Kompetensi Utama

Layanan


Made In Indonesia Mengorbit di Luar Angkasa
Penulis : antara/c34, editor: fitriyan zamzami • Media : Republika e-Paper • 30 Sep 2015 • Dibaca : 33949 x ,

SRIHARIKOTA- Organisasi Penelitian Antariksa India (ISRO) sukses meluncurkan peluncur satelit PSLV-C30 dari Pusat Antariksa Satish Dawan, Sriharikota, Senin (28/9). Bersama roket tersebut berhasil diorbitkan juga satelit Lapan A2/Orari yang dikembangkan sepenuhnya oleh ilmuwan Indonesia.

"Misi peluncuran berhasil. Ini adalah upaya yang terkoordinasi dan terencana dengan baik," kata Direktur Pusat Antariksa Satish Dawan, P Kunhikrishnan, seperti dikutip Times of India, kemarin. Sekira 25 menit selepas peluncuran, PSLV-C30 berhasil menempatkan tujuh satelit yang dibawanya dalam orbit bumi.

Satelit utama yang diluncurkan dengan PSLV-C30 adalah satelit pengamatan antariksa Astrosat milik India. Sebanyak enam satelit lainnya milik berbagai negara menumpang peluncuran tersebut. Salah satunya satelit Lapan A2/Orari milik Indonesia. Satelit tersebut diorbitkan pada ketinggian 650 kilometer (km) di atas permukaan bumi. Satelit tersebut diluncurkan pukul 11.30 WIB atau pukul 10.30 waktu setempat.

Menurut situs resmi Lapan, Lapan A2 merupakan satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya hasil pengembangan para peneliti dan perekayasa Lapan. Seluruh kegiatan perancangan, pembuatan, dan pengujiannya selesai pada Agustus 2012 di dalam negeri.

Sebelumnya, Lapan berhasil melaksanakan program pembangunan satelit Lapan-A1/ Lapan-Tubsat, hasil kerja sama dengan TU Berlin, Jerman. Lapan-A1 telah diluncurkan pada 2007 dan saat ini masih berada di orbit pada ketinggian 630 kilometer, tetapi masa operasionalnya telah berakhir pada 2013.

Direktur Pusat Teknologi Satelit Lapan, Suhermanto, pernah menjelaskan, sebanyak 90 persen komponen Satelit Lapan A2 masih didatangkan dari luar negeri atau impor. "Komponen yang didatangkan dari luar negeri umumnya elektronika seperti cip, sensor, transmiter, termasuk logam dan kamera," kata Suhermanto tentang satelit yang mulai diproduksi sejak 2009 itu.

Ia berharap ke depannya industri elektronika di Indonesia mampu mendukung teknologi pembuatan satelit sehingga Lapan hanya perlu mendesain dan menguji komponen satelit. Ia menuturkan, mestinya Lapan A2 diluncurkan pada 2012, tetapi terkendala pengujian.

Suhermanto memaparkan, biaya peluncuran satelit Lapan A2 sekitar separuh dari harga normal peluncuran satelit utama yang mencapai 10 ribu dolar AS (sekitar Rp 140 juta) per kilogram, belum termasuk asuransi. Dengan berat 76 kilo, biaya peluncuran bisa mencapai Rp 10 miliar.

Jaga kedaulatan

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menjelaskan, roket pertama berba han bakar padat dilepas 1 menit 52 detik sejak peluncuran. Roket kedua berbahan bakar cair dile pas setelah 4 menit 23 detik, roket ketiga berbahan bakar padat dilepas setelah 9 menit 48 detik, dan roket keempat berbahan bakar cair dimatikan setelah mencapai orbit dalam waktu 21 menit 56 detik.

Menurut Thomas, Lapan A2 dilepas pada ketinggian 650,16 km atau setelah 22 menit 33 detik meluncur bersama roket. Satelit nano milik Kanada, yakni Exact - View 9, dilepas pada ketinggian 650,14 km atau setelah 23 menit 28 detik, dilanjutkan pelepasan empat satelit nano milik AS bernama Lemur 2, 3, 4, dan 5 pada ketinggian 650 km atau setelah 25 menit 33 detik.

Satelit mikro Lapan A2 dengan berat 76 kilogram tersebut membawa video dan kamera digital untuk mengambil gambar bumi dari orbit ekuator dengan inklinasi enam derajat, ditambah muatan untuk sistem pelacakan kapal dan peralatan radio amatir.
Satelit yang diluncurkan tersebut, kata dia, memiliki fung si 80 persen eksperimen dan 20 persen operasional. Ia akan melintasi wilayah Indonesia 14 kali setiap hari dengan periode orbit 100 menit.

Tugas selanjutnya yang harus dilakukan selepas peluncuran, menurut Thomas, yakni menguji fungsi satelit Lapan A2 tersebut di Rancabungur, Bogor, dengan mengunduh data power control unit telemetry yang memberi informasi konsumsi daya listrik dan temperatur tiap komponen satelit. Selain itu, perlu dicek data sensor matahari pada enam sisi satelit dan timersejak satelit memisahkan diri dari Astrosat.

Lapan, kata dia, juga bekerja sama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) untuk menguji komunikasi melalui satelit itu selama satu bulan ke depan. Satelit itu, lanjut dia, memiliki misi untuk penggunaan radio amatir saat bencana dan identifikasi pulau terluar di Indonesia.

Alat itu diharapkan dapat membantu menjaga kedaulatan Indonesia dengan memantau lalu lintas kapal, operasi keamanan laut, perikanan, dan eksplorasi sumber daya kelautan Indonesia. Dengan dilengkapi automatic identification system (AIS), satelit mikro ini diharapkan mampu mendeteksi hingga ribuan kapal dengan cakupan area pengamatan mencapai ribuan kilometer.

Di Indonesia, peluncuran Lapan A2 diresmikan Presiden Joko Widodo di Bogor, Jawa Barat, pada 3 September lalu. Saat itu Presiden berpesan, Indonesia harus memiliki satelit multi fungsi untuk memantau pertanian, cuaca, sampai maritim. "Saya kira fungsi-fungsi ini yang ingin ke depan dikembangkan Lapan," kata Kepala Negara di Pusat Teknologi Satelit Lapan, Bogor.

Presiden menjanjikan tambahan anggaran untuk bidang riset dan pengembangan. Dengan syarat, penelitian tersebut harus berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan masyarakat. 

Sumber: http://epaper.republika.co.id/main








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL