Kompetensi Utama

Layanan


Indonesia Mampu Bangun Satelit, Lapan A2/Orari Berhasil Mengorbit
Penulis : MZW • Media : Kompas Print • 30 Sep 2015 • Dibaca : 36570 x ,

JAKARTA, KOMPAS — Satelit Lapan A2/Orari berhasil ditempatkan di orbit pada ketinggian 650 kilometer, Senin (28/9). Meski butuh sebulan lagi untuk memastikan satelit berfungsi optimal, capaian itu menunjukkan bangsa Indonesia mampu menguasai teknologi satelit secara mandiri.

Tamu undangan di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Jakarta, menonton peluncuran satelit Lapan A2/Orari melalui layar lebar yang menyiarkan secara langsung dari India, Senin (28/9) pukul 11.30 WIB. Lapan A2/Orari adalah satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya hasil pengembangan para peneliti dan perekayasa Lapan. 

Tamu undangan di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Jakarta, menonton peluncuran satelit Lapan A2/Orari melalui layar lebar yang menyiarkan secara langsung dari India, Senin (28/9) pukul 11.30 WIB. Lapan A2/Orari adalah satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya hasil pengembangan para peneliti dan perekayasa Lapan.

”Teknologi satelit jadi lompatan untuk membangun kepercayaan diri bangsa dan kebanggaan nasional sekaligus jadi pengungkit kemajuan yang lebih luas bagi bangsa Indonesia,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin di Jakarta seusai menyaksikan peluncuran satelit.

Lapan A2/Orari adalah satelit pertama yang murni dirancang dan didesain ahli Lapan serta diproduksi dan diuji memakai fasilitas di Indonesia. Itu satelit pertama Indonesia yang mengorbit di dekat Khatulistiwa sehingga bisa melintasi wilayah Indonesia 14 kali sehari.

Satelit Lapan itu diluncurkan dari Bandar Antariksa Satish Dhawan Sriharikota, India, pukul 11.30 WIB dengan roket peluncur PSLV C-30. Roket empat tingkat itu juga membawa satelit astronomi India, Astrosat; satelit nano Kanada, NLS-14; dan empat satelit nano Lemur asal AS.

Roket mencapai orbit pada ketinggian 650 kilometer, 21,93 menit sesudah peluncuran. Lalu, 35 detik kemudian, satelit Astrosat dilepaskan. Berturut-turut dilepaskan ke orbit satelit Lapan A2/Orari, NLS-14, dan Lemur 1-4 berjeda 30-35 detik.

Setelah pelepasan, tim Lapan menjejak keberadaan satelit menggunakan fasilitas stasiun Bumi di Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) Lapan Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, serta Balai Penjejakan dan Kendali Wahana Antariksa Lapan di Biak, Papua.

Penjejakan berdasarkan parameter orbit satelit yang diberikan roket peluncur dan data obyek baru di antariksa dari Komando Pertahanan Ruang Angkasa Amerika Utara (Norad). ”Butuh 3-7 hari untuk memastikan keberadaan satelit Lapan di antara satelit-satelit baru yang diluncurkan,” kata peneliti Pusteksat Lapan, Abdul Rahman.

Sebelum satelit dioperasikan, tim Lapan butuh satu bulan memastikan semua sistem, dari instrumen hingga komponen terkecil, berfungsi optimal. Pengecekan perlu karena sepanjang perjalanan menuju orbit, satelit mengalami guncangan, tekanan, dan perubahan suhu ekstrem.

Meski demikian, 90 persen komponen satelit masih diimpor. Kondisi itu, menurut Kepala Pusteksat Lapan Suhermanto, beberapa waktu lalu, karena tidak ada laboratorium fisika atau industri nasional yang memproduksi komponen dan instrumen yang dibutuhkan satelit. (MZW)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 September 2015, di halaman 15 dengan judul "Indonesia Mampu Bangun Satelit".

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/09/29/Indonesia-Mampu-Bangun-Satelit?utm_source=bacajuga








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL