Kompetensi Utama

Layanan


Komurindo dan Kombat, Ajang Mahasiswa Belajar Bangun Satelit
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/SKW • 03 Apr 2014 • Dibaca : 49190 x ,

Peneliti Senior Lapan memaparkan mengenai Komurindo dan Kombat.

Bagaimana fisik atronaut dapat tahan terbang ke luar angkasa dengan roket? Itulah pertanyaan yang dilontarkan seorang siswa dalam diskusi bersama Peneliti Senior Lapan, Atik Bintoro, pada Jawa Timur Education Fair di Dyandra Convention Center, Surabaya, Rabu (2/4).

Atik menjelaskan bahwa seseorang yang terbang dengan menggunakan roket harus dapat menahan tekanan getaran sebesar 40 g dengan kecepatan roket 7 mach atau 1 mach sama dengan 342 kilometer per detik. “Padahal jika manusia melompat, maka kekuatan jatuhnya hanya sebanyak 1 g,” ujarnya seraya mempraktikkan melompat dari panggung dengan ketinggian 0,5 meter.

Lantas, bagaimana cara manusia dapat mengatasi gaya getaran yang besarnya empat puluh kali dari lompatan tersebut? Ia mengatakan, untuk itulah roket diberi antigravitasi agar melindungi manusia yang terbang ke antariksa.

Selain berdiskusi mengenai teknologi antariksa, Atik juga menjelaskan mengenai berbagai program edukasi keantariksaan seperti Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo) dan Kompetisi Balon Atmosfer (Kombat).

Atik menjelaskan bahwa tahun ini Komurindo akan diikuti oleh 40 tim dari berbagai universitas di Indonesia. Seluruh peserta akan bergabung di Pantai Depok, DIY, guna melaksanakan uji terbang muatan roket yang dibuatnya. Uji terbang yang sekaligus sebagai acara puncak Komurindo tersebut, akan berlangsung pada Juni 2014.

Selain berkompetisi dalam membangun muatan roket, Lapan juga menantang para mahasiswa untuk bertarung dalam Kombat. Dalam lomba tersebut, peserta diwajibkan untuk membangun muatan balon atmosfer guna pengamatan atmosfer. Menurut Atik, lomba ini bertujuan untuk membuat embrio edusat atau satelit untuk pendidikan.

Edukasi keantariksaan Lapan bukan hanya untuk mahasiswa. Atik mengatakan, para siswa SMP juga dapat mengikuti lomba roket air. Lomba tersebut diadakan dari mulai tingkat regional hingga nasional. Bahkan para juaranya akan dikirim ke tingkat Asia-Pasifik dalam pertemuan Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF).

Selain membahas mengenai program edukasi keantariksaan, Atik juga menjelaskan mengenai pesawat UAV buatan Lapan. Ia mengatakan bahwa, Lapan telah mampu membangun pesawat tanpa awak yang mampu terbang sejauh 200 kilometer secara autonomous. Keberhasilan ini telah dicatatkan di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL