Kompetensi Utama

Layanan


Riset Roket untuk Pertahanan Negara
Penulis : • Media : • 22 Sep 2013 • Dibaca : 40292 x ,

Ilmuwan Indonesia telah mampu mengembangkan roket secara mandiri. Lantas, apakah pemerintah bersedia menggunakannya untuk menunjang pertahanan negara?

Bagi Indonesia, roket bukanlah teknologi baru. Riset dan pengembangan teknologi persenjataan ini berawal saat presiden pertama Indonesia, Soekarno, membeli rudal dari Uni Soviet (Rusia) pada era 1960-an. Saat itu, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara ( TNI AU) bersama ITB (Institut Teknologi Bandung) mengembangkan berbagai jenis roket, di antaranya bernama roket Kartika 1 dan roket Kartika 2. Sayangnya, karena faktor politik dan jatuhnya pemerintahan Soekarno, teknologi persenjataan militer ini berhenti dikembangkan.

Bersyukur, seiring kebutuhan perlengkapan alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI, teknologi roket kembali dikembangkan oleh Pusat Teknologi Roket, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). "Tidak hanya sebatas penguasaan teknologi, keberadaan roket sangat penting untuk pertahanan negara. Sebagai negara besar dengan wilayah luas, Indonesia mesti memiliki roket," terang Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Profesor Soewarto Handhrienata, belum lama ini di Jakarta.

Soewarto menjelaskan penguasaaan teknologi roket akan menyempurnakan pertahanan Indonesia dan meningkatkan posisi militer Indonesia dalam percaturan politik internasional. "Sekarang, semuanya tinggal pada pemerintah. Secara institusi, Lapan sudah siap mengembangkan berbegai jenis roket. Dulu, pemerintah sempat ingin memesan 1.000 roket, namun sampai sekarang program tersebut belum terealisasi," pinta Soewarto.

Menanggapi pernyataan Soewarto, Dirjen Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan, Pos M Hutabarat, mengatakan pemerintah tetap akan melanjutkan program 1.000 roket sesuai rencana. Namun, apa boleh buat karena keterbatasan anggaran, untuk sementara ini program tersebut ditunda dulu. Yang jelas, kerja sama antara Lapan dengan Kementerian Pertahanan, khususnya pembuatan roket, tetap berjalan.

Dia menegaskan sudah menjadi komitmen pemerintah akan membeli perlengkapan senjata produksi dalam negeri. "Kalau kita mampu memproduksi sendiri, kenapa mesti beli dari luar. Untuk perlengkapan yang belum sanggup dibuat dalam negeri, seperti pesawat tempur, tetap akan beli dari luar. Untuk roket, dapat dipastikan akan membeli produksi dalam negeri," kata Pos.

Tak diragukan lagi, penguasaan teknologi pertahanan Indonesia tidak kalah dengan negara tetangga. Beberapa jenis roket besutan Lapan telah berhasil melalui serangkaian uji coba, di antaranya roket RX 450 dengan daya jangkau mencapai 150 kilometer (km) dari permukaan Bumi. Selain untuk pertahanan, roket ini bisa dimanfaatkan untuk membawa alat pemantau radiasi atau keperluan penelitian lainnya. "Ini menunjukkan bahwa kita mampu membuat roket canggih berteknologi tinggi," tukas Soewarto.

Soewarto menjelaskan roket RX 450 adalah tipe roket balistik, kaliber 450 milimeter (mm), panjang total 6.110 mm, panjang motor 4.459 mm, berat total 1.500 kilogram (kg), berat muatan 100 kg, gaya dorong 12895 kg, dan menggunakan bahan bakar propelan komposit.

Sekadar informasi, propelan adalah bahan bakar roket yang terdiri dari bahan-bahan utama fuel dan oksidator, serta bahan aditif, yang nantinya mengubah tenaga potensial menjadi tenaga kinetik saat terjadinya reaksi pembakaran di dalam tabung roket. Tenaga kinetik merupakan gaya dorong (yang menggerakkan) roket ke depan. Besarnya gaya dorong dipengaruhi oleh komposisi komponen-komponen penyusun propelan.

Terkait dengan bahan bakan roket tersebut, menurut Soewarto, sekarang Lapan sudah sanggup membuat bahan bakar roket. Dulu, Indonesia sempat bergantung pada negara luar. Kini, Lapan, melalui divisi yang khusus menangani propelan, yaitu Bidang Teknologi Propelan yang tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, dan perekayasaan teknologi propelan sebagai bahan bakar roket. "Peralatan untuk pengembangan propelan yang kita miliki sudah memenuhi standar internasional, termasuk kualitasnya. Secara infrastruktur dan perlengkapan kita sudah mulai lengkap," tutur Soewarto.

Mengorbitkan Satelit

Selain roket RX 450, Lapan juga mengembangkan roket RX 550. Roket dengan panjang 8–10 meter ini memiliki daya dorong melebihi 25 ton dalam waktu 7 detik. Spesifikasi teknis elemen bahan bakar antara lain panjang propelan roket RX 550 mencapai 5.500 milimeter (mm), diameter propelannya 530 mm, dan densitas propelan 0,000174 kg per cm. Proses pembakaran propelan ditargetkan 14 detik dan mampu terbang sejauh 300 km hingga mencapai titik yang ditentukan. "Selain untuk menunjang kepentingan pertahanan negara, roket ini juga bisa digunakan untuk mengorbitkan statelit," jelasnya.

Lapan juga telah berhasil mengembangkan roket D230 Type RX 1220. Roket yang dikembangkan sejak 2010 ini merupakan pengembangan dari roket R-H122. Spesifikasi bahan bakarnya, propelan dengan panjang 200 cm menggunakan konfigurasi geometri propelannya double, yaitu bintang dan hallow.

Dalam operasionalnya, roket yang memiliki daya jangkau 20-30 km ini telah digunakan untuk menunjang persenjataan Marinir. Roket tempur dengan berat 169,5 kg dan panjang 3230 mm ini menggunakan sistem sirip lipat yang secara otomatis terbuka vertikal ketika lepas landas dan peluncur. Dengan kecepatan 120 detik, roket ini mampu mencapai titik tujuan dengan sempurna.

Roket lain yang telah berhasil diuji coba adalah RX 1210/R-HAN 122 dengan panjang 1.762 cm dan berat 38 kg dan jangkuan 14 km. Berhubungan ukurannya tidak begitu besar, roket ini bisa dibawa menggunakan mobil truk militer. Soewarto menceritakan selain digunakan oleh angkatan laut, senjata ini juga digunakan oleh angkatan darat. "Keberadaannya semakin memperkuatan persenjataan militer Indonesia. Secara psikolagi jelas memberikan semangat lebih bagi militer Indonesia dan mereka semakin percaya diri dengan perlengkapan persenjataan yang mereka miliki," tandasnya.

Tidak hanya itu, Lapan juga sukses membuat roket D230 Type RX 2020 yang kemampuannya lebih sempurna dari roket RX 1210/R-HAN 122. Roket dengan panjang 3.230 cm ini menggunakan bahan bakar komposite, struktur tabung aluminium sehingga memungkinkan menuju titik serang semakin sempurna. Roket ini memiliki daya jangkau hingga mencapai 32 km. "Jangan heran, bila roket ini sering digunakan untuk latihan militer," pungkas Soewarto. faisal chaniago

Sumber :
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/129359








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL