Kompetensi Utama

Layanan


FGD Litbangyasa Satelit: Indonesia Akan Kembangkan Satelit Penginderaan Jauh Operasional
Penulis Berita : Humas/Ahida • Fotografer : Humas/Ahida • 17 Apr 2015 • Dibaca : 42429 x ,

Kepala Lapan memberikan sambutan saat membuka FGD.

LAPAN menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Litbangyasa Pusat Teknologi Satelit-Lapan. Kegiatan bertema Space Environment for LAPAN-A2 Satellite ini berlangsung di Auditorium Pusat Sains Antariksa LAPAN, Bandung, Kamis (16/4). Diskusi ini bertujuan untuk membahas berbagai faktor lingkungan antariksa yang akan mempengaruhi umur dan kinerja satelit LAPAN A2 di orbit ekuatorial. FGD dihadiri para peneliti dan perekayasa antara lain dari LAPAN, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia.

Saat membuka acara, Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa LAPAN memiliki visi untuk menjadi pusat unggulan di bidang teknologi penerbangan dan antariksa. Tujuan utamanya yaitu untuk membangun Indonesia yang maju dan mandiri, termasuk teknologi satelit.

Ia menjelaskan, penguasaan teknologi satelit merupakan hal yang tidak dapat ditunda agar tidak selamanya bergantung pada pihak asing. Salah satu strategi untuk mencapainya yaitu dengan bekerja sama dengan berbagai pihak. Ia mencontohkan, pengembangan satelit LAPAN A1 (LAPAN-TUBSAT). Meskipun dibangun di Jerman, para engineer LAPAN terlibat langsung dalam pembuatannya.

Setelah LAPAN-TUBSAT diluncurkan, para engineer LAPAN kembali ke Indonesia dan mengembangkan satelit LAPAN A2 dan LAPAN A3. Rencana semula, kedua satelit itu diluncurkan ke orbit ekuatorial secara bersama menjadi twin satellite. Namun, mengingat risiko yang cukup tinggi, maka pada 2011, LAPAN A2 diputuskan berorbit ekuator sedangkan LAPAN A3 berorbit polar atau sun synchronous).

LAPAN A2 awalnya direncanakan duluncurkan secara piggy bag dari India pada 2012. Namun, peluncurannya ditunda hingga September tahun ini karena menunggu kesiapan muatan utama satelit India, Astrosat.

Thomas menambahkan, di masa depan, LAPAN akan mengembangkan satelit penginderaan jauh operasional bersama kosorsium satelit nasional. Satelit bernama Indonesian Remote Sensing Satellite (Inarsat) itu akan berbobot 1000 kilogram.

Terdapat beberapa fase strategi untuk mewujudkan satelit tersebut. Pada fase pertama, satelit operasional tersebut akan dibangun di luar negeri bekerja sama dengan pihak asing dengan melibatkan sebanyak mungkin engineer dari Indonesia. Fase kedua, fasilitas pembuatan satelit akan dibangun di Indonesua dengan bantuan pihak asing. Pada fase ketiga, satelit akan dibuat sepenuhnya di dalam negeri. Strategi seperti ini juga akan diterapkan pada pengembangan satelit komunikasi dan satelit navigasi pada periode berikutnya.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL