Kompetensi Utama

Layanan


Menko Kemaritiman: Satu Langkah Lagi Menuju Satelit Operasional Penginderaan Jauh
Penulis Berita : Humas/SA • Fotografer : Humas/SA • 09 Feb 2015 • Dibaca : 39466 x ,

Satelit Lapan-A2 dan Lapan-A3 direncanakan mengorbit pada 2015 dan 2016. Kedua satelit tersebut merupakan program litbang satelit Lapan yang perakitan, pengintegrasian, dan pengujiannya dilakukan oleh anak bangsa. Meskipun masih bersifat eksperimental, Menteri Koordinator Kemaritiman Dr. Indroyono Soesilo berharap Lapan bisa mewujudkan harapan nasional untuk bisa memiliki satelit operasional penginderaan jauh.

“Karena sudah ada modal pembangunan satelit mikro Lapan, maka seharusnya, satu langkah lagi untuk menuju satelit operasional penginderaan jauh,” kata Indroyono saat menghadiri penutupan Kongres ke-6 Masyarakat Ahli Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN) pada Kamis (5/2) di Kampus IPB Dramaga, Bogor.

Indroyono berharap, satelit operasional penginderaan jauh tersebut memakai sensor radar. Hal itu disebabkan Indonesia termasuk negara beriklim tropis dengan tutupan awan mendominasi hampir sepanjang tahun. Dengan sensor radar, satelit operasional tersebut akan mudah mengambil data citra meskipun area yang dituju tertutup awan.

“Satelit yang dibuat Lapan sudah menggunakan (sensor) infra merah dan gelombang. Saya bermimpi, satelit operasional akan menggunakan sensor radar. Hanya saja memang harganya cukup mahal sekitar Rp 2,7 T,” Indroyono menjelaskan.

Untuk mewujudkannya, Indroyono mengatakan bahwa nantinya harus ada suatu konsorsium bersama. Ia melanjutkan, terkait kepastian waktu terwujudnya satelit operasional tersebut akan ditentukan kemudian oleh pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Indroyono memberikan masukan atas perkembangan teknologi pesawat tanpa awak (UAV) untuk keperluan penginderaan jauh. “UAV dikembangkan oleh Lapan, BPPT, juga beberapa perguruan tinggi. Sekarang masih pada tahap uji coba. UAV tersebut diharapkan nantinya harus mampu terbang selama 24 jam dengan ketinggian 35.000 kaki,” kata Indroyono.

Hingga saat ini, Lapan Surveillance UAV (LSU) masih tercatat dalam rekor MURI sebagai satu-satunya UAV yang mampu terbang dengan jarak terjauh 200 kilometer. “Jadi, kita harus tambah lagi kemampuan UAV kita," kata Indroyono. Ia melanjutkan, UAV ini sudah baik untuk kegiatan pemetaan, akan tetapi kemampuannya masih perlu ditingkatkan agar mampu melakukan pemantauan selama 24 jam.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL