Kompetensi Utama

Layanan


Pesawat Nir Awak, Tak Terlacak Radar
Penulis : • Media : • 08 Sep 2013 • Dibaca : 14554 x ,

Pesawat nir awak ini tidak hanya untuk keperluan militer, tapi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam melaksakan pembangunan ekonomi.

Sejauh ini teknologi pesawat tanpa awak telah dikuasi ilmuwan asal Amerika Serikat, Inggris, Jerman, China, Rusia dan Israel. Pesawat nir awak sering digunakan untuk membantu militer dalam pertempuran. Pesawat yang dapat dikontrol dari jarak jauh ini digunakan untuk mengintai wilayah strategis yang akan dilumpuhkan.

Kini ilmuwan Indonesia juga mampu mengembangkan pesawat tanpa awak. Pusat Teknologi Perbangan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil merancang pesawat tanpa awak bernama LSU – 02. Pesawat pengintai ini telah dicoba oleh Angkatan Laut Indonesia di KRI Frans Kaisiepo dan KRI Diponegoro. Hasilnya, cukup memuaskan.

Ari Sugeng, Kepala Bidang Avionik Pusat Teknologi Perbangan, menceritakan Lapan bersama angkatan laut telah melakukan simulasi pengintaian terhadap musuh yang berada di tengah laut. LSU – 02 berhasil mengumpulkan data-data, termasuk data kekuatan personil dan persenjataan dimiliki kapal yang mau diserang.

Spesifikasi pesawat tanpa awak LSU – 02 menggunakan mesin piston 2T /33cc, panjang bentang sayap 250 cm, panjang badan 200cm, cruising speed90 km/jam, dan maksimum jarak tempuh 200 kilometer (Km). Pesawat ini juga telah dilengkapi sistem terbang otomatis (autonomous flying system), tidak lagi menggunakan remote kontrol, dan menggunakan bahan bakar mesin oktan 95.

Karena menggunakan sistem terbang otomatis, kata Ari, ketika akan terbang pesawat ini tinggal diatur sedemikian rupa. Setelah itu pesawat akan terbang sendiri menuju titik-titik yang telah tentukan untuk memotret data sesuai instruksi. Kelebihan LSU – 02 adalah sulit dilacak oleh radar karena volume suara mesinnya sangat rendah.

"Untuk operasi intelijen LSU – 02 sangat bagus digunakan," katanya ketika ditemui di Pusat Teknologi Perbangan Jalan Raya Lapan – Rumpin, Serpong, Tangerang, Provinsi Banten, belum lama ini.

Apabila pesawat mengemban misi intelejen, maka akan menyusup ke daerah yang telah ditentukan. "Pesawat tanpa awak dapat membantu intelijen dalam mencari data. Setelah data terkumpul baru dilakukan penyerbuan, " tutur Ari.

Selain LSU – 02, Pusat Teknologi Perbangan telah membuat pesawat tanpa awak jenis LSU – 01. Pesawat ini menggunakan bahan streofoam. Karena menggunakan bahan streofoam, beban LSU – 01X menjadi ringan dan tahan air.

Terbang Otomatis

Spesifikasi LSU-1 dengan panjang badan badan sekitar 115 cm, panjang bentangan sayap (wing span) 168 cm. LSU – 01 dilengkapi komunikasi telemetri di 900 MHz dengan daya 1 Watt dan sistem terbang otomatis (autonomous flying system). Pengguna tidak perlu dikontrol lagi sebab pesawat telah bekerja secara otomatis, sesuai aturan yang telah dibuat teknisi.

Jenis pesawat tanpa awak lainnya ada LSU – 03 dan LSU – 04. Panjang bentang sayap LSU – 03 mencapai 3500 mm, panjang pesawat 2500 mm, berat 24 kg, dengan kecepatan terbang mencapai 100 km/jam, (red - kecepatan maksimum 150 km/jam). Spesifikasi mesin menggunakan 2 Tax 100ccdengan bahan bakar jenis Pertamax Plus dan oil full sintetic. Kapasitas bahan bakar 7 liter dengan lama terbang maksimum selama 6 jam.

LSU – 03 terbuat dari GFRP, menggunakan plywood sebagai penguat dengan konsep semi monocoque. Landing gear utama dan depan dibuat dengan menggunakan bahan GFRP diperkuat plywood dan roda karet.

Untuk kebutuhan sumber daya listrik berasal dari baterai lippo yang diinstal dipesawat. Pada saat take off dan landing LSU – 03 menggunakan kendali manual dengan RC (Radio Control). Ketika menjalankan misi dapat terbang secara autonomous yang sudah diatur di ground control station."Selama di udara pesawat bisa menjalankan tugasnya dengan baik," tambah Ari.

Adapun tipe LSU-04 memiliki ukuran lebih besar dari panjang bentang sayap mencapai 4000 mm dan panjang 3200 mm. Kecepatan Terbang LSU -04 mencapai 100 km/jam, maksimum kecepatan 160 km/jam, muatan maksimum 18 kg, mesin 11 HP, jenis bahan bakar yang digunakan sama dengan LSU – 03 yaitu Pertamax Plus dan oli full sintetic, dengan kapasitas bahan 8 liter dan lama terbang maksimum 6 jam.

Menurut Ari beberapa jenis pesawat karya anak bangsa ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan produk militer dari luar negeri. "Memiliki pesawat tanpa awak hukumnya sudah wajib. Keberadaannya terkait dengan pertahanan negara," terangnya.

Pesawat nir awak ini, lanjut Ari, tidak hanya untuk keperluan militer tapi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah dalam melaksakan pembangunan ekonomi. Misalnya, melakukan pemoteratan atau pendataan sawah dan lahan-lahan untuk pertanian.

"Itu telah kita lakukan di bilangan Subang, Jawa Barat. Kita melakukan pemetaan sawah untuk memajukan pertanian. Melalui pemetaan tersebut, kita bisa membuat sebuah analisa tentang kondisi sawah, lalu membuat sebuah proyeksi masa depan sawah," tambahnya. Dengan kata lain, pesawat tanpa awak dapat digunakan untuk program ketahanan pangan dengan cara pemantauan sawah, yang nanti dapat memajukan pertanian. Faisal chaniago

Sumber :
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/128201








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL