Kompetensi Utama

Layanan


Merakit Kejayaan Dirgantara RI dengan Pesawat N-219
Penulis : Fahrizal Lubis • Media : Liputan6.com • 17 Aug 2015 • Dibaca : 25652 x ,

Liputan6.com, Jakarta - Hari ini Republik Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-70. Selama itu, sejumlah pencapaian telah diraih anak bangsa.

Salah satunya, pada 14 Agustus 1964, roket kebanggaan Indonesia, Kartika 1 diluncurkan oleh Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN), ITB dan AURI.

Roket dengan berat 220 kg itu diluncurkan dari Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Kala itu, RI menjadi negara kedua di Asia dan Afrika yang mampu mengembangkan teknologi pembuatan rudal dan roket setelah Jepang. Tahun berikutnya, giliran Roket Kartika 2 yang mengangkasa.

Pembentukan LAPAN melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 236 tertanggal 27 November 1963 mengemban tugas mulia: perwujudan tekad para pendiri bangsa agar Indonesia bisa berdiri di kaki sendiri (berdikari) dan melepas ketergantungan negara lain di bidang antariksa dan teknologi dirgantara.

Tidak hanya roket, Tahun 1973, LAPAN terlibat dalam rancang bangun prototipe pesawat latih LT-200 untuk keperluan sipil dan militer. LT-200 adalah pesawat ringan 2 penumpang lisensi dari produk Pazmany PL-2 Amerika.

"Setelah mengalami beberapa kali proses modifikasi konstruksi, pada awal tahun 1975 mulai diproduksi massal dan diproses sertifikasinya. Selama dua tahun pertama, LIPNUR telah memproduksi kurang lebih 30 pesawat untuk kebutuhan sekolah penerbangan sipil, TNI-AU dan klub terbang di Indonesia," demikian dikutip dari situs LAPAN.

Kemudian, tahun 1977, LAPAN mengembangkan sendiri pesawat penumpang, XT-400. Pesawat penumpang bermesin kembar ini dapat mengangkut 8 penumpang dan mempunyai kemampuan take-off dan landing pada landasan yang pendek dengan landasan rumput atau tanah.

Pengembangannyasudah hampir selesai dan direncanakan akan terbang perdana pada tahun 1980. Sayangnya, tahun 1978 proyek SAINKON (Riset Desain dan Konstruksi Pesawat Udara) ini dihentikan melalui kebijakan pemerintah saat itu, yang mengalihkan semua program pengembangan pesawat terbang ke IPTN.

33 Tahun Vakum

Tahun 2011 menjadi akhir dari penantian panjang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) setelah 33 tahun lamanya vakum dari penelitian, pengembangan dan rekayasa pesawat terbang. Kehadiran Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) menambah kekuatan di lembaga yang pernah dijabat Bapak industri penerbangan Indonesia, Nurtanio Pringgoadisuryo (Dirjen LAPAN I, 1963-1966).

Kehadiran Pustekbang dilatarbelakangi pemerintah dan DPR yang mempertanyakan kurangnya peran LAPAN dalam penelitian dan pengembangan teknologi penerbangan Tanah Air.

LAPAN diminta berkontribusi seperti Badan Antariksa Amerika (NASA), Jepang (JAXA), Korea Selatan (KARI), dan negara lainnya yang maju di bidang kedirgantaraan.

Berdasarkan amanat Peraturan Presiden No. 28 tahun 2008 dan Undang-Undang Penerbangan No. 1 tahun 2009, pasal 370 ayat 1 tentang Industri Kedirgantaraan, LAPAN diminta ikut mengembangkan produk kedirgantaraan Indonesia.

LAPAN pun memulai dengan ide pesawat perintis bersama PT Dirgantara Indonesia: N-219.

N-219N-219 merupakan program pesawat terbang nasional kelas 19 penumpang yang dimulai melalui nota kesepahaman antara LAPAN dan PTDI tentang kerjasama di bidang pengembangan teknologi dirgantara pada tahun 2009. Keterlibatan LAPAN dalam pengembangan pesawat terbang bukan baru pertama kali.

Program Master Phasing Plan N-219 memiliki beberapa tahap yaitu, preliminary design, detail design, material procurement, fabrication and assembly, ground test, certification dan terakhir flight test. Rencananya, roll out atau kegiatan keluar hanggar dilaksanakan pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 10 Agustus 2015.

"Roll out mundur ke bulan Oktober karena kami tidak ingin dipaksakan. N-219 sekarang masih tahap perakitan panel dinding maupun sayap," ucap Agus Aribowo, Kepala Program N-219 LAPAN kepada Liputan6.com.



Kendala dan Biaya Pengembangan

Meski sudah berjalan sejak 2011, jelas Agus, pengembangan N-219 tidak terlepas dari kendala baik fasilitas, SDM hingga masalah anggaran. Pihaknya terus mencari jalan agar program ini bisa lancar dan bermanfaat untuk masyarakat Indonesia.

“Pola penganggaran riset dan pengembangan pemerintah seharusnya bisa multiyears, karena melihat kompleksitas proyek. SDM PT DI sedikit dan terbagi dalam beberapa program internal. Yang sekarang sudah terpecahkan yakni masalah tools dan jig yang di outsourchingkan ke luar namun harus mengikuti ketentuan kualitas yang sama dengan PT DI,” katanya.

Dalam upaya pembuatan pesawat itu, pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp 400 milliar. Anggaran ini untuk membiayai, desain, pembuatan 4 prototipe, engineering flight simulator, landing gear drop test, mockup, dan lain-lain.



"4 prototipe, 2 untuk uji terbang, 2 untuk uji darat (fatigue test dan static test). Proses sertifikasi masih ada kendala di kesiapan benda uji (airframe) yang masih dalam tahap perakitan. Tapi masih dalam kendali. Sedangkan uji terbang rencananya April-Mei 2016," tuturnya.

N219 dan Twin Otter

Twin Otter adalah pesawat penumpang sipil ini terkenal lincah dan tangguh di medan maupun kondisi ekstrem. Masyarakat yang tinggal di wilayah seperti di Papua, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara Timur, maupun pilot-pilot pesawat sejenis telah mengakui kehebatannya.

Saat ini, populasi Twin Otter di langit Indonesia semakin berkurang, padahal kebutuhan pesawat sejenis makin meningkat dari tahun ke tahun. N-219 sendiri dikembangkan agar memiliki kemampuan dan maintanance yang sama seperti Twin Otter.

"Studi pasar di awal adalah bagaimana membuat pesawat untuk Papua (perintis). Dan juga menghadang Twin Otter termasuk kita pelajari apa yang membuat pesawat ini laku keras dan digemari operator dan pilot. Teknologi strukturnya (N-219) mengadopsi teknologi yang sudah dikuasai yaitu NC-212. Tapi performans dan maintanance inginnya seperti Twin Otter," imbuhnya.

Agus menambahkan, N-219 menggunakan engine yang sama dengan Twin Otter, Pratt & Whitney PT6A-42. Direncanakan harga jual N-219 lebih murah yakni USD 5 juta dibanding Twin Otter, USD 7 jutaan.

Dengan desain baru, N-219 memiliki sejumlah kelebihan lainnya. "Twin Otter punya stall speed 59 knot dengan beban maksimum MTOW (pesawat dan penumpang) hanya 5.630 kg sedangkan N-219 dengan stall speed 59 knot dan sedang diupayakan lebih rendah lagi dan MTOW-nya 7.030 kg. Sedangkan engine sama, harusnya juga sama (biaya operasionalnya)."

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis dan Pemasaran PT DI, Ade Yuyu Wahyuna, menilai prospek pasar komersial pesawat sekelas N-219 masih cukup besar. Hingga kini, sudah ada pembeli potensial yang tertarik dengan pesawat N-219.

"Kalau dari skala bisnis kalau terjual 40 unit itu sudah kembali modal. Untuk mencapai angka itu saja dengan kami kemarin membina 3 perusahaan operator dalam negeri antara lain PT Aviastar Mandiri, PT Trigana Air Service dan PT NBA (Nusantara Buana Air) itu sudah ada Letter of Intens (Surat Pernyataan Minat). Kalau dari kebutuhan mereka kita kumpulin itu sudah lebih dari 50 unit," ucapnya.

Ade mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan pengkajian rute-rute penerbangan perintis yang cocok bagi N-219. Maluku, Papua, Sulawesi dan Nusa Tenggara adalah beberapa wilayah yang difokuskan untuk dilakukan pengkajian.

"Kita rencana ada kerjasama dengan operator baru sekarang sedang dikaji dulu karena kita fokuskan di daerah perintis timur Indonesia, jadi kami sedang siapkan tim untuk masuk ke daerah paling ujung kita mulai dari Biak, Manado dan Nusa Tenggara. Itu bukan cuman jumlah tapi potensi rutenya, load dari penumpang, dan lain-lain," tuturnya.

"Untuk tahap awal kalau kita bagi 3 region di Timur itu sekitar 50 pesawat dibutuhkan. Maluku, Papua, Sulawesi dan Nusa Tenggara sampai di pulau terluar dan pulau terdepan di dekat Filipina. Kita lebih mencoba konektivitas kemaritiman melalui udara karena bisa menang dari waktu dan mobilitas."



N-219 Diminati Negara Lain

Pesawat N-219 rencananya akan dibuat menjadi beberapa varian yakni Passenger Transport, Troop Transport, Cargo Transport, Medical Evacuation (Medvac), Amphibious, Surveillance dan Patrolling.

Selain diminati untuk keperluan sipil, pihak militer juga menunjukkan ketertarikannya untuk mengganti pesawat yang sudah lawas. "TNI AL untuk Nomad 1 Skadron (9-15 pesawat), Thailand (Nomad) itu pengawas pantai (18 plus cadangan 2)," terang Agus.

'Gaung' N-219 juga terdengar hingga dunia Internasional. Menurut Ade, saat Konfrensi Asia-Afrika pada April 2015 kemarin, sejumlah negara yang berpartisipasi mengaku berminat membeli N-219. "Kita masuk di negara-negara yang membutuhkan. Kita coba di negara-negara yang kemarin ikut di Konfrensi Asia-Afrika yang membutuhkan pesawat sekelas N-219 dan mereka mengapresiasi. Bahkan bulan depan kita akan membicarakan dengan Presiden Mesir mengenai produk ini," katanya.

Ade menuturkan, pihaknya sudah memiliki daftar beberapa negara yang potensial membeli pesawat N-219. Pihaknya juga berterima kasih atas bantuan Kementrian Luar Negeri yang membantu mempromosikan karya anak bangsa ini di dunia Internasional.

"Ada Bangladesh, Madagaskar, Thailand, beberapa negara di Afrika, dan lain-lain. Alhamdulillah, Kementerian Luar Negeri melalui perwakilannya sampai hari ini dukungannya sangat membantu kami. Kita juga sedang meyiapkan untuk Jepang. Untuk pariwisata dan pertanian kalau di daerah Jepang, ini ada potensi," jelasnya.

Selain itu, Kanada menawarkan kerjasama untuk menyertifikasi N-219 di negaranya. Setiap negara yang tergabung dalam ICAO (International Civil Aviation Organization) memiliki badan otoritas sendiri. Jika pesawat ingin dijual atau beroperasi di negara lain, diharuskan disertifikasi oleh badan otoritas setempat.

Namun Direktur Utama, Budi Santoso, juga meminta agar tim fokus untuk menyelesaikan prototipe, sertifikasi dan memasok kebutuhan dalam negeri. "Masalah kita adalah manpower kita masih terbatas. Kalau nggak fokus dan bertahap nanti bisa bubar semua," tutupnya. (Ein/Mut)

Sumber :
http://news.liputan6.com/read/2295367/merakit-kejayaan-dirgantara-ri-dengan-pesawat-n-219?p=1








Related Posts
Asteroid lebih tinggi dari Menara Big Ben dekati bumi tidak berbahaya
24 Jul 2019
Jakarta (ANTARA) - Asteroid yang lebih tinggi dari Menara Jam Big Ben di London, Inggris, meluncur dengan kecepatan 19,17 km per detik melintas dekat bumi dengan jarak terdekat 219.375 mil…
Produksi Asli Indonesia : Pesawat N-219 Akhirnya Keluar Hanggar
11 Dec 2015
BANDUNG. - Pesawat N-219 akhirnya diperkenalkan kepada publik melalui kegiatan roll out (keluar hanggar). Sedianya pesawat ini akan diberi nama oleh Presiden Joko Widodo namun batal karena kepala negara berhalangan…
PT DI Perkenalkan N 219
10 Dec 2015
BANDUNG-LAPAN dan PT DI akhirnya berhasil memperkenalkan pesawat buatan anak negeri, N 219 kepada masyarakat dan pejabat negara, melalui kegiatan rolling out.Menkopolhukam Luhut B. Panjaitan datang mewakili presiden untuk meresmikan…
LAPAN Siapkan Rp 450 Miliar Untuk Bangun Pesawat
04 Nov 2015
BANDUNG - Untuk memproduksi pesawat CN 219, LAPAN dan PT DI sudah menyiapkan anggarannya. Setidaknya dari LAPAN telah disediakan anggaran miliaran rupiah.“Kami mempersiapkan dana sebesar Rp 450 miliar, sejak tahun…
SOLUSI MENTERI YUDDY AGAR PT. DI TIDAK UP AND DOWN
03 Nov 2015
BANDUNG - Dalam kunjungan kerja ke PT. Dirgantara Indonesia (DI), sabtu (31/10), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), mengatakan bahwa sudah sejak lama PT. DI yang sebelumnya bernama…
Setelah N219, PT DI dan Lapan bakal bikin N245 dan N270
03 Nov 2015
Merdeka.com - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) makin berambisi mengembangkan dan membuat pesawat produksi dalam negeri. Walau sertifikasi untuk pesawat N219 belum tuntas, PT DI sudah menyampaikan ambisinya mengembangkan pesawat…
Saran Menteri Yuddy agar PTDI Kembali Berjaya
03 Nov 2015
Liputan6.com, Jakarta - Akhir pekan kemarin, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandy mengadakan kunjungannya ke PT Dirgantara Indonesoa (Persero) (PTDI) yang berlokasi di Bandung.Dalam kunjungannya tersebut, Yuddy…
Menristekdikti Dukung Hasil Riset LAPAN
05 Nov 2014
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Dalam kunjungannnya ke LAPAN M. Nasir disambut langsung oleh Kepala LAPAN, Thomas…
5 Fakta seputar pesawat N219 buatan anak negeri
26 Feb 2014
Merdeka.com - Industri penerbangan dan kedirgantaraan di Indonesia sudah berumur lebih dari setengah abad. Namun, kiprah dan cemerlangnya industri ini dikenal saat era kepemimpinan Presiden Soeharto. Saat itu Indonesia punya…
Setelah N219, PT DI dan Lapan bakal bikin N245 dan N270
25 Feb 2014
Merdeka.com - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) makin berambisi mengembangkan dan membuat pesawat produksi dalam negeri. Walau sertifikasi untuk pesawat N219 belum tuntas, PT DI sudah menyampaikan ambisinya mengembangkan pesawat…
Ini para pemesan pesawat N219 buatan PT DI dan Lapan
25 Feb 2014
Merdeka.com - PT Dirgantara Indonesia (PT KAI) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menargetkan pesawat N 219 mengudara pada 2016. Itu artinya, pesawat buatan anak negeri tersebut ditargetkan lolos…
Lapan dan PT DI rakit roket canggih jarak tembak 100 Km
25 Feb 2014
Merdeka.com - Selain proyek kerja sama pembuatan pesawat, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) juga tengah mengembangkan proyek lain. Yaitu pembuatan roket canggih yang…
Lapan dan PT DI habiskan Rp 400 miliar kembangkan N219
25 Feb 2014
Merdeka.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menghabiskan anggaran sekitar Rp 400 miliar untuk pengembangan pesawat N219 bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Dana ini akan digunakan untuk dua…
Kemristek Luncurkan Pesawat Tanpa Awak
31 Jul 2013
Jurnas.com | KEMENTERIAN Riset dan Teknologi (Kemristek) akan memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 tahun 2013. Puncak peringatan Hakteknas tahun ini akan dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII)…

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL