Dalam seminar tersebut, digali berbagai masukan terkait arah penyelenggara keantariksaan Indonesia ke depan termasuk bidang teknologi roket, satelit dan aeronautika.

"Penguasaan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) antariksa sangat penting dan telah dimandatkan dalam UU 21/ 2013 tentang Keantariksaan, oleh karenanya arah keantariksaan dalam rencana induk keantariksaan hingga 25 tahun ke depan harus jelas," kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/12).

Thomas mengatakan, Indonesia tidak ingin ketinggalan dengan India yang merupakan satu-satunya negara di Asia yang telah berhasil memasuki orbit Mars. Menurut dia, Indonesia terus mengembangkan pesawat dan yang terbaru adalah N219.

N219 merupakan pesawat yang didesain untuk memenuhi spesifikasi kebutuhan industri penerbangan di Indonesia yang berkarakteristik landasan pendek. Pesawat yang memiliki nilai investasi hingga Rp 400 miliar ini rencananya akan diuji coba pada akhir 2015 mendatang dan diproduksi pada 2016.

"Pesawat ini sudah mendapat sertifikasi layak terbang, Lapan selaku periset akan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dari sisi pasar terbukti memiliki keunggulan," katanya.

Sebelumnya Lapan telah mengembangkan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/ UAV) Surveillance atau yang dikenal dengan LSU yang terdiri dari seri 01, 02 dan 05 untuk kebutuhan penginderaan tanpa terkendala awan maupun pemantauan aktivitas laut. "LSU 05 rencananya bulan ini diterbangkan," katanya.

Sementara terkait pengiriman astronot yang telah dilakukan oleh India dan Singapura, Thomas mengatakan Indonesia lebih terkendala oleh anggaran, bukan lantaran ketidakmampuan teknologi maupun skala industri.

Penulis: Yosi Winosa/LIS

Sumber: http://www.beritasatu.com/iptek/232145-kepala-lapan-penguasaan-iptek-antariksa-sangat-penting.html