Kompetensi Utama

Layanan


Talkshow Musrenbangnas 2015: Pembangunan Kemaritiman dan Kelautan Perlu Dukungan Teknologi Penerbangan dan Antariksa
Penulis Berita : Humas/ZAK-SA • Fotografer : Humas/ZAK • 29 Apr 2015 • Dibaca : 50264 x ,

Para pembicara utama dalam talkshow Pameran Musrenbangnas 2015

Integrasi semua tipe pesawat tanpa awak milik LAPAN (LSU) mulai dari LSU 01 hingga LSU 05 serta pesawat ringan berpenumpang dua awak milik LAPAN (LSA) menghasilkan sistem pemantauan maritim terpadu. Sistem ini mampu memantau daerah rawan penangkapan ikan ilegal dan menggantikan atau melengkapi sistem patroli manual dengan jangkauan rata-rata sekitar 150 km. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dalam talkshow Pameran Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2015, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (28/4).

Bahkan, Thomas menambahkan, pesawat LSA mampu bertransformasi menjadi pesawat autonomous yang bisa terbang hingga lebih dari 8 jam dengan jarak hampir 1.500 kilometer. LSA berpotensi menjadi teknologi baru dalam pemantauan pantai atau maritim. Selain itu, LAPAN akan meluncurkan satelit LAPAN A-2 pada Agustus mendatang. Satelit ini mampu mendeteksi kapal-kapal yang melintasi perairan Indonesia karena dibekali muatan automatic identification system (AIS).

“Kalau UAV dikombinasikan dengan pengunaan satelit untuk pemantauan kapal-kapal secara langsung, hal ini diharapkan dapat mengidentifikasi kapal-kapal yang mungkin dicurigai sebagai pelaku illegal fishing sehinga dapat menjaga keamanan laut dan juga meningkatkan potensi penangkapan ikan,” Thomas menjelaskan.

Thomas juga menjelaskan bahwa teknologi antariksa tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Teknologi antariksa juga sangat dibutuhkan untuk menjaga dan memantau wilayah Indonesia yang begitu luas. Tidak hanya pemantauan wilayahnya, teknologi antariksa juga bisa digunakan untuk pemetaan sumber daya alam yang terkandung di wilayah Indonesia.

Terkait dengan program pengembangan pelabuhan, LAPAN akan menyediakan data citra satelit resolusi tinggi, untuk membantu perencanaan pembangunan tersebut. Dengan dukungan stasiun bumi penerima data citra satelit yang berada di Parepare (Sulawesi Selatan), Pekayon (Jakarta) dan Rumpin (Bogor), LAPAN dapat menerima citra satelit resolusi rendah, menengah dan tinggi. Hal ini digunakan untuk memantau daerah pantai dan menghasilkan informasi yang berguna bagi masyarakat, antara lain informasi mangrove, informasi one map policy, pemantauan terumbu karang, potensi-potensi budidaya pesisir dan wisata bahari,

Selain itu, LAPAN bekerjasama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk memberikan rekomendasi daerah wisata dan daerah budidaya, seperti yang telah dilaksanakan di daerah Nusa Tenggara Barat. LAPAN juga memberikan informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) berdasarkan informasi suhu permukaan laut dan kandungan klorofil di laut.

“Nelayan bisa langsung mengarah ke daerah yang banyak ikannya. Informasi ini dipublikasikan setiap hari. Beberapa Dinas Perikanan Daerah mengunakan informasi ini untuk diinformasikan kepada nelayan yang paling aktif yaitu dari Kabupaten Indramayu. Informasi ini dapat meningkatkan hasil penangkapan ikan para nelayan,” kata Thomas.

Informasi ZPPI LAPAN juga dimanfaatkan oleh Bakamla untuk pengamanan daerah-daerah potensi penangkapan ikan dari kapal-kapal asing yang berpotensi melakukan penangkapan ikan ilegal. Selain informasi ZPPI, kata Thomas, LAPAN juga memberikan bimbingan teknis untuk nelayan tentang tata cara memanfaatkan data penginderaan jauh tersebut untuk meningkatkan produktivitas penangkapan ikan.

Terkait dengan pengamanan daerah perbatasan dan potensi-potensi pengembangan wilayah di seluruh Indonesia, LAPAN juga memberikan data inventarisasi pulau-pulau kecil terluar. Hasil pendataan terbaru, terdapat 24 daerah yang direncanakan untuk pengembangan wilayah pelabuhan perikanan.

Thomas juga memaparkan hasil kerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Puslitbang Sumber Daya Laut Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang disebut dengan Sistem Embaran Maritim (SEMAR). SEMAR memberikan informasi pengamatan berbasis satelit, radar, sensor daratan dan sensor lautan secara near real time serta prediksi kondisi atmosfer dan lautan di wilayah perairan selatan Yogyakarta. Informasi SEMAR digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan DIY untuk mendukung keselamatan pelayaran dan peningkatan produksi ikan tangkap.

Dalam talkshow yang mengambil tema “Penguatan dan Pengembangan Infrastruktur Kelautan dalam rangka Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan Wilayah Teritorial Perairan Indonesia yang Efisien dan Berkelanjutan” ini hadir juga Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pujiastuti.

Susi menjelaskan berbagai program aksi KKP baik jangka pendak, menengah dan panjang yang menjadi skala prioritas yang direncanakan untuk tahun anggaran 2015-2019. Program tersebut antara lain untuk memberdayakan dan mensejahterakan para nelayan dan pemberantasan penangkapan ikan ilegal yang sudah merugikan Indonesia.

“Realitanya, Indonesia memiliki panjang garis pantai nomor dua di dunia, tetapi ekspornya nomor lima di Asia Tenggara. Hal ini adalah kontradiktif, jauh pangang dari api,” Susi berujar. Seharusnya, Susi menambahkan, dengan realitas garis pantai tersebut, pantasnya ekspor kita nomor satu di Asia. Susi menjelaskan penyebabnya ialah banyaknya kapal asing yang melakukan penangkapan ikan ilegal di wilayah perairan Indonesia. Sehubungan dengan itu, KKP butuh teknologi yang mampu memonitor setiap pergerakan kapal di perairan Indonesia khusunya yang berpotensi melakukan penangkapan ikan ilegal.

Selain Susi, pembicara lain dalam talkshow tersebut adalah Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi Agus Siswanto, dan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Muhammad Zainuri.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL