Kompetensi Utama

Layanan


Penginderaan Jauh Mampu Hitung Luas Sumber Api Kebakaran Hutan
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 17 Dec 2014 • Dibaca : 41577 x ,

Deputi Bidang Penginderaan Jauh membuka Sosialisasi dan Focus Group Discussion Pemanfaatan VIIRS Nighttime Fire untuk Mitigasi Kebakaran Hutan atau Lahan bagi Pemangku Kepentingan.

Kebakaran hutan merupakan masalah yang terus terjadi setiap tahun. Pengaruh kekeringan yang disebabkan oleh El Nino memberikan dampak yang besar terhadap terjadinya kebakaran hutan. Vegetasi dan hutan yang lebih kering tersebut akan mudah tersulut api. Untuk itu, diperlukan penginderaan jauh yang dapat memberikan data untuk memantau bencana ini.

Hal tersebut dipaparkan oleh Deputi Bidang Penginderaan Jauh Lapan, Dr. Orbita Roswintiarti, saat membuka Sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) Pemanfaatan VIIRS Nighttime Fire untuk Mitigasi Kebakaran Hutan atau Lahan bagi Pemangku Kepentingan. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Training Kedeputian Penginderaan Jauh Lapan, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (17/12).

Orbita melanjutkan, saat ini teknologi semakin berkembang begitu pula dengan data satelit. Resolusi satelit penginderaan jauh kini semakin tinggi sehingga semakin baik digunakan untuk mendeteksi hotspot (titik panas). Apalagi saat ini dengan adanya satelit NPP dengan sensor VIIRS dan satelit-satelit yang telah digunakan, pemantauan wilayah Indonesia dapat dilakukan minimal empat kali dalam sehari.

Menurut Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan, Dr. M. Rokhis Khomarudin, satelit NPP memperkaya jumlah satelit penginderaan jauh untuk memantau hotspot. Satelit ini memiliki kemampuan yang memungkinkan untuk menghitung luas sumber titik api yang dideteksi sehingga sangat bermanfaat bagi pemantauan kebakaran hutan dan lahan.

Dengan adanya data dari satelit tersebut, saat ini dimungkinkan untuk pengembangan model untuk mendeteksi kebakaran hutan di malam hari dengan resolusi lebih tinggi. Hal ini disebabkan, satelit tersebut mampu memperlihatkan anomali yang terjadi di malam hari. Cara kerja satelit penginderaan jauh dalam mendeteksi kebakaran hutan yaitu dengan mendeteksi adanya kenaikan suhu di permukaan suatu wilayah.

Bukan hanya mendeteksi kebakaran hutan saja, Peneliti Lapan Yenni Vetrita mengatakan bahwa informasi penginderaan jauh dapat memberikan informasi terkait posisi atau lokasi sumber panas. Dengan demikian, dapat diketahui pula arah dan lokasi sumber asap dan area bekas kebakaran. Informasi tersebut akan menjadi input utama dalam menghitung emisi yang dihasilkan dari kebakaran hutan atau lahan tersebut.

Guna melakukan mitigasi bencana kebakaran hutan, data satelit diperlukan bukan hanya untuk mendeteksi. Data tersebut dimanfaatkan pula untuk pencegahan, pengendalian, dan penegakan hukum. Deputi Bidang Teknologi, Sistem, dan Monitoring BP-REDD+, Dr. Nurdiana Darus, mengatakan bahwa terdapat tiga fase pemanfaatan penginderaan jauh dalam kebakaran hutan. Fase tersebut yaitu pencegahan, pengendalian, dan penegakan hukum. Penginderaan jauh dapat digunakan untuk memprediksi potensi kebakaran hutan dan membantu upaya dalam mengendalikan kebakaran. Selain itu, dengan data penginderaan jauh, dapat dideteksi pula kemungkinan adanya pelanggaran hukum dalam terjadinya kebakaran hutan.

Mengingat pentingnya data penginderaan jauh dalam memantau kebakaran hutan, Lapan selama ini aktif dalam menyediakan data tersebut. Data tersebut dapat diakses oleh publik di website http://modis-catalog.lapan.go.id.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL