Kompetensi Utama

Layanan


Festival Sains Antariksa 2013 MENGEKSPLORASI MARS, MEMPELAJARI BUMI
Penulis Berita : • Fotografer : • 30 Oct 2013 • Dibaca : 22576 x ,

Bandung, Lapan.go.id – Lapan menyelengarakan Festival Sains Antariksa (FSA) di Pusat Sains Antariksa Lapan, Bandung, Sabtu (19/10). Kegiatan ini merupakan wujud partisipasi Lapan dalam World Space Week 2013 dan rangkaian menyambut HUT Lapan ke-50 pada 27 November 2013. FSA yang diikuti 152 siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tersebut bertema Exploring Mars, Discovering Earth.

"Sesuai dengan tema, dengan mengeksplorasi Mars, kita juga mempelajari Bumi kita sendiri. Belajar cara menciptakan lingkungan hidup yang kita inginkan, dan cara manusia bisa mengelola sumber daya yang ada," kata Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan Clara Yono Yatini dalam sambutannya.
FSA 2013 sangat tepat untuk menginspirasi generasi muda mengenai seluk beluk keantariksaan. "Berbicara mengenai space, tidak lepas dari bidang ilmu Sains, Matematika, Teknologi, Engineering dan sebagainya. Dengan kegiatan seperti ini, minat generasi muda terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi bisa kita tingkatkan," Clara menjelaskan. Selain itu, Clara menambahkan, kegiatan ini diharapkan bisa menimbulkan kesadaran bahwa Bumi sangat penting dan harus dipelihara untuk kelangsungan kehidupan manusia.

Berbagai kegiatan edukatif dan menghibur digelar dalam FSA 2013. Pelajar tingkat SD mengikuti lomba mewarnai 3D serta kolase, sementara pelajar SMP mengikuti kuis Ranking 1. Untuk pelajar SMA terdapat jenis lomba yang baru digelar pada FSA 2013 yaitu lomba pencarian planet baru.

"Lomba ini sangat menuntut imajinasi peserta, mengenai cara kita menempatkan makhluk hidup pada suatu planet dan kemudian merancang kehidupan yang ada di situ," jelas Clara.

Sebelum berlomba, peserta mendengarkan presentasi mengenai penjelajahan planet Mars oleh Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa, Gunawan Admiranto, dan presentasi misi Space Seeds for Asian Future (SSAF) oleh tim SSAF Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB).

Di area pameran, Pusat Sains Antariksa dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lapan menyiapkan alat-alat peraga terkait bidang penelitian dan pengembangan masing-masing pusat. Peraga tersebut antara lain alat edukasi ionosfer, magnetometer, SADEWA 2.0 versi Beta, Sistem Informasi Liputan Awan (SILAW), Bandung Radio Wind Sounding (Browsing), dan Transportable Radar Experiment (T-Rex) yang merupakan bagian dari Transportable Weather Radar.

Pameran ini juga diikuti oleh Tim Universe Awareness (Unawe) Indonesia yang menyajikan planetarium mini, serta perwakilan dari pelajar SMA yang menyajikan percobaan ilmiah gunung meletus, balon meniup sendiri, pelangi kimia, dan tornado.

Kepala Biro Kerjasama dan Humas Lapan, Agus Hidayat, berharap, "di masa mendatang, kegiatan ini bisa digelar dengan skala nasional bahkan internasional."

Bisakah Hidup di Mars?

Dekat dengan Bumi, cukup hangat, panjang hari tidak berbeda dengan Bumi, memiliki musim seperti Bumi serta berpotensi untuk dilakukan terraforming (proses modifikasi atmosfer, temperatur, topografi, atau ekologi Mars agar mirip Bumi). Itulah beberapa alasan mengapa Mars, sejauh ini, masih merupakan pilihan terbaik untuk dijadikan koloni atau alternatif tempat hidup selain Bumi. Namun pertanyaannya, mengapa manusia berupaya mencari kemungkinan untuk hidup di luar Bumi?

"Berjaga-jaga terhadap tumbukan Bumi dengan asteroid di kemudian hari, mengurangi kepadatan penduduk di Bumi, serta mengembangkan berbagai bentuk teknologi baru," ujar Gunawan Edmiranto saat memberikan presentasi mengenai penjelajahan Mars pada Festival Sains Antariksa (FSA) 20013 di Auditorium Lapan, Bandung.

Upaya pencarian kehidupan di Mars diawali sejak astronom Giovanni Schiaparelli menduga bahwa di Mars terdapat canali atau salurah buatan makhluk cerdas. "Namun pengamatan lebih lanjut menggunakan foto-foto yang diambil pesawat-pesawat ruang angkasa menunjukkan bahwa canali ini bukan saluran buatan makhluk-makhluk cerdas," ujar Gunawan.

Kemudian, wahana antariksa Viking mendarat di Mars dalam upaya mencari kehidupan tetapi tidak mendapatkan petunjuk apa pun. Pada 1996 ditemukan sebuah meteorit yang diduga mengandung bakteri dan diduga berasal dari Mars.

Hasil eksplorasi para ilmuwan atas sifat-sifat Mars mengungkapkan beberapa tantangan untuk hidup di Mars. Tantangan tersebut ialah atmosfer sangat tipis dan beracun, radiasi sangat besar, gravitasi rendah, air yang selalu beku, serta cuaca sangat dingin.

Namun, ada beberapa kemungkinan upaya yang bisa dilakukan untuk menjadikan Mars layak huni. Selain terraforming, juga dengan membangun biosfer. "Diawali dengan mikroba yang tahan radiasi dan dingin, kemudian ketika danau terbentuk kita masukkan tanaman yang bisa hidup di air agar terbentuk oksigen. Selanjutnya masukkan hewan yang bisa hidup di air, agar oksigen makin banyak," jelas Gunawan.

Setelah mengembangkan ekologi air, selanjutnya mengembangkan tanaman dan hewan di tanah. Dalam waktu yang sangat lama, manusia akan mungkin bisa berjalan di permukaan Mars tanpa pakaian luar angkasa.

Sebelum membahas mengenai Mars, tim Space Seeds for Asian Future (SSAF) dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) memberikan gambaran tentang biji yang dibawa dan ditumbuhkembangkan di ruang angkasa.

"Kesimpulan yang didapat dari ekseperimen tersebut yaitu biji ruang angkasa mengalami kerusakan kulit biji dan aberasi kromosom," ujar Chunaeni Latief dari SITH ITB. Ia menambahkan, meskipun ada perbedaan pada pertumbuhan dan produktivitasnya, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan.


Sumber: Humas/SA
Foto: Humas/SA


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL