Kompetensi Utama

Layanan


Meteor Jatuh Bukan Tanda Kiamat
Penulis : • Media : • 25 Mar 2013 • Dibaca : 38283 x ,

JAKARTA – Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), T Djamaluddin, mengatakan fenomena meteor jatuh di Chelybinsk, Pegunungan Ural, Rusia, dan sempat melintas di California, Amerika Serikat, bukanlah sebuah awal kiamat. Menurut lulusan Department of Astronomy, Kyoto University, Jepang itu, jatuhnya meteor di Rusia dan yang terlihat di California hanya peristiwa antariksa yang bersifat sporadis.

"Meteor jatuh di Rusia dan yang terlihat di California pada 15 dan 16 Februari lalu hanya peristiwa biasa, tak ada dampak apa pun," kata Djamaluddin, di Jakarta, Minggu (24/3). Dia menjelaskan benda antariksa jatuh biasanya memasuki atmosfer Bumi pada ketinggian sekitar 100 kilometer. Benda itu terdiri dari sampah antariksa dan meteorit.

Sampah antariksa terdiri dari bekas roket atau satelit dan pecahannya yang secara umum dapat diperkirakan waktu dan lokasi jatuhnya berdasarkan basis data sampah antariksa. Misalnya, sampah antariksa bekas motor roket Rusia yang jatuh di Gorontalo pada 1981 dan Lampung pada 1988.

Adapun benda meteorit berasal dari batuan di tata surya yang terdiri dari pecahan asteroid, komet, atau batuan tata surya lainnya. Secara umum, batuan tata surya dinamakan meteoroid. Ketika memasuki atmosfer Bumi dan membara, fenomena tersebut dinamakan meteor. Saat bersisa mencapai permukaan Bumi disebut meteorit. "Waktu dan lokasi jatuh meteorit tidak bisa diperkirakan karena terkait dengan meteor sporadis atau tak tentu waktunya. Selain meteor sporadis, ada hujan meteor yang waktu dan arah munculnya tertentu. Hujan meteor disebabkan masuknya debu-debu sisa komet yang ukurannya kecil sehingga habis terbakar hanya dalam waktu beberapa detik," urai dia.

Indonesia, kata dia, pernah kejatuhan meteorit sebesar buah pepaya di Pontianak pada 2003. Meteorit besar yang diperkirakan berukuran 10 meter pernah jatuh di perairan Bone, Sulawesi Selatan, Oktober 2009. Peristiwanya menyebabkan ledakan setara 50 kiloton TNT atau tiga hingga empat kali kekuatan bom atom Hiroshima. Menurut dia, batuan dan debu antariksa atau meteoroid memasuki Bumi lebih dari 25.000 ton per tahun dalam berbagai ukuran.

"Debu mikrometeoroid memasuki Bumi tanpa proses terbakar, turun secara perlahan. Untuk batuan, termasuk yang kompisisi utamanya logam, semakin besar ukurannya, tambah jarang masuk ke Bumi. Untuk ukuran kecil, sebesar bola kaki, rata-rata 500 meteorit yang jatuh per tahun. Secara umum, bahaya benda jatuh disebabkan tumbukannya.

Tetapi kemungkinan tumbukan mengenai manusia atau fasilitas sangat kecil. Karena sepanjang sejarah manusia, dari sekian banyak meteorit, hanya ada beberapa kasus yang jatuh mengenai manusia atau fasilitas seperti rumah atau mobil. "Dari segi bahaya lainnya, hanya sampah antariksa yang perlu diwaspadai karena mungkin mengandung bahan kimia beracun atau radiasi nuklir. Sedangkan meteorit secara umum seperti batuan Bumi lainnya, tidak beracun dan tidak mengandung radiasi nuklir," ujar dia.

Seperti diketahui, pada 15 Februari, meteorit jatuh di wilayah Chelybinsk, Pegunungan Ural, atau sekitar 1.500 kilometer sebelah timur ibu kota Moskwa. Akibat jatuhnya meteor di Rusia, ratusan orang lukaluka. Lesatan meteor kabarnya sempat terlihat melintas di wilayah California, Amerika Serikat. "Itu semua jelas bukan awal kiamat. Meteor adalah peristiwa biasa seperti hujan," kata dia. ags/G-1

Sumber :
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/115378








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL