Kompetensi Utama

Layanan


Kongres Mapin 2015: Penginderaan Jauh Data Penting Hadapi Bencana
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 05 Feb 2015 • Dibaca : 43493 x ,

(Kiri-kanan) Kapusdatin BNPB, Kepala Balitbang Pertanian, Dirut TISDA BPPT, Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB, Kepala Lapan, dan Deputi IGT BIG saat menjadi narasumber dalam pertemuan ilmiah tahunan Mapin.

Perkembangan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh semakin meningkat. Dengan demikian, semakin meningkat pula kebutuhan terhadap data penginderaan jauh untuk berbagai bidang.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat menjadi pembicara dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkembangan Penginderaan Jauh di Indonesia dan Kongres Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (Mapin). Pertemuan berlangsung di Gedung Thoyib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian IPB, Bogor, Kamis (5/2).

Ia melanjutkan, kebutuhan tersebut terus diupayakan oleh Lapan untuk dapat dipenuhi dengan cara menyediakan citra satelit bagi semua instansi pemerintah. Dengan demikian, pengadaan data penginderaan jauh memiliki satu pintu di Lapan. Hal inipun sesuai dengan Undang-undang No. 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan dan Inpres No. 6 Tahun 2012 tentang penyediaan dan pengelolaan citra satelit.

Untuk menyediakan data satelit tersebut, Lapan didukung dua stasiun bumi yang berada di Parepare, Sulawesi Selatan, dan Rumpin, Jawa Barat. Kedua stasiun bumi ini telah mampu memberikan data untuk seluruh wilayah di Indonesia. Data tersebut memiliki beragam resolusi mulai dari yang rendah, sedang, dan tinggi.

Thomas mengatakan, saat ini terdapat tuntutan untuk menyediakan peta 1:5000. Data beresolusi 1,5 meter yang dimiliki Lapan dari satelit SPOT-6 sudah dapat memenuhi tuntutan itu. Hanya saja, datanya masih perlu dilengkapi dengan citra beresolusi lebih tinggi. Kebutuhan data penginderaan jauh yang semakin meningkat tersebut nantinya juga akan ditujukan untuk menyusun peta seluruh Indonesia. Bukan hanya itu, bahkan, Lapan dan BIG akan mengembangkan pola peta digital populer, contohnya seperti Google Earth, namun dengan data yang lebih akurat. Dengan demikian, peta tersebut dapat dijadikan acuan dan masyarakat dapat dengan mudah mengaksesnya.

Pemanfaatan penginderaan jauh sangat erat kaitannya dengan penanganan bencana alam. Kepala Lapan mencontohkan, melalui Sistem Informasi Mitigasi Bencana Alam (SIMBA) yang dikembangkan Lapan, potensi bencana di Indonesia dapat diketahui. Sistem tersebut menggunakan data penginderaan jauh untuk memberikan informasi mengenai kemungkinan bencana alam seperti banjir, letusan gunung api, tsunami, kekeringan, kebakaran hutan, serta cuaca dan iklim. Contoh lainnya yaitu, dengan memanfaatkan data satelit MTSAT dikombinasikan dengan model atmosfer seperti yang terdapat pada Satellite Disaster Early Warning System (SADEWA), maka pergerakan awan setiap jamnya dapat terlihat. Dengan demikian, dapat diketahui prakiraan hujan di suatu wilayah.

Peran penginderaan jauh dalam penanganan bencana tersebut diakui penting oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Dr. Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa kemampuan satelit memberikan data secara cepat dan akurat sangat sesuai dengan prinsip penanganan bencana yang harus cepat dan tepat. Data penginderaan jauh dapat menghasilkan peta yang menyeluruh sehingga membantu untuk menganalisis bencana yang terjadi.

Meskipun data satelit dapat memberikan informasi dengan baik, namun kadang kala adanya awan dapat menghambat dalam penyediaan citra yang bersih. Akibatnya, suatu wilayah tidak dapat terpotret dengan baik karena tertutup awan yang tidak dapat ditembus oleh citra optis. Kepala Lapan mengatakan, untuk itu, Lapan juga mengembangkan pesawat tanpa awak atau UAV untuk melengkapi data penginderaan jauh tersebut.

Kepala Lapan mengatakan, UAV Lapan mampu memotret dengan baik, bahkan dapat menghasilkan gambar denganresolusi 30 centimeter. Ia juga berpendapat bahwa UAV Lapan cukup lincah untuk digunakan dalam pemotretan daerah bencana. Selain itu, penggunaan UAV juga cukup praktis karena tidak memerlukan lahan luas untuk landasan. Beberapa jenis pesawat ini bahkan hanya perlu dilemparkan ataupun menggunakan ketapel untuk lepas landas. Dalam mendukung mitigasi bencana, Lapan Surveillance UAV (LSU) seri 01 berhasil memberikan potret kondisi banjir di Jakarta dan kawah Gunung Merapi.



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL