Kompetensi Utama

Layanan


Komurindo Kombat 2015 Menumbuhkan Semangat dan “Jiwa Peneliti” pada Mahasiswa
Penulis Berita : Humas/Zak/SA • Fotografer : Humas/SA • 02 Aug 2015 • Dibaca : 7996 x ,

Para peserta Komurindo-Kombat 2015 mendengarkan penjelasan teknis kompetisi oleh Dr. Endro Pitowarno selaku ketua tim juri. (Insert foto: alat uji fungsional muatan Komurindo 2015)

Para peserta Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (Komurindo) dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) 2015 tiba di Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN, Pameungpeuk, Garut, pada Minggu (2/8). Mereka hadir untuk mengikuti rangkaian tahap final kedua kompetisi tersebut. Dari total 40 tim Komurindo dan 16 tim Kombat yang lolos tahap final, tercatat satu tim Komurindo dan dua tim Kombat tidak hadir untuk mengikuti final. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang mahasiswa dan satu orang pembimbing.

Setibanya di Pameungpeuk para peserta langsung diarahkan ke ruang integrasi roket untuk mendengarkan penjelasan teknis kompetisi oleh tim juri yang diwakili oleh Dr. Endro Pitowarno selaku Ketua Tim Juri. Menurut Endro, peserta kompetisi perlu mendengarkan penjelasan teknis tersebut karena berkaitan dengan kegiatan uji fungsional atas muatan roket, roket EDF maupun muatan balon yang dibuat oleh peserta. Uji fungsional muatan roket terdiri dari uji G-Shock, G-Force, vibrasi dan pengiriman gambar dari kamera pada muatan roket peserta. Uji fungsional Komurindo dan Kombat dijadwalkan pada Senin (3/8).

Menurut juri yang berasal dari LAPAN Atik Bintoro, uji fungsional dilakukan untuk mengetahui kelayakan muatan yang dibuat oleh peserta. “Apakah muatan tersebut memenuhi syarat-syarat kondisi operasional lingkungan roket yang akan diterbangkan nanti atau tidak. Apabila saat diuji fungsional terjadi kerusakan, maka tidak berhak diluncurkan Selasa mendatang,” kata Atik. Akan tetapi, Atik menambahkan, apabila muatan peserta mengalami kerusakan, tim juri masih memberi kesempatan untuk memperbaiki hingga Senin (3/8) sore.

Atik juga menjelaskan kesulitan mendasar yang sering dialami peserta Komurindo. “Selama ini biasanya kesulitan dalam cara mengatasi uji yang merupakan implementasi sederhana dari kondisi roket, itu yang sulit diterjemahkan menjadi bentuk desain, sehingga perlu ditanyakan di sini. Untuk mengatasi “G” itu seperti apa, untuk mengatasi kecepatan roket seperti apa,” tutur Atik. Setelah penjelasan teknis, Atik menambahkan, biasanya peserta ingin menyempurnakan hasil desainnya untuk memastikan tidak ada kerusakan ketika diuji. “Kalau melihat semangat seperti itu, sepertinya jiwa sebagai peneliti sudah ada, tidak pernah puas dengan hasil eksperimennya,” kata Atik.

Selain penjelasan uji fungsional, tim juri juga membagi kanal frekuensi yang berbeda untuk peserta kompetisi dan menjelaskan pelaksanaan uji terbang pada Selasa (4/8). Tim juri memberi kesempatan kepada para peserta untuk bertanya sedetail mungkin berkaitan dengan aspek-aspek teknis tersebut maupun permasalahan lainnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan kompetisi.
Para peserta terlihat antusias menyimak penjelasan teknis dan mengutarakan pertanyaan teknis kepada tim juri. Setelah sesi penjelasan teknis kompetisi, para peserta yang berjumlah lebih dari 200 orang menyaksikan suguhan seni budaya tradisional Sunda yaitu seni pencak silat, “reok” dan “calung”. Tanpa gengsi, para peserta pun turut bernyanyi dan berjoged bersama para seniman Sunda.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL