Kompetensi Utama

Layanan


Cuaca Mempengaruhi Penerbangan
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 26 Mar 2014 • Dibaca : 15577 x ,

Peneliti Senior Lapan memaparkan mengenai pengaruh cuaca pada operasi penerbangan.

Cuaca buruk dan perubahan iklim ternyata memiliki dampak bagi kegiatan penerbangan. Dampak tersebut dapat mengakibatkan keterlambatan, pembatalan, hingga kecelakaan udara. Hal tersebut disampaikan peneliti senior Lapan, Sulistyo Atmadi, saat jumpa pers Perubahan Cuaca Ekstrim di Indonesia di Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta, Rabu (26/3).

Sulistyo menjelaskan, cuaca merupakan kondisi udara di suatu daerah dalam kurun waktu yang relatif singkat. Kondisi cuaca dapat berubah sesuai dengan berubahnya komponen utama cuaca yang terdiri dari suhu, tekanan, dan kelembaban. Pesawat terbang merupakan wahana yang beroperasi di atmosfer. Sulistyo mengatakan, kondisi inilah yang menyebabkan pesawat terbang sangat bergantung terhadap informasi cuaca.

Awan dapat menjadi kendala bagi operasi pesawat terbang. Awan yang paling berbahaya adalah awan cumulonimbus. Comulonimbus merupakan awan yang tumbuh dan berkembang secara vertikal mulai dari ketinggian 1500 hingga 3500 meter di atas permukaan bumi. Sulistyo mengatakan, awan ini dapat mengakibatkan updraft, downdraft, microbust, dan wind shear.

Updraft yaitu arus angin yang bergerak ke atas akibat perbedaan temperature masa udara. Downdraft yaitu arus angin yang bergerak ke bawah akibat perbedaan temperatur massa udara. Microbust yaitu downdraft dengan kecepatan yang lebih tinggi, terjadi secara tiba-tiba dan singkat. Areanya sekitar empat kilometer dan biasanya pesawat akan mengalaminya sekitar lima hingga lima belas menit. Sementara itu, wind shear yaitu perubahan aliran udara baik arah maupun kecepatannya secara cepat dan tiba-tiba.

Kendala yang dialami pesawat terbang berikutnya yaitu turbulensi. Sulistyo menjelaskan, turbulensi yaitu kondisi udara yang mengalami pergolakan namun umumnya tidak dapat terlihat. Turbulensi disebabkan oleh suhu, jet stream, pegunungan, dan wake turbulence. Akibat turbulensi ini, pesawat dapat mengalami ketidakstabilan.

Kabut dan Es juga dapat menjadi gangguan dalam penerbangan. Kabut akan mempengaruhi jarak pandang. Sementara itu, es dapat mengganggu mekanisme pesawat. Es disebabkan oleh temperatur udara yang semakin turun di ketinggian. Kondisi tersebut membuat partikel-partikel uap air dalam awan dapat berubah menjadi kristal-kristal es.

Walaupun cuaca mempengaruhi penerbangan, Sulistyo mengatakan bahwa pesawat telah dilengkapi oleh berbagai sistem untuk mengatasi kendala tersebut. Misalnya, radar cuaca untuk menginformasikan mengenai kondisi udara yang akan dihadapi, dan anti icing system untuk mencegah terbentuknya butiran-butiran es yang timbul karena pesawat terbang dalam kondisi awan bersuhu rendah.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL