Kompetensi Utama

Layanan


Kepala LAPAN: Kemandirian Teknologi Satelit Perlu ‘Bekal’ Investasi Jangka Panjang
Penulis Berita : Humas/SA • Fotografer : Humas/SA • 22 Jun 2015 • Dibaca : 41217 x ,

Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (kanan) menjadi salah satu pembicara dalam focus group discussion (FGD) “Informasi Geospasial Mendukung Pembangunan Poros Maritim” yang diselenggarakan oleh MAPIPTEK di Gedung BPPT II, pada Kamis (18/6).

Pengalaman LAPAN membangun Satelit LAPAN A1 atau LAPAN-TUBSAT merupakan bentuk baru investasi bidang penelitian dan pengembangan (litbang). LAPAN berinvestasi dengan cara mengirimkan SDM untuk belajar teknologi satelit, membeli bahan untuk membuat satelit serta merakitnya di negara mitra hingga lahir LAPAN A1. Meskipun masih tergolong satelit mikro dengan bobot 57 kg, LAPAN A1 berhasil mengorbit pada 2007 dan bekerja dengan optimal hingga 2013 padahal target awal ‘usia’ satelit tersebut hanya dua tahun. 

“Satelit tersebut sekarang masih mengorbit dan masih mengirimkan parameter-parameter untuk diteliti,” kata Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin saat menjadi pembicara dalam focus group discussion (FGD) “Informasi Geospasial Mendukung Pembangunan Poros Maritim” di Gedung BPPT II, yang diselenggarakan oleh MAPIPTEK (Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), pada Kamis (18/6). Dengan bekal investasi saat membangun LAPAN A1 serta dukungan fasilitas perakitan, pengintegrasian dan pengujian satelit mikro yang dibangun LAPAN di Rancabungur, Bogor, maka LAPAN bisa membangun satelit di negeri sendiri tanpa harus di negara mitra. Satelit tersebut diberi nama LAPAN A2, yang sudah siap mengorbit sejak 2012. 

“LAPAN A2 menunggu waktu peluncuran karena ingin mengorbit near equatorial, sementara itu sangat sedikit misi peluncuran di near equatorial tersebut,” kata Thomas. Dari sedikitnya misi tersebut, Thomas menambahkan, LAPAN A2 direncanakan menumpang bersama misi satelit astronomi India, Astrosat, yang akan dijadwalkan meluncur pada Oktober 2015. 

Satelit generasi berikutnya yaitu LAPAN A3 direncanakan meluncur pada 2016. Jika LAPAN A2 memiliki misi pemantauan maritim dan pengambilan citra, maka LAPAN A3 fokus pada misi pertanian juga pemantauan maritim. Di masa mendatang, LAPAN akan mengembangkan hingga satelit eksperimen generasi LAPAN A5. Untuk satelit operasional penginderaan jauh, gagasan Indonesia Remote Sensing Satellite (INARSSAT) mulai digaungkan. 

“Kalau dihitung-hitung, dengan memakai pola pengembangan satelit mikro, satelit operasional butuh anggaran sekitar 5-6 Triliun,” Thomas menjelaskan. Thomas menyadari bahwa dalam upaya untuk memiliki dan mengoperasikan sendiri satelit penginderaan jauh, harus berebut dengan kepentingan-kepentingan yang lain, baik jangka pendek maupun jangka panjang. “Dalam litbang kita selalu berpikir kepentingan jangka panjang. Untuk kemandirian kita perlu investasi SDM (tenaga ahli) dan infrastruktur yang sifatnya jangka panjang. Sedangkan dari segi ekonomi selalu berpikir jangka pendek, mana yang lebih menguntungkan, termasuk soal citra satelit dan satelit,” papar Thomas. 

Thomas mengilustrasikan keuntungan jangka pendek dengan hanya membeli citra satelit atau membangun stasiun bumi penerima data citra satelit milik negara lain, memang lebih murah dibandingkan dengan membuat satelit operasional sendiri. Secara teknis, teknologi satelit operasional hanya ‘berumur pendek’ sekitar 5 hingga 15 tahun. Ia tidak ingin Indonesia terus menerus menjadi bangsa yang bergantung kepada negara lain. 

Menurut Thomas, teknologi satelit terutama telekomunikasi sudah menjadi kebutuhan setiap individu, bukan hanya kebutuhan negara atau perusahaan besar. “Kalau terus menerus cari praktisnya, kita akan terus bergantung kepada negara lain, sedangkan kemampuan dan daya saing bangsa tidak ada. Sementara, teknologi luar negeri itu juga tidak akan sepi dari kepentingan. Pasti saja ada kepentingan-kepentingan tersembunyi yang kita tidak tahu,” tegasnya.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL