Kompetensi Utama

Layanan


Cuaca Ekstrim Picu Bencana Hidrometeorologis
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 26 Mar 2014 • Dibaca : 126010 x ,

Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lapan memaparkan mengenai perlunya mengantisipasi cuaca ekstrim.

Cuaca ekstrim sangat penting untuk dipahami. Kejadian bencana yang menimbulkan gangguan serta kerugian terhadap kehidupan manusia dan lingkungan seringkali berkaitan dengan kondisi tersebut. Untuk itu, manusia perlu mempelajarinya agar dapat mengantisipasi dan mengelola dampak cuaca ekstrim tersebut. Apalagi data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa kejadian ekstrim di dunia telah bertambah. Saat ini bumi memiliki temperature terpanas sejak 1850. Selain itu, frekuensi gelombang panas dan intensitas curah hujan di beberapa wilayah meningkat.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lapan, Dr. Didi Satiadi, saat jumpa pers Perubahan Cuaca Ekstrim di Indonesia di Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta, Rabu (26/3).

Indonesia adalah salah satu negara yang sering mengalami cuaca ekstrim. Didi menjelaskan, kondisi ini disebabkan, Indonesia sebagai negara maritim yang berada di wilayah khatulistiwa. Wilayahnya memperoleh radiasi matahari dan kandungan uap air yang sangat besar, akibatnya terjadi proses konveksi aktif yang menjadikan Indonesia sebagai penghasil awan dan hujan terbesar di dunia.

Akibat posisinya yang berada di khatulistiwa pula, menjadikan Indonesia memiliki dinamika atmosfer. Dinamika atmosfer tersebut mengakibatkan gelombang-gelombang atmosfer saling menguatkan dan melemahkan sehingga menimbulkan kejadian-kejadian ekstrim.

Cuaca ekstrim ini telah mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologis di Indonesia. Didi mengatakan, data BNPB menunjukkan bencana yang sering muncul di Indonesia yaitu hujan lebat, banjir, longsor, putting beliung, dan kekeringan.

Apa yang menyebabkan cuaca ekstrim ini. Didi menjelaskan bahwa pemanasan global dapat menjadi salah satu penyebabnya. Kondisi bumi yang semakin menghangat akan menyebabkan penguapan berlangsung lebih cepat sehingga atmosfer mengandung lebih banyak uap air. Dengan demikian, awan akan semakin tebal dan menyebabkan hujan lebih banyak.

Untuk mengatasi cuaca ekstrim dan pemanasan global tersebut, Lapan telah melaksanakan berbagai kegiatan terkait peringatan dini. Didi mengatakan, Lapan telah memantau dan memprediksi cuaca ekstrim dengan memanfaatkan teknologi satelit penginderaan jauh dan model-model atmosfer.

Salah satu hasil litbang Lapan di bidang ini yaitu Sistem Informasi Mitigasi Bencana Alam (Simba) dan Satellite Disaster Early Warning System (Sadewa). Simba berisikan informasi terkini mengenai cuaca dan iklim, potensi banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan di seluruh wilayah Indonesia berbasis data penginderaan jauh. Sementara itu, Sadewa merupakan informasi berbasis satelit untuk memprediksi cuaca ekstrim berbasis model atmosfer di wilayah Indonesia hingga resolusi 5 kilometer.

Selain itu, untuk mitigasi bencana, Lapan juga memiliki pesawat UAV untuk memantau kejadian bencana. Lapan juga menjadi salah satu RSO Sentinel Asia dari United Nation Platform for Space Based Information for Disaster Management and Emergency Response(UNSPIDER) untuk menyediakan informasi berbasis satelit dalam situasi bencana.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL