Kompetensi Utama

Layanan


Riset Kedirgantaraan Penting untuk Tentukan Moda Transportasi Udara
Penulis Berita : Humas/SA • Fotografer : Humas/SA • 13 Apr 2015 • Dibaca : 8349 x ,

Kepala Lapan (kiri) saat menghadiri acara National Innovation Forum (NIF) 2015 di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan.

Hilirisasi atau komersialisasi produk hasil penelitian, pengembangan dan perekayasaan (litbangyasa) ke dunia industri adalah mutlak. Di masa mendatang, diharapkan hasil litbangyasa tidak berhenti sebatas pada laporan yang tersimpan rapi di arsip perpustakaan. Hal tersebut ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidatonya saat kegiatan National Innovation Forum (NIF) 2015  di Graha Widya Bhakti Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (13/4).

“Keuntungan komersialisasi bukan hanya pada industri, melainkan juga pada peneliti atau perekayasa itu sendiri. Hal ini disebabkan, adanya royalti dari paten hasil penelitian mereka,” Joko Widodo menambahkan. Untuk itu, presiden menekankan pentingnya sinergi antarlembaga. “Itulah tugas dari para menteri dan kita ingin agar ada suatu perwujudan yang jelas dalam hal kerja sama antara peneliti dan dunia usaha. Dengan demikian, hasil akhirnya adalah produk yang bermanfaat bagi rakyat,” Joko Widodo menjelaskan.
 
Mengenai masalah moda alat transportasi nasional, Joko Widodo berharap riset yang tepat untuk menentukan alat transportasi yang paling efisien untuk jalur udara dan laut. “Dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan. Ada 17.000 lebih pulau di negara kita, kalau kita datangi semua dari provinsi ke provinsi, pulau ke pulau, maka kita akan melihat betapa sangat besarnya tantangan yang kita hadapi baik dari sisi transportasi, pangan, maupun energi,” kata Joko Widodo.
 
Riset kedirgantaraan yang tepat penting untuk menentukan jenis transportasi udara. “Untuk bidang dirgantara, kita harus memahami pesawat yang paling pas untuk transportasi dari provinsi ke provinsi dan dari pulau ke pulau. kita juga harus memahami tipe yang diperlukan misalnya yang besar, sedang, atau kecil," ujar Joko Widodo.

Dia menambahkan, sudah ada pesawat jenis N219 hasil litbang LAPAN bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Kemudian, akan diikuti oleh generasi selanjutnya yaitu pesawat N245. Kemudian, untuk sektor kemaritiman, kata dia, diperlukan juga riset khusus untuk mengetahui kapal yang paling sesuai untuk dikembangkan di Indonesia.
 
“Masalah transportasi sering menjadi kendala karena dapat menyebabkan adanya perbedaan harga pada komoditas. Misalnya, harga semen di kota besar sebesar dari Rp 60.000 hingga Rp 70.000. Namun, di Papua haranya bisa mencapai  Rp 2,5 juta,” ujarnya. Hal tersebut bisa diselesaikan dengan riset yang baik. “Oleh karena itu, dirgantara dan kemaritiman akan menjadi fokus kita di masa depan selain tentu saja yang berkaitan dengan pangan dan energi,” Joko Widodo menambahkan. 

Dalam kegiatan tersebut, LAPAN dan PT DI menjadi salah satu contoh kerja sama hilirisasi hasil litbang melalui penelitian dan pengembangan, produksi, serta komersialisasi pesawat berpenumpang 19 orang yaitu N219. Hingga kini, telah ada 75 pesanan pesawat N219 dari berbagai perusahaan yakni PT Nusantara Buana Air (PT NBA), PT Aviastar Mandiri dan PT Trigana Air Service.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL