Kompetensi Utama

Layanan


Workshop ASEAN: Bencana Perlu Penanganan Regional
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 15 Apr 2014 • Dibaca : 49621 x ,

Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan memaparkan keterlibatan Lapan dalam respon tanggap darurat bencana regional.

Ekosistem, perubahan iklim, dan pembangunan mempengaruhi ketahanan terhadap bencana. Hal tersebut diungkapkan oleh Perwakilan United Nations Platform for Space Based Information for Disaster Management and Emergency Response (UN-SPIDER), Shirish Ravan, dalam The ASEAN Workshop on Development of Mechanisms for Acquisition And Utilization of Space-Based Information During Emergency Response di Yogyakarta, Selasa (15/4).

Ia mengatakan bahwa ekosistem yang seimbang sangat diperlukan untuk mencegah bencana dan mengurangi dampaknya. Misalnya, kerusakan hutan akan mengakibatkan bencana lain seperti tanah longsor dan banjir. Perubahan iklim dapat menyebabkan badai berkala, iklim ekstrem, dan variabilitas cuaca. Untuk itu, diperlukan berbagai analisis guna menghindari risiko-risiko bencana. Sementara itu, pembangunan juga mempengaruhi karena saat ini negara harus dilaksanakan secara berkelanjutan untuk meminimalkan dampak bencana. Pembangunan yang berkelanjutan ini juga harus mencakup manajemen bencana.

Menurut Ravan, bencana saat ini bukan lagi isu satu negara saja, melainkan sudah menjadi isu regional dan global. Misalnya, adanya sungai yang melintas antar negara harus ditangani bersama untuk membangun peringatan dini banjir yang diakibatkan alirannya. Negara-negara yang memiliki garis pantai yang sama juga perlu berkerja sama untuk menangani dampak tsunami atau angin topan yang memberi ancaman kenaikan permukaan air laut. Ekosistem yang dimiliki bersama ini membutuhkan manajemen ekosistem yang terintegrasi sehingga menciptakan sumber daya alam yang berkesinambungan.

Informasi berbasis teknologi antariksa dapat membantu dalam menjaga keberlangsungan ekosistem. Ravan mencontohkan, dengan teknologi antariksa, kita dapat membuat peta genangan banjir sebelum terjadinya bencana, selama terjadi bencana, dan setelah bencana untuk melihat kerusakan lingkungan yang terjadi. Informasi tersebut bermanfaat untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap fakta-fakta mengenai bencana dan dampaknya. Dengan demikian, para penentu kebijakan dan pengguna akhir informasi tersebut dapat membuat keputusan yang lebih baik.

Menyadari pentingnya informasi berbasis teknologi antariksa ini bagi penanganan bencana, Ravan mengatakan bahwa setiap negara dapat memanfaatkan pakta internasional. Pakta internasional tersebut menyatakan bahwa operator satelit akan memberikan data secara gratis ketika terjadi bencana. Ini adalah bentuk penanganan bencana alam secara bersama-sama antar negara.

Indonesia, melalui Lapan juga aktif dalam penanganan bencana alam antar negara. Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan, Dedi Irawadi, mengatakan bahwa contoh dukungan terhadap pakta internasional tersebut yaitu dengan membantu pembuatan pemetaan dalam respon tanggap darurat bencana badai haiyan di Filipina. Indonesia pun juga memperoleh dukungan data dari berbagai negara ketika terjadi letusan Gunung Kelud.

Dedi menambahkan, dalam mendukung respon tanggap darurat regional, Lapan memiliki stasiun bumi di Parepare, Sulawesi Selatan, dan Rumpin, Bogor. Dengan kedua stasiun bumi tersebut, cakupan data satelit yang diterima meliputi seluruh wilayah Indonesia dan sebagian negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Kamboja, dan Vietnam. Data yang diperoleh Lapan memiliki resolusi bervariasi mulai dari yang rendah hingga tinggi seperti data satelit SPOT 5 dan 6.

Ia mengatakan, Lapan menggunakan data satelit tersebut untuk membangun Sistem Informasi Mitigasi Bencana (SIMBA) sebagai alat integrasi untuk mitigasi bencana. “Dengan sistem itu, Lapan memiliki informasi harian mengenai banjir, letusan gunung berapi, kekeringan, dan kebakaran hutan. Ini merupakan bentuk peringatan dini,” ujarnya.

Selain dengan teknologi antariksa, Dedi mengatakan bahwa Lapan juga menggunakan UAV untuk tanggap darurat bencana. Pesawat tersebut telah digunakan untuk pemantauan Gunung Merapi dan banjir di Jakarta.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL