Kompetensi Utama

Layanan


KEKERINGAN TAHUN 2014: NORMAL ATAUKAH EKSTRIM?
Penulis Berita : Satgas Bencana Lapan • Fotografer : - • 30 Sep 2014 • Dibaca : 61090 x ,

Suhu permukaan laut di perairan Indonesia berdasarkan data Aqua MODIS bulan Agustus 2014 dari stasiun bumi LAPAN Pare-pare

Kejadian kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah pada pertengahan bulan September 2014 menunjukkan bahwa kebakaran lahan dan hutan masih terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan di musim kemarau tahun 2014. Hasil deteksi hotspot dari satelit Terra/Aqua yang diakuisi oleh stasiun bumi Lapan menunjukkan bahwa puncak hotspot terjadi pada tanggal 14 September 2014, dengan propinsi terbanyak adalah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Pada tanggal tersebut jumlah hotspot di Indonesia sudah melebihi 1400 hotspot.

Berita kekeringan juga diberitakan di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur juga membuat hangat berita kekeringan di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kekeringan tahun 2014 normal ataukah ekstrim? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan Lapan yang memanfaatkan data keantariksaan terutama penginderaan jauh sebagai berikut:

Berdasarkan kondisi iklim global yaitu kondisi anomali suhu permukaan laut di Nino 3.4 yang biasa digunakan sebagai Indikator kejadian El Nino menunjukkan bahwa kondisi El Nino masih normal namun ada kecenderungan lemah hingga akhir tahun 2014. Secara regional, indikator fenomena lain yang berpengaruh pada curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat adalah dipole mode index yang juga masih menunjukkan kondisi normal hingga akhir tahun 2014. Sementara itu, secara lokal dalam lingkup nasional, kondisi curah hujan di wilayah Indonesia lebih dipengaruhi oleh kondisi suhu permukaan laut di perairan Indonesia. Data MODIS dari satelit Terra/Aqua yang diterima dari stasiun bumi LAPAN Pare-pare pada bulan Agustus 2014 (Gambar 1) menunjukkan bahwa kondisi suhu permukaan laut di wilayah Laut Jawa, perairan sebelah selatan Pulau Jawa, dan perairan bagian timur Indonesia cukup dingin (25°- 28° Celcius). Hal ini mengindikasikan kurangnya penguapan untuk pembentukan awan konvektif, sehingga curah hujannya cenderung berkurang. Berdasarkan kondisi suhu permukaan laut Indonesia, potensi menurunnya curah hujan terjadi di wilayah P. Jawa, P. Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua bagian selatan, Bali dan Nusa Tenggara.

Gambar 1. Suhu permukaan laut di perairan Indonesia berdasarkan data Aqua MODIS bulan Agustus 2014 dari stasiun bumi LAPAN Pare-pare
(Sumber: http://modis-catalog.lapan.go.id/monitoring/infokatalog)

Pengaruh berkurangnya curah hujan pada bulan September 2014 tampak pada hasil analisis data MODIS dari satelit Terra/Aqua yang berupa kondisi tingkat kehijauan vegetasi dan kondisi titik panas (hotspot) sebagai indikator kebakaran hutan dan lahan. Indeks kehijauan vegetasi Normalyzed Difference Vegetation Index (NDVI) dari data MODIS periode 16 harian (30 Agustus - 14 September 2014) pada Gambar 2 menunjukkan adanya tingkat kehijauan yang rendah (berwarna kuning) di wilayah P. Jawa terutama di wilayah sepanjang pantai utara, sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara juga teridentifikasi mengalami tingkat kehijauan yang rendah. Sementara itu, tingkat kehijauan yang rendah juga nampak terlihat di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, serta di wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dan Riau, dan di wilayah Sulawesi Selatan. Adanya tingkat kehijauan yang rendah ini dapat mengindikasikan adanya potensi kekeringan tanaman pangan di wilayah sentra produksi padi di P. Jawa serta di Sulawesi Selatan. Sedangkan dari sisi kebakaran hutan, adanya tingkat kehijauan yang rendah berindikasi meningkatnya kemudahan terjadinya kebakaran hutan/lahan.

Gambar 2. Tingkat kehijauan vegetasi dari indeks NDVI menggunakan data MODIS-Aqua periode (30 Agustus - 14 September 2014)
(Sumber: http://modis-catalog.lapan.go.id/monitoring/infokatalog).

Berdasarkan data MODIS yang diterima oleh stasiun bumi LAPAN Pare-pare periode tanggal 1-28 September 2014, akumulasi hotspot tertinggi terdapat di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, kemudian di Provinsi Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Secara timeseries harian, akumulasi hotspot tertinggi terjadi pada tanggal 14 September 2014, selanjutnya pada 16, 25, dan 20 September 2014 seperti terlihat pada Gambar 3.


Gambar 3. Akumulasi hotspot periode 1 - 28 September 2014 berdasarkan data MODIS dari stasiun bumi LAPAN Pare-pare.

Selain hotspot dari data MODIS, untuk pemantauan kondisi kebakaran lahan/hutan, juga bisa digunakan informasi curah hujan dari satelit QMorph. Sistem peringatan dini yang dibuat adalah dengan mengasumsikan jika tidak terjadi curah hujan berturut-turut selama satu minggu maka dapat memicu adanya kebakaran lahan dan hutan. Lapan dalam hal ini juga memantau kondisi akumulasi curah hujan tujuh hari secara kontinu. Gambar 4 menunjukkan akumulasi curah hujan dari data QMorph selama 7 hari periode 16 – 23 September 2014, nampak sebagian wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi Selatan dan Tenggara yang berwarna putih tidak mengalami hujan pada periode tersebut. Berkurangnya curah hujan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia terutama di P. Sumatera dan Kalimantan merupakan efek Siklon Kalmaegi dan Siklon Fung Wong yang terjadi pada pertengahan hingga akhir September 2014.

Gambar 4. Akumulasi curah hujan di wilayah Indonesia periode 16-23 September 2014 berdasarkan data QMorph.

Terkait dengan potensi kekeringan untuk tanaman pangan, Lapan telah mengembangkan sistem monitoring tingkat rawan kekeringan di lahan sawah wilayah Pulau Jawa dan Bali berdasarkan indeks vegetasi dari data MODIS serta curah hujan dari data satelit Tropical Rainfall Measurement Mission (TRMM). Berdasarkan hasil analisis data periode tanggal 29 Agustus - 5 September 2014 dapat ditunjukkan bahwa di wilayah P. Jawa dan Bali berpotensi mengalami kekeringan tingkat sedang hingga ringan seperti yang terlihat pada Gambar 5 dengan warna jingga dan kuning. Hal ini perlu kewaspadaan dan tindak lanjut di lapangan agar tidak meningkat menjadi kering berat dan puso.

Gambar 5. Tingkat rawan kekeringan di lahan sawah yang dianalisis dari data MODIS dan TRMM.

Prediksi Curah Hujan Periode September - Oktober 2014

Berdasarkan hasil prediksi curah hujan dari data outgoing long wave radiation (OLR) menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Indonesia pada bulan September 2014 berada sedikit di bawah normal dengan perbedaan sekitar 0-10 mm yang tidak berpengaruh signifikan terhadap curah hujan normalnya pada musim kemarau seperti biasanya (Gambar 6). Curah hujan di bawah normal ini diprediksikan tidak akan berlangsung lama karena pada bulan Oktober 2014 curah hujan akan berlangsung seperti kondisi biasanya (normal) bahkan ada beberapa wilayah yang sedikit di atas normal terutama di wilayah equator. Sementara itu di Pulau Jawa, walaupun tampak di bawah normal pada bulan Oktober, curah hujan sudah nampak dengan kisaran antara 50-150 mm per bulan sehingga mencukupi kebutuhan curah hujan minimum untuk tanaman pangan terutama di Jawa Barat yang berada di atas 100 mm.

Gambar 6. Estimasi curah hujan pada bulan September dan Oktober 2014

Dari hasil pengamatan  dan analisis data penginderaan jauh dan data keantariksaan lainnya dapat disimpulkan bahwa kondisi musim kemarau pada tahun 2014 tidak perlu di khawatirkan namun kewaspadaan  dan antisipasi terhadap dampak kekeringan masih perlu dilakukan terutama di Pulau Jawa dan wilayah-wilayah yang rawan kebakaran lahan/hutan. Khusus untuk kebakaran lahan/hutan, bila curah hujan tidak terjadi berturut-turut selama satu minggu saja, sudah dapat memicu terjadinya kebakaran lahan dan hutan. 



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL