Kompetensi Utama

Layanan


Dampak Kemarau Krisis Air Bersih di Temanggung Meluas, Musim Tanam Sebaiknya Mulai 2016
Penulis : SM/Ant/N-3 • Media : Koran Jakarta • 06 Oct 2015 • Dibaca : 9410 x ,

BANDUNG - Musim hujan yang diprediksi terjadi pada Desember 2015 diharapkan secara perlahan dapat meredam dampak kekeringan. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) belum menyarankan musim tanam hingga Desember 2015 bagi wilayah di Pulau Jawa yang mengandalkan hujan sebagai sumber utama pengairan. Musim tanam sebaiknya mulai tahun depan.

“Sawah tadah hujan tidak direkomendasikan untuk tanam padi, cari alternatif tanaman lain seperti palawija. Kecuali jika ada irigasi teknis. Sebab hujan yang turun meski tidak merata ini, airnya bisa ditampung di embung atau waduk yang nantinya disalurkan lewat irigasi teknis,” kata Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lapan, Halimurrahman, di Bandung, Senin (28/9).

Menurut Halimurrahman, curah hujan yang turun pada Desember 2015 tersebut diprediksi berada di bawah normal. Sebab musim hujan nanti adalah musim hujan tidak normal. Artinya curah hujan lebih sedikit.

Dia menyatakan meski belum memasuki musim penghujan, selama bulan Oktober hingga Desember, masih memungkinkan akan terjadi turun hujan. Namun hujan itu hanya terjadi secara lokal saja. Atau kemungkinan adanya upaya membuat hujan lokal. “Memasuki Desember hujan mulai banyak dan merata. Musim hujan pertama diprediksi akan masuk di wilayah utara pulau Sumatra,” ujarnya.

Hujan Lokal

Peneliti Lapan lainnya, Erma Yulihastini, mengatakan hujan yang terjadi di beberapa kota di Pulau Jawa, seperti di Bandung dan Jakarta bukan berarti musim hujan sudah datang. Musim hujan belum datang karena hujan yang terjadi baru secara lokal saja, atau hanya di wilayah tertentu saja.

“Hujan hanya lokal saja, selain itu angin timuran masih kencang. Angin Monsun belum masuk. Iring-iringan awan juga belum masuk wilayah Indonesia, karena ada gangguan El Nino,” kata Erma.

El Nino yang terjadi di wilayah Indonesia cukup kuat bahkan lebih tinggi dari prediksi sebelumnya. Ia menyebutkan saat ini El Nino mencapai indeks positif 2,03, dari perkiraan sebelumnya yang berada di bawah positi 0,8 hingga 1,0. El Nino kuat membuat terjadinya anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang lebih hangat dari biasanya. Hal ini mengakibatkan pelemahan sirkulasi angin yang dalam kondisi normal seharusnya bertiup dari Samudra Pasifik menuju Indonesia. Akibatnya, pembentukan awan dan hujan yang seharusnya terjadi di Indonesia pun berpindah ke Samudra Pasifik.

Di sisi lain, suhu permukaan laut di Samudra Hindia di dekat Afrika lebih hangat dibandingkan dengan suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Sumatra. Akibatnya, awan hujan yang seharusnya masuk Sumatra berbalik arah ke Afrika.

“Berdasarkan prediksi 17 model global, El Nino kuat akan terus berlangsung hingga Februari 2016. Puncak El Nino kuat ini akan terjadi pada bulan November dan Desember 2015. Artinya musim kemarau akan terjadi sampai akhir tahun,” tuturnya.

Ia memprediski Indonesia akan mengalami kekeringan parah hingga November bahkan hingga akhir tahun 2015. Meskipun demikian, berdasarkan prediksi model CCAM yang dijalankan oleh LAPAN, pola angin monsun baratan yang menunjukkan musim hujan mulai terbentuk secara stabil pada Desember 2015.

Bambang Siswanto, peneliti Lapan lainnya menambahkan berdasarkan penemuan terkini oleh Wenju Cai, 2015, yang dipublikasikan di Nature Climate Change, terungkap bahwa kejadian El Nino ekstrem tersebut telah meningkat dari sebelumnya yang berlangsung setiap 27-28 tahun menjadi 15-16 tahun.

“Untuk Pulau Jawa, musim kemarau akan terjadi lebih panjang dari normalnya pada tahun 2010-2030. Sebaliknya, musim hujan akan berlangsung lebih pendek dari normalnya,” kata Bambang. Awal musim hujan diproyeksikan mundur dari biasanya, sementara musim kemarau diperkirakan datang lebih cepat dari biasanya selama rentang 2010-2030.

Secara terpisah, Kasi Penanganan Darurat dan Logistik BPBD Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi, mengatakan krisis air bersih di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah meluas hingga terjadi di 17 desa yang tersebar di 11 kecamatan. Semula kekeringan hanya terjadi di sembilan kecamatan, yakni Kandangan, Kaloran, Pringsurat, Kranggan, Jumo, Candirito, Kedu, Tlogomulyo, dan Kledung.

Sumber: http://www.koran-jakarta.com/?36176-musim-tanam-sebaiknya-mulai-2016








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL