Kompetensi Utama

Layanan


Otomatisasi, Pengolahan Data Penginderaan Jauh LAPAN Makin Efisien
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/ZK • 16 Jun 2015 • Dibaca : 13020 x ,

Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh memaparkan mengenai keunggulan otomatisasi sistem pengolahan data penginderaan jauh.

Kegiatan penginderaan jauh yang dilaksanakan LAPAN telah dimanfaatkan banyak pengguna. Hal ini disebabkan, penginderaan jauh memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan data dengan cakupan yang luas, aktual, cepat, hemat, dan bersifat historis.

Contoh penggunaannya yaitu oleh dinas perikanan di berbagai pemerintah daerah Indonesia menggunakan data penginderaan jauh tersebut untuk informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memanfaatkannya untuk mitigasi bencana dan evakuasi. Sementara itu, Kementerian Pertanian memanfaatkannya untuk memantau fase pertumbuhan padi. Informasi tersebut berimplikasi pada kebijakan distribusi pupuk dan alat-alat pertanian.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) LAPAN, Dr. Rokhis Komarudin, saat Focus Group Discussion (FGD) Otomatisasi Pengolahan Data Penginderaan Jauh untuk Menjawab Tantangan dan Permasalahan Lingkungan di Indonesia. Diskusi berlangsung di ruang SIMBA Pusfatja LAPAN di Pasar Rebo, Jakarta, Senin (15/6).

Contoh lain pemanfaatan data penginderaan jauh yaitu dalam bidang perpajakan. Rokhis mengatakan bahwa data penginderaan jauh dapat digunakan untuk optimalisasi objek pajak. Dengan demikian, hal tersebut akan mampu meningkatkan pendapatan pajak di suatu wilayah. Data penginderaan jauh dapat melihat adanya penyalahgunaan lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan izinnya.

Mengingat manfaat penginderaan jauh yang sangat luas, untuk itu LAPAN terus meningkatkan diri dalam menyediakan data dari teknologi tersebut. Rokhis menjelaskan, sistem pemantauan bumi nasional selama ini masih bersifat manual. Di masa depan, LAPAN berupaya untuk melakukan otomatisasi dan membuat sistem pengolahan data penginderaan jauh yang mandiri. Perangkat lunak untuk pengolahan datapun selama ini masih menggunakan software berlisensi yang harganya mahal. Dengan adanya sistem yang mandiri ini, tentunya pengolahan data tidak lagi bergantung pada software tersebut.

Rokhis melanjutkan, saat ini, LAPAN telah melaksanakan tiga sistem otomatisasi pengolahan data penginderaan jauh. Ketiga sistem tersebut yaitu untuk ZPPI, pemantauan fase pertumbuhan padi, dan deteksi daerah bekas terbakar. Otomatisasi ini mempersingkat waktu yang diperlukan untuk pengolahan data untuk ZPPI, yang awalnya 10 jam menjadi hanya delapan menit.

Sementara itu, untuk mengolah data fase pertumbuhan padi yang awalnya memerlukan waktu delapan jam menjadi 20 menit. Begitu pula dengan deteksi daerah bekas terbakar yang sebelumnya perlu waktu pengolahan 10 jam menjadi tiga menit. “Tentunya, otomatisasi ini akan meningkatkan efisiensi dalam pengolahan data sehingga informasi dapat disampaikan dengan lebih cepat,” ujarnya.

Otomatisasi ini telah dimulai pada tahun lalu. Rokhis berharap, pada 2017, sistem otomatisasi ini bisa operasional dan pengguna dapat mengunduhnya. Pengguna juga dapat mengolah sendiri data tersebut dengan perangkat lunak gratis yang diunggah ke sistem milik LAPAN.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL