Kompetensi Utama

Layanan


Kemristek Luncurkan Pesawat Tanpa Awak
Penulis : • Media : • 31 Jul 2013 • Dibaca : 44498 x ,

Jurnas.com | KEMENTERIAN Riset dan Teknologi (Kemristek) akan memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 tahun 2013. Puncak peringatan Hakteknas tahun ini akan dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII) Jakarta Timur bulan Agustus 2013 dengan mengangkat tema “Inovasi Untuk Kemajuan Bangsa”.

Menristek Gusti Muhammad Hatta menjelaskan Peringatan Hakteknas dimulai sejak penerbangan perdana pesawat N-250 karya IPTN pada 10 Agustus 1995. Tahun ini, kata Menristek, secara khusus akan difokuskan pada teknologi pertahanan dan keamanan (Hankam) dan Kedirgantaraan.

“Tahun ini, peringatan Hakteknas akan diluncurkan roket, satelit dan pesawat tanpa awak menjadi produksi dalam negeri,” kata Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat bincang-bincang dengan Direktur PT Media Nusa Pradana (Penerbit Harian Jurnal Nasional), Marwan Hanif didampingi Marketing Manajer, Andhre Rahendra Adityawarman dan Kepala Newsroom, Jan Prince Permata, di Kantor Kemristek, Jakarta, Rabu (31/7).

Pada kesempatan itu, Menristek didampingi oleh Staf Ahli Kemenristek Bidang Hankam, Teguh Rahardjo, Kepala Bagian Humas dan Protokol, Qiqi Asmara dan beberapa pejabat Kemristek.

Menurut Menristek, peluncuran roket akan dilaksanakan pada tanggal 16 dan 29 Agustus 2013 dan akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kemristek, kata Menristek, telah mampu membuat roket dengan jarak tempuh 60 kilometer. Peluncuran roket yang sudah mapan saat ini adalah 60 kilometer. Kedepan, Kemristek akan menargetkan bisa membuat roket dengan jarak tempuh 100 kilometer.

“Pembuatan roket ditargetkan tiga digit. Artinya roket yang akan diproduksi bisa mencapai daya luncur 300 kilometer,” katanya.

Menristek menjelaskan salah satu kegiatan yang diselenggarakan Kemenristek dalam menyambut Hakteknas ke-18 adalah pameran dan peluncuran produk teknologi hankam dan kedirgantaraan.

Pada 24 Juni 2013 lalu, Menristek bersama Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro melaunching beberapa produk dari Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), Ristek maupun BUMN yaitu Satelit Lapan A2 dan Roket RX-450 dari Lapan, Card Reader dan Peisalah dari BPPT. Selain itu, Kendaraan Taktis (Rantis) Komodo 4x4, Sniper Rufle, dan Cloud Seeding Agent Club dari PT. Pindad, Combat Management System (CMS), Tactical Data Link Solution (LenLINK), dan Radar Processing and Display Cpnsole dari PT Len, Dayaprime Pentoline Booser dari PT Dahana, KSW500 Steel Plate atau baja tahan peluru dari PT Krakatau Steel, serta hexarotor dan flying car dari ITB.

Selain itu, beberapa produk juga akan dipamerkan seperti Pesawat Udara Nir Awak (Puna) dalam tiga varian, yaitu Wulung, Alap-Alap, dan Sriti dari BPPT, serta UAV LSU 02 dan Roket R-HAN 122 dari Lapan.

PT Dirgantara Indonesia menampilkan beberapa maket pesawat, diantaranya N 212, N 235, N 295 dan N 219, sedangkan Kementerian Pertahanan juga akan menampilkan beberapa model kapal angkut tank, kapal cepat rudal dan panser.

Menurut Menristek, semarak Hakteknas 2013 ini menjadi salah satu tanda, bahwa bangsa Indonesia telah menyadari pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu-satunya lokomotif bagi kemajuan bangsa pada masa mendatang.

“Tujuan peringatan Hakteknas adalah memberikan penghargaan kepada putera dan tokoh bangsa yang telah menyumbangkan teknologi,” katanya sembari menambahkan, penghargaan kepada tokoh panutan di bidang pengembangan teknologi tidak dilakukan setiap tahun karena kriterianya tidak mudah.

Menristek mengungkapkan, ada lima kategori pemberian anugerah bidang Iptek yaitu Budhi pura (Anugerah Iptek kategori Pemerintah Propinsi), Labdha Kretya (Anugerah Iptek kategori Kreativitas dan Inovasi); Prayogasala (Anugerah Iptek kategori Duta Iptek), dan Widyamaheswara (Anugerah Iptek kategori panutana/tokoh Iptek).

Dia juga menyampaikan, salah satu tugas Kemenristek adalah mengkoordinasikan dan membuat kebijakan di bidang penelitian dan pengembangan teknologi. “Itu yang kita lakukan dengan mengkoordinasikan litbang-litbang yang ada,” katanya.

Dia juga berharap teknologi yang dihasilkan bisa diproduksi secara massal sehingga bermanfaat bagi masyarakat untuk memecahkan permasalahan yang dibutuhkan.

Pada bagian lain, Menristek menyinggung tentang kekurangan dana untuk melakukan riset. Menurutnya, anggaran riset dan teknologi di negara lain minimal 1 persen dari APBN. Bahkan ada negara yang mencapai di atas 3 persen dari APBN. Negara yang paling tinggi yang mengalokasikan anggaran penelitian adalah Israel.

“Saat ini, kita baru 0,08 persen dari APBN atau sekitar Rp10,5 triliun untuk anggaran riset,” katanya.

Pesawat Tanpa Awak

Menristek juga memuji Menhan Purnomo Yusgiantoro karena sangat agresif mendorong pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan. Kemhan telah memesan pesawat tanpa awak.

“Saya senang dengan Kemhan karena cukup agresif, misalnya meminta dibuatkan pesawat tanpa awak. Jadi Kemhan komitmen menggunakan produksi dalam negeri,” katanya.

Staf Ahli Kemristek Bidang Hankam, Teguh Rahardjo menambahkan, Kemhan telah memesan 8 pesawat tanpa awak. Tahun 2013 ini akan diselesaikan 3 unit dan 5 unit pesawat tanpa awak akan diselesaikan tahun 2014.

Ditanya mengenai harga perunit pesawat tanpa awak, Teguh menjelaskan, sebagai gambaran adalah untuk 3 unit seharga Rp19 miliar.

Menurutnya, pesawat tanpa awak ini sangat bagus untuk melakukan foto udara terutama di daerah yang sulit.

Saat ini, Kemristek juga sedang menjalin kerja sama dengan Korea Selatan untuk pembuatan kapal selam, dan pesawat tempur jenis KFX yang lebih canggih dari pesawat F16.

Selain itu, Indonesia sudah mampu memproduksi radar yang jangkauannya mencapai 40 kilometer. Radar ini bermanfaat untuk memantau pelanggaran seperti illegal fishing.

Sumber :
http://www.jurnas.com/news/102125








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL