Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN DAN UNOOSA BAHAS ANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM MELALUI TEKNOLOGI ANTARIKSA
Penulis Berita : • Fotografer : • 05 Sep 2013 • Dibaca : 43078 x ,

Jakarta, Lapan.go.id – Perubahan iklim dapat diantisipasi melalui aplikasi teknologi antariksa. Salah satunya dengan aplikasi teknologi penginderaan jauh satelit yang sudah digunakan untuk melacak gejala-gejala perubahan iklim, mengurangi emisi gas rumah kaca dan penyerapan karbon melalui reforestasi. Kini, kebutuhan aplikasi teknologi antariksa tersebut harus menyentuh aspek adaptasi dan mitigasi dari perubahan iklim secara global.

Untuk itu, Lapan dan Badan PBB yang mengurusi keantariksaan (United Nations Office for Outer Space Affairs atau UNOOSA) menyelenggarakan United Nations/Indonesia International
Conference on Integrated Space Technology Applications to Climate Change (Konferensi Internasional tentang Aplikasi Teknologi Antariksa untuk Perubahan Iklim). Konferensi berlangsung pada 2-4 September 2013 di Hotel Borobudur, Jakarta.

Dalam sambutannya, Senin (2/9), Kepala Lapan Bambang S. Tejasukmana mengatakan bahwa dalam konteks mitigasi perubahan iklim, Lapan sudah ikut berperan aktif dalam sistem penghitungan karbon nasional/Indonesia's National Carbon Accounting Sytem (INCAS) melalui dukungan data penginderaan jauh multitemporal untuk implementasi pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan. Sementara itu dalam konteks adaptasi perubahan iklim, peneliti Lapan aktif melakukan penelitian mengenai tingkat kerentanan wilayah pesisir yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.

Koordinator PBB untuk Indonesia Douglas Broderick dalam sambutannya menegaskan sepuluh poin penting yang harus diperhatikan dalam konferensi ini yaitu: penguatan upaya di bidang pertanian dan ketahanan pangan, bidang lingkungan hidup dan kehutanan, bidang kebencanaan, bidang cuaca antariksa, keterlibatan pihak swasta, kerjasama regional yang solid, antisipasi area populasi rawan, antisipasi deforestasi, antisipasi kenaikan muka air laut, serta diseminasi hasil konferensi yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat luas.

Konferensi dibuka oleh Teguh Rahardja selaku perwakilan dari Kementerian Riset dan Teknologi. Dalam konferensi ini juga disampaikan pidato dan presentasi dari perwakilan BAPPENAS dan Kementerian Lingkungan Hidup RI, DNPI Indonesia, Kementerian Dalam Negeri Pemerintah Bangladesh, Badan Layanan Hidrologi Nigeria (Nigeria Hydrological Services Agency), dan perwakilan dari Astrium.

Konferensi ini dihadiri pakar-pakar di bidang teknologi antariksa dan perubahan iklim serta para pengambil keputusan dari berbagai negara. Tujuan konferensi ini antara lain untuk menghitung tingkat kerentanan suatu negara atau wilayah terhadap perubahan iklim dan mengidentifikasi alternatif potensial terkait upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Selain itu, konferensi ini juga akan meningkatkan sinergi dan memperkuat kerjasama antara komunitas antariksa dengan berbagai organisasi terkait perubahan iklim, baik regional maupun internasional.

Peserta konferensi akan dibagi ke dalam sembilan working group yang membahas isu terkait aplikasi teknologi antariksa untuk antisipasi perubahan iklim. Isu-isu tersebut ialah tentang mitigasi/ REDD, perubahan iklim dan kebencanaan, perubahan iklim dan lingkungan hidup, peran riset, adaptasi di wilayah pesisir, kebijakan data, mitigasi dan adaptasi pada pegunungan, adaptasi pada bidang pertanian serta bidang cuaca dan iklim.

Sumber: Kersada/SA
Foto: Kersada/SA


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL