Kompetensi Utama

Layanan


Data Satelit: Kebakaran Hutan atau Lahan di Indonesia Masih Terjadi
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Dok. Pusfatja • 02 Oct 2015 • Dibaca : 57167 x ,

Titik Api terlihat di berbagai wilayah di Indonesia

Kebakaran hutan dan Lahan di berbagai wilayah Indonesia saat ini telah menjadi perhatian nasional. Berbagai pihak berupaya untuk menangani kebakaran tersebut. Untuk itu, LAPAN terus memberikan informasi berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa untuk membantu mengatasi kebakaran itu. LAPAN menyediakan data satelit penginderaan jauh untuk memantau kebakaran lahan atau titik panas di Indonesia. Selain itu, LAPAN juga memberikan analisis mengenai kondisi iklim dan atmosfer yang dapat dapat mempengaruhi kebakaran hutan atau lahan.

Hasil pemantauan satelit kemudian diolah sebagai bagian dari respon tanggap darurat berbasis data satelit. Dengan adanya data satelit tersebut, maka akan membantu berbagai pihak terkait dalam menyusun rencana aksi penanganan bencana tersebut. Citra satelit dapat menunjukkan keberadaan titik panas yang dapat menjadi indikasi terjadinya kebakaran hutan.

Dalam informasi hot spot (titik panas) yang disusun LAPAN berdasarkan citra satelit Terra, Aqua, dan S-NPP pada 1 hingga 2 Oktober, terlihat adanya titik panas yang digambarkan sebagai titik berwarna merah. Titik panas antara lain terdapat di  Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Total jumlah titik panas di Indonesia pada 2 Oktober 2015 mencapai 2127 titik. Tingkat kepercayaan informasi ini lebih dari 80 persen. Citra satelit yang menggambarkan sebaran titik panas tersebut dapat diakses pada website http://modis-catalog.lapan.go.id.

Sejumlah kebakaran hutan atau lahan tersebut mengakibatkan adanya sebaran asap. Sebaran asap tersebut ditunjukkan adanya warna putih dalam citra satelit. Menurut Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN, Dr. Rokhis Komarudin, berdasarkan citra satelit yang diperoleh LAPAN, belum ada trend penurunan jumlah titik panas selama satu bulan terakhir. Titik panas menyebar di berbagai wilayah di Indonesia dan titik panas terbanyak terdapat di wilayah Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan citra satelit, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan juga masih diselimuti asap akibat kebakaran hutan atau lahan. Dalam citra satelit, terlihat wilayah yang terdapat asap diselimuti warna putih transparan.

Banyaknya titik panas tersebut harus terus diwaspadai karena akan berpengaruh pada meluasnya kebakaran hutan. Apalagi, saat ini Indonesia masih berada dalam musim kemarau. Curah hujan yang lebih sedikit pada musim kemarau ini tentunya akan menyulitkan pemadaman api di lahan atau hutan yang terbakar.

Menurut Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN, Halimurrahman, diperkirakan puncak kemarau tahun ini akan terjadi pada November dan Desember. Untuk itu, perlu diwaspadai pengaruhnya terhadap kebakaran hutan. Namun, hujan mungkin saja terjadi meskipun durasinya pendek sekitar dua hingga tiga jam karena dipengaruhi oleh Madden-Julian Oscillation. Hasil prediksi LAPAN menunjukkan angin akan berubah dari musim kemarau ke musim hujan pada Desember.

Saat ini kekeringan terlihat bergerak ke daerah timur Indonesia. Hal ini dapat dilihat semakin banyaknya titik api di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Peneliti LAPAN, Erma Yulihastin, mengatakan bahwa saat ini di Sumatera sudah mulai banyak awan sehingga sudah ada hujan. Contohnya hari ini, di Pekanbaru telah terjadi hujan. Ini tentunya dapat mengurangi kebakaran hutan.

Justru kecenderungan kekeringan saat ini berada di wilayah yang lebih timur dan ini perlu diwaspadai. Di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur mengalami uap air di atmosfer cenderung kering. Kekeringan di wilayah ini dipengaruhi oleh aspek laut di atas Pulau Jawa, NTB, dan NTT, Laut Banda, serta Laut Maluku. Berdasarkan pengamatan atmosfer, terjadi kekeringan di perairan lokal tersebut. Kekeringan yang disebabkan El Nino tersebut kemudian terjadi pula di wilayah Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan NTT.

Di wilayah Barat Indonesia kondisinya lebih baik karena ada pengaruh dari siklon Filipina. Awan siklon ini menuju ke Sumatera sehingga di wilayah tersebut mengalami hujan. Akan tetapi, kebakaran hutan atau lahan di wilayah ini tetap perlu diwaspadai mengingat siklon dapat berakhir dan Sumatera akan kembali kering.



Informasi Hotspot yang terdapat di wilayah Indonesia



Contoh citra satelit wilayah di Kalimantan yang terdapat hotspot




Contoh citra satelit wilayah di Sumatera yang terdapat Hotspot



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL