Kompetensi Utama

Layanan


Pertemuan Kepala LAPAN dan Rektor ITB: Observatorium Nasional Akan Tingkatkan Penelitian Astronomi
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 26 Jul 2015 • Dibaca : 12234 x ,

Kepala LAPAN dan Rektor ITB beserta para pejabat di lingkungan LAPAN dan ITB diskusi mengenai rencana pembangunan observatorium nasional.

Indonesia saat ini sangat memerlukan observatorium baru berskala nasional. Apalagi, lokasi Observatorium Bosscha saat ini di Lembang, Jawa Barat, tidak lagi ideal karena bermasalah dengan cahaya akibat perkembangan kota. Untuk itu, diperlukan lokasi baru yang lebih ideal untuk melakukan pengamatan antariksa. Setelah dilakukan riset, ditemukan bahwa lokasi yang paling cocok untuk kegiatan observatorium yaitu di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat bertemu Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Kadarsah Suryadi, di Rektorat ITB, Bandung, Jawa Barat, (24/7). Pertemuan tersebut bertujuan untuk mendiskusikan rencana pembangunan observatorium di NTT tersebut.

Thomas menjelaskan, sesuai dengan amanat UU No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, nantinya LAPAN akan membangun observatorium tersebut. Pembangunan observatorium tersebut juga akan dituangkan dalam rencana induk keantariksaan. Namun, untuk pemanfaatan fasilitas, LAPAN akan menggandeng berbagai pihak termasuk perguruan tinggi untuk ikut melakukan penelitian di observatorium tersebut.

Beberapa waktu silam, Sekretaris Utama LAPAN, I.L. Arisdiyo, telah mengunjungi lokasi dan bertemu Gubernur NTT. Kepala LAPAN menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT telah berkomitmen untuk menyediakan lahan untuk pembangunan observatorium. Dalam membangun observatorium tersebut, LAPAN akan melibatkan ITB. Para ahli dari ITB juga telah melakukan survey lokasi. Nantinya, pembangunan observatorium tersebut bukan hanya melibatkan Program Studi Astronomi saja, melainkan juga fakultas-fakultas lainnya.

NTT dipilih sebagai lokasi observatorium karena berdasarkan klimatologi, wilayahnya memiliki cuaca cerah terbanyak sepanjang tahun di Indonesia dan masih bebas polusi. “Kondisi ini sangat baik kegiatan observatorium,” ujar Thomas.

Observatorium NTT tersebut nantinya akan sangat bermanfaat untuk berbagai penelitian antariksa. Kepala LAPAN menjelaskan, contoh penelitian yang dapat dilaksanakan di fasilitas tersebut yaitu pengamatan tata surya, exoplanet (planet di luar tata surya), spektometri bintang, gugus bintang, struktur galaksi, dan ekstra galaksi. Selain itu, observatorium ini juga dapat melakukan pengamatan radio. Ia menjelaskan, selama ini belum ada teleskop radio di Indonesia. Teleskop radio tersebut berfungsi untuk pengamatan astronomi.

Selain mendukung observatorium, pemerintah berencana membangun science education center yang dapat dikunjungi publik dan terpisah dari aktivitas riset. Science education center ini rencananya akan dibangun oleh pemerintah daerah, namun operasionalnya dapat melibatkan berbagai pihak.

Rencana pembanguna observatorium tersebut disambut baik oleh Rektor ITB. Ia mengatakan bahwa nantinya observatorium ini akan menambah akses untuk mempelajari antariksa. Untuk itu, ITB siap berpartisipasi dan bersinergi dengan LAPAN dalam mewujudkan observatorium nasional.

Ia melanjutkan, observatorium ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja civitas akademika ITB dalam pendidikan dan penelitian. Dengan adanya observatorium ini, ITB dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas peneliti di bidang astronomi.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL