Kompetensi Utama

Layanan


Seminar Depanri, Susun Rencana Induk Keantariksaan Nasional 25 Tahun
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 10 Dec 2014 • Dibaca : 56742 x ,

Kepala Lapan menjelaskan bahwa pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa akan dapat mendukung program-program prioritas pemerintah.

Lapan menyelenggarakan Seminar Dewan Penerbangan Nasional RI bertema Penguasaan Teknologi Keantariksaan Menuju Kemandirian. Kegiatan ini berlangsung di Gedung II BPPT, Jakarta, Rabu (10/12). Seminar bertujuan untuk menghimpun masukan guna penyusunan draft rencana induk penyelenggaraan keantariksaan nasional, khususnya untuk penguasaan teknologi roket, satelit, dan aeronautika.

Menurut Kepala Pusat Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Husni Nasution, seminar ini merupakan implementasi dari Undang-undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan. Dalam undang-undang tersebut terdapat amanat untuk menyusun rencana induk keantariksaan selama 25 tahun.

Dalam sambutannya, Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa kegiatan ini akan mendukung progam-program prioritas pemerintah yang terdapat dalam program Nawacita. Ia menjelaskan, rencana induk yang akan disusun tersebut nantinya akan memberikan warna bagi dunia penerbangan dan antariksa nasional dalam kerangka mewujudkan program-program pemerintah.

Rencana induk keantariksaan tersebut sangat penting bagi Indonesia. Thomas menjelaskan, visi pemerintah untuk menjadi bangsa yang maju dan mandiri tidak dapat lepas dari teknologi keantariksaan. Meskipun ada anggapan bahwa teknologi tersebut berisiko tinggi dan berbiaya mahal, namun saat ini kehidupan sehari-hari manusia sangat bergantung dengan teknologi ini. Ia mencontohkan, saat ini komunikasi dan perbankan sangat membutuhkan satelit yang merupakan bagian dari teknologi antariksa. Untuk itulah, Indonesia perlu untuk mandiri di bidang ini, apalagi pemerintah memiliki berbagai program kemaritiman yang tidak dapat lepas dari kegiatan keantariksaan.

Indonesia termasuk negara yang berani menggunakan satelit sejak lama. Thomas mengatakan, hal ini terbukti dari penggunaan satelit Palapa pada 1976. Saat itu, Indonesia merupakan negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Kanada yang memanfaatkan satelit komunikasi. Kini, waktunya Indonesia berusaha untuk dapat menguasai teknologi antariksa sehingga mampu mandiri di bidang ini.

Thomas menambahkan, Lapan selama ini juga telah berupaya untuk mencapai kemandirian bangsa di bidang penerbangan dan antariksa. Lapan juga terus mendukung program-program pemerintah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa seperti bidang sains antariksa dan atmosfer, bidang teknologi kedirgantaraan, bidang aplikasi antariksa yaitu penginderaan jauh, dan kebijakan keantariksaan.

Ia menjelaskan, di bidang sains antariksa, Lapan saat ini menjadi satu-satunya lembaga yang mengkaji cuaca antariksa. Cuaca antariksa sangat perlu dipelajari karena sekarang banyak kegiatan ekonomi yang bergantung dengan penggunaan teknologi yang diletakkan di antariksa, seperti satelit. “Dengan demikian, jika tidak diatasi, cuaca antariksa dapat mengganggu teknologi antariksa tersebut sehingga akan berdampak bagi ekonomi,” ujarnya.

Di bidang teknologi satelit, Lapan telah berhasil membangun satelit mikro. Satelit pertama telah diluncurkan pada 2007 dan satelit kedua, Lapan A2, tahun depan akan diluncurkan. Kepala Lapan juga memaparkan bahwa Lapan sedang membangun satelit ketiga, Lapan A3. Saat ini, satelit tersebut sedang diintegrasi dan diharapkan pada akhir 2015 dapat diluncurkan. Selain satelit mikro, Thomas mengatakan, Lapan beserta berbagai instansi juga sedang merancang satelit nasional yang ukurannya lebih besar, yaitu 500 kilogram.

Di bidang penginderaan jauh, Lapan telah diminta untuk menyediakan data penginderaan jauh untuk semua instansi pemerintah. Dengan demikian, akan meningkatkan efisiensi dalam perolehan data penginderaan jauh bagi instansi pemerintah.

Selain teknologi yang barkaitan dengan antariksa, Lapan juga berupaya menumbuhkan kembali teknologi penerbangan Indonesia. Ia mengatakan bahwa Lapan dan PT DI dipercaya membangun pesawat N219. Pesawat ini akan mampu melayani pulau-pulau kecil di nusantara.

Tidak hanya berupaya mengembangkan keantariksaan nasional melalui teknologi, Lapan juga memajukan bidang ini dalam bidang kebijakan. Salah satunya melalui Undang-undang No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Lapan juga menyusun berbagai strategi dan aturan dalam penyelenggaraan keantariksaan . Penyusunan rencana induk keantariksaan ini merupakan strategi dalam mengembangkan keantariksaan nasional untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri.

Upaya mengembangkan keantariksaan nasional ini memperoleh dukungan dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. M. Nasir. Ia mengatakan bahwa akan mendukung perkembangan teknologi keantariksaan bagi kemakmuran bangsa Indonesia.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL