Kompetensi Utama

Layanan


HOTSPOT: HANYALAH INDIKATOR BUKAN KEJADIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN
Penulis Berita : Satgas Bencana Lapan • Fotografer : - • 30 Sep 2014 • Dibaca : 45561 x ,

Berita titik api merupakan istilah rancu yang dapat menyebabkan salah interpretasi.

Sering kita membaca running text suatu berita di televisi seperti “Satelit NOAA mendeteksi 178 titik api di Provinsi Riau”. Istilah titik api ini adalah istilah rancu yang dapat menyebabkan salah interpretasi dari berita tersebut. Hal ini akan menyebabkan masyarakat bahkan dari kalangan pemerintah pusat maupun daerah, menganggap bahwa titik api adalah jumlah kejadian kebakaran lahan/hutan yang terjadi di suatu wilayah.

Padahal yang dimaksud titik api yang dideteksi dari Satelit NOAA adalah titik panas atau hotspot. Hotspot merupakan suatu area yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya yang dapat deteksi oleh satelit. Area tersebut direpresentasikan dalam suatu titik yang memiliki koordinat tertentu.

Satelit yang biasa dikenal untuk mendeteksi hotspot/titik panas adalah Satelit NOAA dan Terra/Aqua MODIS. Secara kualitas memang benar, bahwa jumlah hotspot/titik panas yang banyak dan menggerombol menunjukkan adanya kejadian kebakaran lahan/hutan di suatu wilayah. Namun secara ilmiah, masih banyak kesalahan-kesalahan (errors) yang masih perlu diperhatikan. Kesalahan-kesalahan yang sering dianggap benar dalam interpretasi titik panas/hotspot adalah sebagai berikut:

1.  Koordinat titik panas/hotspot merupakan lokasi kejadian kebakaran lahan/hutan.

Hasil penelitian Lapan menunjukkan bahwa error horizontal hotspot adalah sekitar 1 s.d 2 km dari koordinat ditunjukkan. Jadi jika melihat keakuratan data hotspot perlu dilihat dalam rentang radius 1 s.d 2 km. Hal ini dapat dijelaskan bahwa resolusi spasial (ukuran piksel dari citra) baik Satelit NOAA maupun Terra/Aqua MODIS adalah 1 km x 1 km di bagian tengah citra yang dihasilkannya. Untuk di wilayah pinggir, resolusi spasialnya bisa 2 km x 2 km, sehingga kesalahan bisa mencapai maksimal 2 km. Koordinat titik panas/hotspot adalah titik tengah dari piksel citra satelit NOAA atau Terra/Aqua MODIS. Sumber kebakaran yang diidentifikasikan sebagai hotspot dapat berada di area piksel satelit tersebut.

2.  Jumlah hotspot merupakan jumlah kebakaran lahan/hutan yang terjadi di lapangan.

Jumlah hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran lahan/hutan di lapangan. Dua kejadian kebakaran yang masih dalam radius 500 m dapat dideteksi hanya satu hotspot, dan sebaliknya kejadian kebakaran lahan/hutan yang sangat besar dapat dideteksi lebih dari 2 hotspot (Gambar 1). Bahkan satu kebakaran kecil namun panasnya sangat tinggi dapat menghasilkan lebih dari 2 hotspot. Gambar 2 merupakan contoh kebakaran di kilang minyak Cilacap dideteksi ada sekitar lebih dari 6 hotspot.

Gambar 1. Perbandingan kejadian kebakaran di lapangan dan deteksi hotspot dengan satelit (sumber: Giglio, et al (2003))


Gambar 2. Banyak hotspot yang dideteksi dari kebakaran kilang minyak di Cilacap (Khomarudin, et al (2013)

3.  Jumlah hotspot dapat dikonversi menjadi luas kebakaran.

Merujuk pada kesalahan nomer 2 maka, hotspot tidak dapat dikonversi menjadi luas kebakaran lahan/hutan. Jika hal ini dipaksakan maka kesalahan yang terjadi sangat besar. Sebaiknya untuk menghitung luas kebakaran lahan/hutan digunakan data satelit dengan resolusi lebih tinggi seperti Landsat atau SPOT. Gambar 3 merupakan contoh pemantauan daerah kebakaran lahan/hutan dengan data Landsat-8 tanggal 2 April 2014.


Gambar 3. Daerah kebakaran lahan yang dipantau dari data Landsat 8 tanggal 2 April 2014 kombinasi kanal 754 sebagai citra komposit RGB



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL