Kompetensi Utama

Layanan


N219, Sinergi Lembaga Litbang dan Industri dalam Bangkitkan Penerbangan Indonesia
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 29 Apr 2014 • Dibaca : 40596 x ,

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan memaparkan mengenai potensi membangkitkan industri penerbangan nasional melalui pengembangan N219.

Industri penerbangan Indonesia akan segera bangkit. Hal tersebut dijelaskan Kepala Pusat Teknologi Penerbangan, Gunawan S. Prabowo, saat menjadi pembicara diskusi interaktif Kemandirian Infrastruktur Indonesia dalam Pameran Perencanaan Pembangunan Nasional di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (29/4).

Ia memaparkan, sejak adanya Undang-undang No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Lapan memiliki landasan untuk mengembangkan teknologi yang terkait dengan antariksa, termasuk juga penerbangan.

Tahun lalu, Lapan telah menyelesaikan pembangunan satelit secara mandiri. Bahkan, saat ini sudah diluncurkan konsorsium satelit nasional yang melibatkan berbagai instansi. Di bidang penerbangan, Indonesia sedang mengembangkan pesawat perintis nasional yang bernama N219. Pesawat inilah yang akan membangkitkan kembali industri penerbangan Indonesia.

Pengembangan pesawat terbang nasional sebenarnya bukan hal yang baru bagi bangsa ini. Gunawan menjelaskan, pada 1976, Lapan pernah mengembangkan pesawat perintis XT400. Selain itu juga keberhasilan Indonesia dalam menerbangkan N250.

Saat ini, yang paling cocok adalah mengembangkan N219. Gunawan menjelaskan, N219 bertujuan untuk pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur. Berbagai wilayah Indonesia, misalnya Papua, memiliki landasan terbang dengan fasilitas terbatas dan berada di ketinggian ekstrem. “Pesawat ini didesain untuk misi-misi itu,” ia menjelaskan.

Gunawan mengatakan bahwa desain pesawat tersebut selesai tahun ini. Tahun depan, pesawat akan mulai dibangun, dan pada 2016 akan diterbangkan. Nantinya, N219 akan menjadi pesawat pertama yang disertifikasi oleh badan sertifikasi nasional.

Ia mengatakan, pembangunan pesawat ini merupakan momentum baru bagi Lapan dengan adanya Pusat Teknologi Penerbangan. N219 ini juga menjadi sarana regenerasi para insinyur. Insinyur penerbangan yang ada saat ini telah mencapai usia senior. Dengan kemampuannya, para insinyur senior ini akan mewariskan keahliannya kepada generasi yang lebih muda. “Tentunya, ini akan menghidupkan kembali ahli-ahli penerbangan Indonesia,” ujarnya.

Pengembangan pesawat ini juga menjadi satu pengalaman yang penting bagi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Gunawan mengatakan, Bappenas investasi langsung ke sebuah proyek berteknologi tinggi. Hal ini merupakan tantangan bagi Lapan dan DI. Ia menambahkan, pengembangan N219 tersebut juga untuk membangun hubungan antara industri dengan lembaga penelitian dan pengembangan. Lapan sebagai lembaga penelitian akan menjadi pusat desain, sementara itu industri seperti PT DI akan menjadi pusat manufaktur.

Bukan hanya membangkitkan industri pembuatan pesawat, Gunawan menjelaskan bahwa bahkan berbagai industri terkait bidang penerbangan juga akan berkembang. Selain itu, ia melihat potensi pasar bagi N219 sangat besar. Ia menggambarkan, saat ini Kementerian Perhubungan telah membuka 170 rute penerbangan baru. Pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia meningkat 13,2 persen sementara pertumbuhan bisnis penerbangan mencapai 19 persen. Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain. Hal tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan pesawat di dalam negeri.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL