan kapan mereka mulai menanam di ladang mereka. Hal hal di atas mereka lakukan bila mereka mengenali satu bintang tertentu atau satu bentuk konfigurasi bintang.

Catatan tentang konstelasi pada zaman Yunani Kuno bisa ditemukan pada karya sastrawan Homerus, sekitar abad sembilan sebelum Masehi dan karya Aratus sekitar abad ketiga sebelum Masehi.Orang orang Babilonia dan Yunani kemudian mengamati ada konstelasi/rasi di langit yang selalu dilewati planet planet dan matahari, atau terdapat di bidang ekliptika. Mereka kemudian memberi nama konstelasi konstelasi ini sebagai zodiak atau lingkaran binatang binatang, dan mereka membagi daerah ekliptika ini menjadi 12 karena planet dan matahari berada dalam satu zodiak selama satu bulan dan setelah satu tahun planet planet dan matahari kembali lagi ke kedudukan awal. Zodiak zodiak ini pasti sudah Anda kenal lewat horoskop horoskop yang sering Anda jumpai pada rubrik astrologi di majalah majalahDefinisi Bintang sendiri sebagai berikut,Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).

Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah :
"Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir."

Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya.

Pada abad ke dua Masehi, Ptolomeus membuat katalog sekitar 1022 buah bintang yang terdapat dalam 48 konstelasi, tetapi bintang-bintang yang terdapat dalam katalognya hanya yang bisa diamati dari kota tempat ia tinggal, yaitu Alexandria. Meskipun demikian, katalog tertua yang sudah diketahui adalah katalog yang dibuat oleh Gan De, seorang astronom Cina pada abad keempat sebelum Masehi.Karya Ptolomeus terus menjadi rujukan utama sampai sekitar abad ke enam belas, ketika para pelaut Eropa mulai berkelana sampai pada daerah belahan bumi selatan sehingga mereka bisa mengamati bintang-bintang yang terdapat di langit selatan. Dari sini mereka lalu merekam pengamatan bintang yang mereka lakukan, dan akhirnya pada tahun 1603 Johann Bayer membuat atlas bintang dengan memasukkan konstelasi baru yang bisa teramati di langit selatan. Sistem penamaan bintang dalam katalog Bayer masih dipakai sampai sekarang, di mana bintang dalam satu konstelasi diurutkan dari yang paling terang dan pengurutannya mengikuti huruf Yunani dan diikuti dengan bentuk genitif bahasa Latin dari nama konstelasi tersebut. Sebagai contoh, bintang yang paling terang dari rasi Centaurus adalah Alpha Centauri, dan bintang dalam rasi Gemini yang tingkat kecerlangannya nomor empat adalah Delta Geminorum. Meskipun demikian, sudah sejak dulu orang-orang memberi nama pada bintang-bintang yang cukup terang, yang kebanyakan dinyatakan dalam bahasa Arab.Upaya melakukan pemetaan bintang berlanjut terus, dan pada tahun 1687 seorang astronom Jerman bernama Johannes Hevelius membuat sebuah atlas bintang yang sangat lengkap, di mana ia menambahkan beberapa konstelasi yang bisa teramati dari daerah di belahan bumi utara. Akhirnya, pada tahun 1930 International Astronomical Union secara resmi menetapkan konstelasi-konstelasi yang terdapat di langit sejumlah 88 buah, di mana satu daerah langit hanya ditempat satu konstelasi saja, dan tidak ada satu konstelasi yang bertumpang tindih dengan konstelasi lainnya. Bintang bintang anggota sebuah konstelasi tidak memiliki kaitan fisik satu sama lain karena jaraknya yang saling berjauhan. Bahkan meskipun dari bumi dua bintang tampak berdekatan, sebenarnya mereka saling berjauhan karena kebetulan mereka segaris pandang.Meskipun demikian, untuk mencari posisi bintang tertentu para astronom lebih banyak menggunakan katalog bintang daripada konstelasi. Dalam sebuah katalog terdapat informasi posisi bintang yang sangat akurat, sehingga mereka tidak akan mungkin salah ketika mereka mengarahkan teleskop mereka ke bintang itu berdasarkan informasi yang mereka dapat dari katalog tersebut.

Sekarang ini ada beberapa katalog bintang yang sering dipakai para astronom, seperti katalog Henry-Draper yang merupakan katalog pertama yang mencoba memasukkan tipe spektrum bintang ke dalamnya. Bintang yang terdapat dalam katalog ini diberi nama HD yang diikuti dengan nomor bintang dalam katalog tersebut. Katalog lain yang sering dipakai adalah katalog Smithsonian Astrophysical Observatory, dan bintang dalam katalog ini diberi nama SAO yang diikuti dengan nomor urut dalam katalog tersebut. Katalog-katalog lain adalah Bonner-Durchmusterung, Astrographic Catalogue, USNO (United States Naval Observatory). Di samping katalog-katalog ini, terdapat juga katalog khusus, seperti katalog bintang ganda Aitken, di mana penamaan bintang adalah ADS (Aitken Double Star) dan diikuti dengan nomor bintang yang bersangkutan.



Bintang di Kupang, NTT. (Foto : M. Zamzam Nurzaman)


Jarak Bintang

Meskipun demikian jarak matahari dengan anggota tata surya terjauh masih bukan apa apa dibandingkan dengan jarak matahari ke bintang bintang. Begitu jauhnya jarak bintang bintang sehingga pengukuran jarak menggunakan satuan ukuran yang biasa kita pakai seperti kilometer menjadi tidak efisien lagi. Apabila kita gunakan satuan konvensional dalam menyatakan jarak bintang, keadaannya sama dengan kalau kita mengukur jarak Jakarta Surabaya menggunakan satuan milimeter. Untuk memecahkan masalah jarak yang sangat besar ini, para astronom membuat satuan jarak baru yang dinamakan tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh cahaya selama satu tahun. Cahaya yang merambat dalam ruang hampa memiliki kecepatan 300.000 kilometer per detik, jadi jika Anda ingin mengubah satu tahun cahaya ke dalam kilometer, Anda bisa hitung jumlah detik dalam satu tahun dan kalikan bilangan itu dengan 300.000 km, hasilnya sekitar 9,46 trilyun kilometer.

Karena jarak bintang bintang yang sedemikian jauh, para astronom sering mengalami kesulitan dalam menentukan jarak bintang. Mereka tidak lagi bisa mempergunakan metoda metoda yang mereka pakai dalam mengukur jarak anggota anggota tata surya seperti radar dan pemakaian hukum-hukum Kepler. Mereka harus mempergunakan cara cara lain.

Cobalah Anda pegang sebatang pinsil di hadapan mata Anda. Kemudian bila pinsil itu Anda lihat berganti ganti menggunakan mata kiri dan mata kanan, tentu Anda melihat kalau pinsil yang Anda pegang bergerak relatif terhadap benda benda yang berada di belakang pinsil itu.

Yang disebutkan di atas adalah peristiwa yang dikenal dengan nama paralaks. Dengan menggunakan prinsip ini kita bisa menentukan jarak benda yang lebih jauh dengan cara mengukur sudut pergeseran benda yang lebih jauh relatif terhadap pinsil yang Anda pegang. Prinsip yang sama juga dipakai dalam menentukan jarak bintang dari matahari dengan memanfaatkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Metoda ini dinamakan paralaks trigonometri.

Misalkan pada suatu saat dalam revolusinya bumi berada pada kedudukan 1. Saat itu bila kita melihat bintang A tampak seolah olah bintang ini terletak pada posisi B1. Setengah tahun kemudian, bila bumi berada pada kedudukan 2 bintang A yang sama akan tampak pada kedudukan B2. Sudut pergeseran posisi bintang A dalam gambar di atas adalah sebesar 2alfa, dan tangen sudut alfa adalah jarak bumi matahari dibagi jarak bintang yang bersangkutan. Dengan cara ini akhirnya jarak bintang bisa ditentukan.

Pada umumnya paralaks bintang bintang sangat kecil, kurang dari satu detik busur. Sebagai contoh bintang yang terdekat dengan kita, berarti yang memiliki paralaks terbesar, memiliki paralaks sebesar 0'',76. Bintang ini adalah bintang Alpha Centauri yang berjarak 4,3 tahun cahaya dari matahari.

Apabila sebuah bintang berjarak 3,26 tahun cahaya dari kita maka paralaks bintang itu adalah sebesar 1''. Jarak ini kemudian digunakan sebagai satuan jarak lain setelah tahun cahaya yang diberi nama parsec (parsek) yang merupakan singkatan dari parallax second. Satuan jarak ini banyak dipakai dalam telaah telaah tentang struktur galaksi dan kosmologi (telaah tentang struktur dan evolusi alam semesta).

Penentuan jarak menggunakan metoda paralaks trigonometri tidak bisa diterapkan pada semua bintang. Metoda ini hanya berlaku untuk bintang bintang yang tidak terlalu jauh, hanya sampai 100 parsek dari matahari. Untuk bintang bintang yang lebih jauh metoda ini tidak bisa dipakai lagi, kecuali kalau ada peningkatan teknologi teleskop seperti pada Teleskop Ruang Angkasa Hubble.
Penentuan jarak pada bintang bintang yang jaraknya lebih jauh dari 100 parsek (326 tahun cahaya) dari matahari dilakukan dengan cara lain tetapi tetap mengandalkan metoda paralaks trigonometri.

Di sini kita cari bintang bintang yang tipenya sama dengan bintang bintang yang sudah ditentukan jaraknya menggunakan metoda paralaks trigonometri. Karena tipenya sama, berarti kita bisa menganggap kecerlangan sebenarnya sama, cuma karena terletak lebih jauh cahayanya menjadi lebih lemah. Dengan mengukur berapa kali cahaya bintang yang akan diukur jaraknya ini lebih lemah dibandingkan dengan bintang yang sudah diketahui jaraknya.

KLASIFIKASI

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me". Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.



Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :

• Maha maha raksasa
• I Maharaksasa
• II Raksasa-raksasa terang
• III Raksasa
• IV Sub-raksasa
• V deret utama (katai)
• VI sub-katai
• VII katai putih

Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang.

Diagram Hertzsprung-Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum (suhu permukaan) bintang. Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang.

TERBENTUKNYA BINTANG

Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta.

Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.

Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.

Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama. Menjelang kematiannya, sebuah bintang bisa meledak. Ledakan bintang ini disebut nova. Istilah ini berarti “baru” karena seolah-olah telah lahir sebuah bintang baru. Kalau bintang yang meledak berukuran besar, maka ledakannya juga sangat besar, sampai-sampai menghancurkan bintang-bintang lain. Ledakan bintang besar ini disebut sebagai supernova. Setelah meledak, materi bintang yang tersisa akan mengerut dan memadat dengan kepadatan yang luar biasa dan gravitasinya begitu kuat sampai-sampai cahaya pun tak bisa lepas. Materi bekas bintang inilah yang disebut black hole (lubang hitam).



Others
Pengaruh Konsentrasi Polutan Terhadap Radiasi Global
02 Jan 2015 •
Studi mengenai polusi udara di Indonesia terus berkembang begitupun mengenai masalah cuaca dan iklim yang berhubungan dengan polusi udara terus dikaji. Kasus polusi di kota-kota besar perlu pengawasan dan…


Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL