Kompetensi Utama

Layanan


Pengukuhan Profesor Riset Lapan Riset Atmosfer Antisipasi Dampak Perubahan Iklim Global
Penulis Berita : • Fotografer : • 03 Jan 2013 • Dibaca : 62776 x ,

Jakarta, Lapan.go.id – Rabu (26/12), Majelis Pengukuhan Profesor Riset mengukuhkan peneliti Bidang Meteorologi Lapan, Dr. Ir. Eddy Hermawan, M. Sc., sebagai Profesor Riset yang ke-14. Pelantikan yang dipimpin oleh ketua majelis Prof. Lukman Hakim Ph. D. ini berlangsung di Balai Pertemuan Dirgantara Lapan, Rawamangun, Jakarta Timur.

Selama berkarier di Lapan, Prof. Dr. Eddy Hermawan M. Sc. telah menulis 128 karya ilmiah Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan profesi ilmiah dalam dan luar negeri, antara lain Perhimpunan ahli Meteorologi Pertanian Indonesia dan Perhimpunan Ahli Geofisika Indonesia.
Dalam pengukuhannya, Prof. Eddy menyampaikan orasi yang berjudul Model Interkoneksi Kejadian El-Nino dan Dipole Mode sebagai Indikasi Awal Datangnya Musim Kering atau Basah Panjang di Kawasan Barat Indonesia. Ia mengatakan, saat ini pemerintah menghadapi permasalahan pokok dalam menghadapi dampak perubahan iklim global. ada satu pokok permasalahan yang dihadapi pemerintah, dalam hal ini Dewan pangan Nasional, DKPN) saat ini yakni menghadapi dampak perubahan iklim Global. Ancaman tersebut berasal dari masalah datangnya musim kemarau atau basah panjang.

Permasalahan ini muncul karena prediksi iklim, khususnya model prediksi anomali curah hujan, belum sepenuhnya mempertimbangkan adanya interkoneksi, telekoneksi, atau interaksi yang terjadi d iantara berbagai fenomena iklim global. Eddy melanjutkan, dampak perubahan iklim global ini telah terjadi pada 1997 ketika terjadi kemarau panjang. Ini kemudian diikuti oleh musim kemarau basah panjang tahun berikutnya. Hal tersebut terjadi karena bersatunya dua fenomena alam yaitu El-Nino dan Dipole Mode secara simultan.

“Pengalaman lainnya yaitu terkait dengan masalah interkoneksi pada awal Februari 2007. Saat itu, Jakarta dilanda banjir besar yang menyebabkan kelumpuhan total. Ternyata, dari hasil riset menunjukan adanya dua fenomena atmosfer yang bergabung menjadi satu, yakni fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation) dengan Seruak Dingin (Cold Sourge), membentuk semacam pusaran (vortex)” ujarnya.

Indonesia memiliki posisi yang unik karena berada di persimpangan dua lautan dan dua benua. Eddy menjelaskan, hal ini mengakibatkan Indonesia sangat peka terhadap perubahan iklim dan bencana hidrometereologi. Hal ini perlu diantisipasi sedini mungkin melalui pemahaman dinamika atmosfer yang mendalam. Untuk itu, diperlukan kajian yang lebih komprehensif tentang interkoneksi berbagai fenomena iklim global, khususnya keterkaitan antara Monsun, El-Niño dan Dipole Mode dan dampaknya di Indonesia. “Riset atmosfer ini perlu terus dikembangkan agar dapat menjadi dasar kebijakan dalam pengambilan keputusan,” ia menegaskan.
Dalam pengukuhan professor riset ini, Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana berharap pemberian gelar di bidang penelitian ini akan member semangat dan mendorong peneliti untuk semakin giat berkarya.




Sumber: Humas/EN
Foto: Humas/EN


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL