Kompetensi Utama

Layanan


LiDAR Mampu Deteksi Struktur Hutan
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 20 Aug 2015 • Dibaca : 34221 x ,

Deputi Bidang Penginderaan Jauh menyampaikan sambutan saat pembukaan workshop.

LAPAN saat ini menjadi penyedia data penginderaan jauh nasional. Data tersebut bukan hanya diperoleh dari satelit penginderaan jauh, melainkan juga dari berbagai wahana termasuk Light Detection and Ranging (LiDAR). Data-data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan oleh lembaga lain sesuai dengan kebutuhannya.

Hal tersebut dijelaskan oleh Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN, Dr. Orbita Roswintiarti, saat membuka Workshop on LiDar Data Processing for Supporting National Forest Monitoring System di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (19/8). Kegiatan ini merupakan kerja sama pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat. Workshop diikuti berbagai lembaga terkait pemantauan hutan dan lingkungan.

LiDAR merupakan pemindai laser tiga dimensi. Alat tersebut dapat ditempatkan di pesawat udara sehingga mampu memindai area lahan yang luas searah dengan pergerakan pesawat. Dalam kegiatan kerja sama tersebut, LiDAR dimanfaatkan untuk kepentingan pemantauan hutan di Indonesia.

Orbita menjelaskan, dalam proyek penelitian bersama ini, LiDAR telah digunakan untuk memetakan daerah hutan di Kalimantan seluas 100.000 hektar. Jika hasilnya memuaskan, ia mengatakan, kegiatan dalam pemanfaatan LiDAR dapat diperluas ke wilayah lain di Indonesia.

Hutan menjadi fokus dalam proyek LiDAR tersebut. Hal ini disebabkan, hutan memiliki fungsi yang penting bagi bumi. Dr. Ruandha Agung Sugardiman dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan bahwa perubahan iklim saat ini sedang terjadi. Untuk itu perlu dilakukan konservasi hutan dengan tujuan mereduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Cara untuk konservasi hutan yaitu dengan pemantauan hutan guna measurement, reporting, dan verification (MRV). MRV dapat dilakukan dengan data-data penginderaan jauh.

LiDAR sangat cocok digunakan dalam MRV atau pemantauan hutan. Dr. Stephen Hagen dari Applied Geo Solution, saat menjadi pembicara dalam workshop, menjelaskan bahwa airborne LiDAR (LiDAR yang ditempatkan di pesawat udara) merupakan cara yang akurat dalam mengumpulkan informasi mengenai karakteristik hutan. Cara tersebut sangat baik untuk menginventaris permukaan tanah.

Ia melanjutkan, inventarisasi lahan dengan cara pemantauan melalui jalur darat memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Namun, dengan menggunakan airborne LiDAR, survey berskala luas dapat dilakukan dengan biaya yang jauh lebih efektif. Selain itu, data yang dihasilkan LiDAR tersebut juga memiliki akurasi yang tinggi dalam menaksir struktur hutan, bahkan akurasinya dapat dibandingkan dengan pengukuran lapangan.

LiDAR memiliki sensitivitas tinggi dalam melihat struktur hutan. Sistem ini memiliki kemampuan dalam mendeteksi lahan daerah bekas penebangan hutan, jejak bekas jalan di tanah, dan bekas pohon-pohon yang dipindahkan. Dengan sensitivitasnya tersebut, maka sistem ini akan dapat membantu dalam inventarisasi pepohonan, pemetaan habitat makhluk hidup hutan, dan membuat model kebakaran hutan. Dalam aplikasi pemantauan kehutanan, LiDAR sangat bermanfaat untuk validasi pemetaan tutupan lahan, penghitungan perkiraan biomass hutan, penghitungan perkiraan adanya penebangan hutan dan intensitasnya, serta identifikasi karakteristik tanaman.

Sifat data LiDAR yang detail dapat digunakan di berbagai bidang selain kehutanan. Contohnya yaitu untuk menghitung volume, geomorfologi, dan struktur geologi suatu wilayah. Data-data LiDAR juga sangat bermanfaat untuk kebutuhan hidrologi, pertambangan, pertanian, dan perencanaan pembangunan kota.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL