Kompetensi Utama

Layanan


Data Satelit Penting dalam Kurangi Emisi
Penulis Berita : humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 19 Feb 2014 • Dibaca : 54174 x ,

Workshop ini bertujuan untuk mendukung pelaksanaan REDD+ di Indonesia melalui penggunaan data satelit observasi bumi.

Indonesia bertekad untuk mengurangi emisi sebanyak 26 persen. Target tersebut yakin dapat tercapai dengan dukungan pemanfaatan data satelit observasi bumi. Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Penginderaan Jauh, Taufik Maulana, saat membuka workshop Earth Observation Satellite Data to Support REDD+ Implementation in Indonesia, di Jakarta, Rabu (19/2).

Taufik menjelaskan, pemerintah telah melaksanakan banyak upaya untuk mencapai target tersebut. Salah satunya dengan membentuk gugus tugas Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) dan melaksanakan strategi REDD nasional.

Ada beberapa faktor untuk mengimplementasikan REDD. Taufik menjelaskan bahwa faktor tersebut yaitu sistem Measurement, Reporting, Verification (MRV). Untuk itu, keberadaan data satelit sangat penting bagi sistem REDD karena citra satelit dapat memantau wilayah yang luas, deforestasi, dan kehutanan dalam upaya menyediakan data observasi bumi. Saat ini Lapan telah mampu menerima data satelit beresolusi tinggi seperti satelit SPOT 5 dan SPOT 6. “Data-data tersebut tentunya sangat mampu untuk mendukung pemantauan hutan,” ujarnya.

Hutan memiliki arti penting bagi manusia. Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa hutan merupakan sumber penghasil karbon dioksida karena adanya kebakaran hutan, tetapi sekaligus sebagai penyerap terbesar gas tersebut.

“Lapan memiliki teknologi yang mumpuni untuk memantau hutan. Lapan telah meningkatkan stasiun bumi di Parepare sehingga dapat menerima data penginderaan jauh. Selain itu, Lapan juga melaksanakan penelitian atmosfer untuk memantau dan menghitung kadar karbon dioksida dan gas rumah kaca. Lapan selama ini juga telah berkomitmen untuk mendukung kegiatan REDD, ” kata Kepala Lapan.

Kegiatan REDD sangat penting karena tidak hanya menyangkut hutan semata . REDD juga memiliki persimpangan dengan upaya penanggulanan masalah perubahan iklim. Untuk mendukungnya diperlukan tiga pola pikir. Kepala Badan REDD+, Dr. Heru Prasetyo, mengatakan bahwa pola pikir tersebut yaitu kapabilitas, komparasi dan kompetisi, serta relasi. Kapabilitas artinya semua pihak harus meningkatkan kemampuan misalnya dengan meningkatkan akurasi data yang dimiliki dan data tersebut harus dapat mendorong adanya suatu tindakan. Untuk itu diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak.

Komparasi dan kompetisi maksudnya yaitu, data yang kita miliki diperbandingkan untuk meningkatkan kemampuan kita. Sementara itu, relasi maksudnya yaitu membangun konsolidasi dengan berbagai pihak sehingga data tersebut terpercaya. Dengan konsolidasi tersebut, data yang ada dapat dibuat analisis dan menjadi pedoman bagi pelaksanaan suatu tindakan atau regulasi.

Workshop ini merupakan pertemuan untuk saling berbagi informasi antar instansi tentang penggunaan data satelit dalam sistem pemantauan hutan. Selain itu, pertemuan ini upaya untuk menyusun strategi observasi bumi berbasis satelit dalam implementasi REDD+ di Indonesia dan juga mendukung Indonseia’s Carbon Accounting System (INCAS).


Your Comments
surat 2088 days ago
apa dampak yang paling buruk kalau emisi di kuranga

Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL