Kompetensi Utama

Layanan


N219, Simbol Peradaban Ekonomi dan Kebanggaan Bangsa
Penulis Berita : Humas/Sgd • Fotografer : Humas/Sgd • 21 Jan 2015 • Dibaca : 16716 x ,

Menristek dan Dikti didampingi Kepala Lapan dan Gubernur Jawa Barat saat melihat pesawat di PT DI.

Industri penerbangan nasional saat ini mulai bangkit. Kebangkitan ini dimulai pada 2011 saat Lapan dan PT Dirgantara Indonesia (DI) bersinergi menjalankan proyek pengembangan pesawat N219. Pengembangan tersebut berdasarkan Perpres 28 Tahun 2008 tentang industri nasional. Perpres ini menyatakan perlunya pengembangan pesawat berpenumpang kurang dari 30 orang. Untuk mewujudkannya, Lapan berperan sebagai pusat litbang kedirgantaraannya sementara itu, PT DI sebagai pusat produksi pesawatnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat rapat koordinasi dengan PT DI, Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristek dan Dikti), serta perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Bappenas, dan Kementerian BUMN. Rapat berlangsung di kantor PT DI, Bandung, Selasa (20/1).

Kepala Lapan juga menjelaskan mengenai sejarah penerbangan di Lapan. Ia mengatakan bahwa saat awal berdiri pada 1963, Lapan lebih banyak mengembangkan roket dan keantariksaan. Kemudian, pada 1970-an, Lapan mulai merancang bangun pesawat XT400, namun litbang pesawat terbang di Lapan sempat vakum dan bangkit kembali pada 2011.

Ia melanjutkan, pengembangan teknologi penerbangan wajib dilakukan oleh pemerintah. Thomas mengatakan, program N219 diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah terpencil melalui penerbangan perintis. “N219 akan dapat mendukung program cabinet presiden saat ini. Selain itu, pesawat ini akan mengembangkan industri nasional meliputi industri utama di bidang penerbangan, industri pendukung, dan industri pengoperasian pesawat. Dengan demikian, kemandirian nasional di bidang penerbangan akan dapat dicapai melalui litbang yang bersinergi dengan industri,” ujarnya.

N219, selain akan meningkatkan kemandirian nasional dalam produk transportasi udara juga akan meningkatkan ketahanan nasional. Kepala Lapan mengatakan, saat ini di daerah terpencil mengalami berbagai masalah seperti mahalnya harga komoditas dan jumlah pesawat yang terbatas padahal jumlah penumpangnya meningkat. Pesawat yang beroperasi di daerah terpencil pun banyak yang sudah melewati masa terbang. Masalah lainnya yaitu keterbatasan jumlah bandara yang mempunyai landasan pacu dengan panjang lebih dari 800 meter. Ia berharap, N219 dapat memberikan solusi terhadap masalah-masalah tersebut.

Mengingat potensi N219 tersebut, Kepala Lapan mengatakan mengenai pentingnya pola kerja sama pemerintah, litbang, dan industri untuk terlibat dalam program N219.

Pengembangan N219 ini disambut baik oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Ia mengatakan, dengan komitmen dan konsistensi yang ada dalam program N219, maka industri penerbangan nasional dapat memenuhi kebutuhan maskapai dalam negeri. Menurutnya, industri kedirgantaraan sudah saatnya dimulai. Ia berpendapat, N219 harus dilanjutkan demi peradaban ekonomi dan kebanggaan nasional.

Sementara itu, Menristek dan Dikti, M. Nasir, berharap bahwa N219 sudah dapat diperkenalkan ke publik pada 2015 dan pada 2016 sudah tersertifikasi. Ia juga berharap, pengembangan N219 akan memicu munculnya industri baru misalnya industri di bidang suku cadang pesawat. Dengan demikian proyek ini merupakan investasi jangka panjang yang bisa menjadi industri yang menguntungkan bagi Indonesia.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL