Kompetensi Utama

Layanan


SPICA dan ASTINA Berikan Layanan Informasi Sains Antariksa dan Atmosfer
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 27 Jan 2014 • Dibaca : 46292 x ,

Kepala Pusat Sains Antariksa menjelaskan mengenai berbagai pengamatan di ruang SPICA.

Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana, meresmikan ruang Atmospheric Science and Technology Information System (ASTINA) dan ruang Sistem Pemantauan dan Informasi Cuaca (SPICA). Peresmian berlangsung di kantor Lapan, Bandung, Jawa Barat, Senin (27/1).

ASTINA dan SPICA merupakan ruang untuk edukasi di bidang kedirgantaraan. Ruang SPICA berisi monitor-monitor yang menyampaikan informasi mengenai hasil pengamatan antariksa Lapan. informasi tersebut yaitu pengamatan matahari optik dan radio secara real time, sun spot, satelit yang melintas di wilayah Indonesia, frekuensi komunikasi radio antar lokasi, data ionosonda real time, prediksi komunikasi radio bulanan dan prediksi kemunculan sintilasi bulanan, serta pemantauan geomagnet secara near real time atau dengan jeda lima hingga sepuluh menit. SPICA ini sebelumnya merupakan ruang monitor yang digunakan bersama oleh Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA).

ASTINA merupakan ruang tampilan multimedia yang berisi sistem informasi di bidang sains dan teknologi atmosfer. Ruang ini dibangun sebagai komponen dari sistem pendukung untuk memberikan informasi bagi masyarakat. informasi yang diberikan yaitu mengenai pengamatan atmosfer berbasis satelit dan radar.

Ruang ASTINA memiliki beberapa komponen. Komponen Arjuna (Atmospheric Journey Arcade) merupakan media visual tiga dimensi. Dengan alat simulasi ini, pengguna dapat merasakan penjelajahan ke dalam atmosfer bumi dan melihat permukaan bumi dari perspektif luar angkasa. Komponen berikutnya yaitu Nakula (Inovasi Kompetisi Utama Lapan-PSTA). Nakula merupakan presentasi multimedia berisikan informasi mengenai profil PSTA dan Lapan, serta informasi sains dan teknologi Atmosfer. Berikutnya yaitu, Bima (Bimbingan Interaktif Model Atmosfer). Bima adalah alat simulasi interaktif untuk mempelajari perilaku atmosfer. Selanjutnya yaitu Sadewa (Satellite Disaster Early Warning System) atau sistem peringatan dini bencana berbasis MTSAT. Komponen terakhir yaitu Yudistira (Yearn Understand Issues Science and Technology Research of The Atmosphere) untuk memahami isu dalam riset sains dan teknologi atmosfer.

Deputi Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa SPICA dan Astina bertujuan untuk memperkenalkan sains antariksa dan atmosfer kepada masyarakat secara nyata. Selain itu, ini juga merupakan bentuk pelayanan Lapan kepada masyarakat dalam memberikan informasi megenai hasil litbangnya. “Dalam memberikan informasi, harus berdasarkan litbang. Dengan demikian, informasi tersebut dapat mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan,” ujarnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala Lapan mengatakan bahwa informasi yang dimiliki Lapan merupakan pengetahuan yang harus dimanfaatkan. Pengetahuan tersebut harus dapat berfungsi untuk “mengingatkan.” Hal tersebut adalah aplikasi pengetahuan yang paling puncak karena untuk peringatan dini. “Untuk itu, kita harus memiliki kemampuan prediksi dengan cara mengembangkan berbagai model dengan didukung kreativitas,” ia mengatakan.



Kepala lapan melihat simulasi awan Arjuna di ruang Astina



Your Comments
Deden Habibi 2137 days ago
Alhamdulillah, Selamat bagi LAPAN!\nFasilitas ASTINA dan SPICA ini terbuka untuk umum?
Deden Habibi 2137 days ago
Alhamdulillah, Selamat bagi LAPAN!\nFasilitas ASTINA dan SPICA ini terbuka untuk umum?

Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL