Kompetensi Utama

Layanan


Kunjungan Komisi VII DPR RI RUU KEANTARIKSAAN BERIKAN PERLINDUNGAN BAGI WILAYAH INDONESIA
Penulis Berita : • Fotografer : • 15 Feb 2013 • Dibaca : 115327 x ,

Kototabang, Lapan.go.id – Rabu (13/2), Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengunjungi Loka Pengamatan Atmosfer Lapan di Kototabang, Sumatera Barat. Kunjungan ini terkait pendalaman materi RUU Keantariksaan.

Dalam kunjungan ini, Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan Bhatoegana, mengatakan bahwa negara Indonesia memiliki wilayah kepulauan yang sangat luas. Untuk menjaga pulau-pulau ini, Indonesia memerlukan suatu regulasi. Maka itulah, diperlukan undang-undang keantariksaan.
Ia melanjutkan, pengesahan undang-undang keantariksaan ini nantinya merupakan keseriusan untuk memiliki payung hukum guna melindungi Indonesia. Perlindungan ini terutama terhadap sampah antariksa yang jatuh di wilayah Indonesia. "Selama ini, karena belum adanya undang-undang tersebut, masyarakat Indonesia belum terlindungi dari sisa-sisa benda antariksa yang diluncurkan oleh berbagai negara. Nantinya, di dalam undang-undang tersebut akan diatur mengenai penggantian kerugian yang ditimbulkan akibat jatuhnya sampah antariksa," ujarnya.

Selain terhadap sampah antariksa, undang-undang ini akan melindungi wilayah Indonesia termasuk hutan. Ia mengatakan, Brazil menjadikan undang-undang keantariksaan sebagai pemicu untuk pengembangan satelit yang sangat berguna untuk mendeteksi penebangan hutan secara illegal. Dengan demikian, instansi terkait dapat langsung bertindak.

Dengan adanya undang-undang tersebut, maka antariksa dapat dimanfaatkan dengan lebih maksimal. Sutan mencontohkan, Indonesia dapat menggunakan satelit untuk menginventarisasi sumber daya alam dan mitigasi bencana. Ia menambahkan, undang-undang ini nantinya akan memberikan dorongan bagi pengembangan riset keantariksaan nasional.

Sementara itu, Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana, dalam kunjungan tersebut mengatakan bahwa Lapan saat ini sedang mengembangkan roket, satelit, penerbangan, penginderaan jauh, serta riset atmosfer dan antariksa.

Di bidang teknologi dirgantara, roket terbesar yang sedang dibuat Lapan saat ini yaitu RX-550. Sementara itu, di bidang penerbangan Lapan mengembangkan Light Surveillance Aircraft (LSA) yang dapat dimanfaatkan untuk mitigasi bencana misalnya tanah longsor. Pada 2014, Lapan menargetkan untuk dapat menerbangkan LSA yang mampu mengangkat muatan seberat 25 kilogram dan memiliki kecepatan 100-200 kilometer per jam. Untuk program satelit, Lapan telah menyelesaikan satelit Lapan A2 yang saat ini dalam posisi siap diluncurkan.

Di bidang penginderaan jauh, Lapan menerima berbagai data satelit yang mampu memenuhi semua kebutuhan data geospasial di Indonesia. Data tersebut disediakan oleh Lapan secara gratis kepada seluruh instansi pemerintah yang memerlukan.

Di bidang sains atmosfer dan antariksa, Lapan melakukan berbagai penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai instansi. Contohnya, fasilitas Lapan yang ada di Koto Tabang memiliki Radar Atmosfer Ekuator, yang merupakan salah satu terbesar di wilayah garis khatulistiwa.

Selain Sutan Bhatoegana, anggota Komisi VII DPR RI yang berkunjung ke Loka Pengamatan Atmosfer Lapan di Kototabang yaitu, Milton Pakpahan, Jhonny Allen Marbun, Markum Singodimedjo, Achmad Riyaldi, dan Mulyadi.


Sumber: Humas/Meg
Foto: Humas/Meg


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL