Kompetensi Utama

Layanan


Mahasiswa Belajar Penerapan Ilmu Fisika dalam Pengembangan Satelit
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 07 Oct 2014 • Dibaca : 45571 x ,

Mahasiswa Universitas Brawijaya menanyakan mengenai cara kerja satelit di antariksa.

Bayangkan kondisi antariksa yang vakum. Semua radiasi ada di luar angkasa. Perubahan temperatur pun sangat ektrem sehingga antara dua sisi satelit memiliki suhu yang sangat berbeda. Sisi satunya sangat panas, sementara sisi lainnya sangat dingin. Untuk itulah, seluruh komponen satelit harus memiliki proteksi yang baik sehingga dapat terlindung dari kondisi tersebut di antariksa.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Bidang Teknologi Muatan Satelit Lapan, Wahyudi Hasbi, saat kunjungan mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Brawijaya ke Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Selasa (7/10). Saat itu, mahasiswa menanyakan mengenai ketahanan komponen satelit di antariksa.

Kunjungan ini diikuti oleh 35 mahasiswa dan dosen pembimbing. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa juga berkeliling ke laboratorium penelitian dan pengembangan satelit Lapan. Sebelumnya, para mahasiswa ini juga memperoleh pengetahuan mengenai berbagai kegiatan Lapan dari Kepala Subbagian Publikasi Lapan, Adhi Pratomo.

Menurut dosen pembimbing, Wasis, kunjungan ini bertujuan agar para mahasiswa dapat mengetahui aplikasi ilmu yang dipelajari di kampus dalam kegiatan penelitian dan pengembangan di Lapan.

Dalam kunjungan ini, para mahasiswa juga dikenalkan pada program pengembangan satelit Lapan. Kepala Bidang Bus Satelit Lapan, Abdul Karim menjelaskan, Lapan telah memulai program pengembangan satelit sejak 2001. Hingga kini, Lapan terus meningkatkan kemampuannya dalam membangun satelit, bukan hanya yang bersifat eksperimental, namun juga untuk operasional.

Abdul Karim melanjutkan, pada 2003, Lapan bekerja sama dengan TU Berlin membangun satelit pertama buatan Indonesia yang bernama Lapan-Tubsat. Satelit yang selesai dibangun pada 2005 tersebut kemudian diluncurkan ke luar angkasa pada 2007 dengan menggunakan roket India. Ternyata, satelit berbobot 57 kilogram tersebut, hingga saat ini masih beroperasi dengan baik meskipun telah mengorbit selama tujuh tahun.

Keberhasilan pengembangan Lapan-Tubsat ini menjadi dasar dan referensi bagi Lapan untuk membangun satelit berikutnya. Lapan kemudian membangun satelit Lapan A2 yang memiliki spesifikasi lebih baik dari satelit sebelumnya. Satelit berbobot 75 kilogram tersebut telah selesai dibangun dan menunggu untuk diorbitkan ke luar angkasa. Nantinya, Lapan A2 akan melintasi Indonesia sebanyak 14 kali dalam sehari.

“Lapan A2 diintegrasikan di Indonesia. Satelit ini memiliki muatan Automatic Identification System (AIS) untuk mengidentifikasi kapal laut yang melintas di wilayah Indonesia, APRS, dan kamera,” ujarnya.

Saat ini, Lapan mengembangkan satelit berikutnya yaitu Lapan A3. Satelit yang akan membawa muatan imager tersebut, dalam tahap finalisasi desain dan akan mulai diintegrasikan tahun depan. Lapan masih akan melanjutkan pembangunan satelit eksperimental Lapan A4 dan Lapan A5 dan kemudian mengembangkan satelit operasional, seperti satelit komunikasi dan satelit penginderaan jauh.

Guna mendukung kinerja satelit yang dibangun tersebut, Abdul Karim menjelaskan, Lapan juga meningkatkan kapasitas di bidang TT&C. Lapan memiliki stasiun bumi di Jakarta dan Parepare yang dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, satelit Lapan dapat memantau seluruh wilayah Indonesia.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL