Kompetensi Utama

Layanan


PBB Bahas Perubahan Iklim di Jakarta
Penulis : • Media : • 02 Sep 2013 • Dibaca : 17062 x ,

Konferensi ini juga akan meningkatkan sinergi antara komunitas antariksa dengan berbagai organisasi.

JAKARTA - Badan PBB yang mengurusi keantariksaan atau United Nations Office for Outer Space Affairs bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menyelenggarakan Konferensi Internasional. Agenda ini khusus membahas Aplikasi Teknologi Antariksa untuk Perubahan Iklim di Jakarta.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang Setiawan Tejasukmana, Senin (2/9), mengatakan ini konfrensi pemanfaatan teknologi antariksa untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pertama yang digelar di Indonesia.

Ia mengatakan isu yang dibahas dalam konfrensi ini terkait dengan cara mengantisipasi dampak perubahan iklim dengan menggunakan teknologi antariksa, khususnya teknologi penginderaan jauh, baik terkait adaptasi maupun mitigasi.

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Bappenas Endah Murniningtyas mengatakan masyarakat miskin yang berada di pesisir dan sepanjang aliran sungai menjadi pihak yang rentan terkena dampak dari perubahan iklim.

Keberadaan mereka, lanjutnya, terkadang sulit terjangkau melalui darat. Sedangkan ketersediaan data advance sangat penting jika berbicara soal mitigasi bencana. Karena itu penggunaan data awal dari teknologi antariksa di Indonesia mencapai 70 hingga 80 persen.

Sementara itu, Head of the United Nations-SPIDER Programme Bonn Office (United Nations Office for Outer Space Affairs/UNOOSA), Juan Carlos Villagran de Leon mengharapkan hasil yang bervariasi dari apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dapat dilakukan dari 30 perwakilan negara yang mengikuti konferensi terkait adaptasi dan mitigasi bencana akibat perubahan iklim.

"Ada 30 negara lebih akan memaparkan apa yang sudah dilakukan berkaitan dengan dampak perubahan iklim. PBB ingin cari 'pilot project' yang potensial yang telah dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim," ujar dia.

Salah satu alasan Indonesia dianggap pas menjadi tuan rumah dari konfrensi yang berlangsung pada 2 hingga 4 September 2013 ini karena, menurut dia, cukup relevan mengingat kerentanan Indonesia sebagai negara kepulauan terhadap perubahan iklim, sehingga perlu selalu siap mengantisipasi keadaan.

Konferensi yang berlangsung selama tiga hari menghadirkan pakar-pakar di bidang teknologi antariksa dan perubahan iklim serta para pengambil keputusan dari berbagai negara. Sedangkan tujuan konferensi dilakukan antara lain untuk menghitung tingkat kerentanan suatu negara atau wilayah terhadap perubahan iklim dan mengidentifikasi alternatif potensial terkait upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Selain itu, konferensi ini juga akan meningkatkan sinergi antara komunitas antariksa dengan berbagai organisasi terkait perubahan iklim. Sinergi ini tentunya akan memperkuat kerja sama regional dan internasional.

Fenomena global seperti perubahan iklim berpotensi mengancam dimensi-dimensi pembangunan berkelanjutan seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan. Konferensi internasional ini diharapkan dapat mendiskusikan peran teknologi antariksa yang memiliki kemampuan untuk mengobservasi variabel-variabel perubahan iklim. Yang berubah ini termasuk muka air laut (sea level rise), trend deforestasi atau emisi karbon, dan parameter lainnya yang sulit dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan seperti semakin berkurangnya es di kutub.

Sumber :
http://www.shnews.co/detile-24256-pbb-bahas-perubahan-iklim-di-jakarta.html








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL