Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN DAN UN-SIPIDER BAHAS PENANGANAN BENCANA BERBASIS TEKNOLOGI ANTARIKSA
Penulis Berita : • Fotografer : • 06 Sep 2013 • Dibaca : 15379 x ,

Jakarta, Lapan.go.id – Selasa (03/09), Lapan dan UN-SPIDER selenggarakan kegiatan Stakeholder Meeting on The Utilization of Space-Based Information for Disaster Risk Management. Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mendiskusikan aktivitas Regional Supporting Offfice United Nations Platform for Space Based Information for Disaster Management and Emergency Response (RSO UN-SPIDER) di Indonesia yang telah diresmikan Februari 2013.

RSO dibentuk sebagai amanat Resolusi Majelis Umum PBB mengenai kerja sama UN-SPIDER dengan pusat-pusat keahlian regional dan nasional dalam penggunaan teknologi antariksa guna melakukan manajemen mitigasi bencana.
Indonesia menjadi negara ke-9 dan negara pertama di Asia Tenggara yang menjadi RSO UN-SPIDER. Lapan menjadi pelaksana RSO karena memiliki pengalaman dalam pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk berbagai bidang seperti mitigasi bencana, pemodelan perubahan iklim, pemantauan lingkungan dan sumber daya alam.

Pertemuan ini dihadiri delegasi dari UN-SPIDER, UNOOSA, UNWFP, UNDP, UNOCHA, BBPT, BPNP, BIG, Kementerian Perhubungan, AHA CENTER, NDRC, PDC, dan BPBD Kalimantan Barat. Pertemuan membahas mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk mewujudkan operasionalisasi pusat informasi kebencanaan terpadu

Deputi Penginderaan Jauh Lapan, Taufik Maulana, saat membuka acara mengatakan bahwa informasi penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk mitigasi bencana. Misalnya, informasi tersebut bermanfaat untuk fase pra bencana dalam membangun sistem peringatan dini, penghitungan risiko, inventarisasi sumber daya alam, serta kegiatan pemantauan sumber daya alam dan lingkungan.

“Pada fase saat bencana, informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung quick response dan penghitungan tingkat kerugian akibat bencana. Sementara itu, pada fase pasca bencana penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk mendukung rehabilitasi dan relokasi korban bencana,” ujar Taufik.

Ia melanjutkan, saat ini banyak pusat informasi yang menghasilkan data dan informasi penginderaan jauh dalam bidang kebencanaan. Walaupun ini merupakan hal yang positif, namun cukup membingungkan masyarakat ketika terjadi bencana saat memilih informasi mana yang akurat dan layak dipercaya.

Untuk itu, agar dapat memberikan informasi kebencanaan berbasis penginderaan jauh secara akurat, efektif dan efisien kepada masyarakat diperlukan pusat informasi kebencanaan yang terpadu. Dengan demikian, informasi kebencanaan hanya akan keluar dari satu pintu dan merupakan hasil kolaborasi seluruh institusi pemilik informasi kebencanaan.

Sumber: Humas/Fhm
Foto: Humas/Fhm


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL