Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Kerja Sama Wujudkan Observatorium Nasional dan Pembangunan Daerah
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/SGD • 07 Oct 2015 • Dibaca : 48001 x ,

Foto bersama (atas) dan penandatanganan naskah kerja sama LAPAN dengan berbagai instansi.

LAPAN dan berbagai instansi menandatangani naskah kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa. Penandatangan kerja sama dengan mitra pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi tersebut berlangsung di Balai Pertemuan Dirgantara LAPAN, Rawamangun, Jakarta, Rabu (7/10).

Instansi yang bekerja sama kali ini yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Lampung, Kabupaten Kupang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Kabupaten Majene, Kabupaten Batang, Kabupaten Hulu Selatan, Kabupaten Banjar, Balai Besar Litbang Vektor dan dan Reservoir Balitbangkes Kementerian Kesehatan, dan PT Citra Sari Makmur.

Selain untuk pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa untuk pembangunan daerah, kerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT, Kabupaten Kupang, ITB, dan Undana juga mencakup pembangunan, pengembangan, dan pemanfaatan observatorium nasional di Kupang. Observatorium ini dibangun karena Observatorium Bosscha di Lembang sudah tidak ideal lagi akibat tingginya polusi cahaya dari pertumbuhan rumah penduduk di sekitarnya, sehingga Untuk meningkatkan pengamatan astronomi dan antariksa di Indonesia dan dunia internasional perlu membangun observatorium di Kupang, sedangkan Observatorium Bosscha tetap dioperasikan sebagai observatorium riset dan pendidikan. Selain membangun observatorium, LAPAN bekerja sama dengan Pemprov NTT juga akan membangun Science Education Center di Kupang.

Kepala LAPAN, dalam sambutannya mengatakan bahwa kerja sama ini dalam rangka memanfaatkan potensi-potensi di LAPAN. Kerja sama tersebut dapat dikembangkan untuk diaplikasikan guna kepentingan daerah, kepentingan pembangunan, dan kemajuan daerah. Ia pun menyebutkan bahwa LAPAN memiliki empat kompetensi utama yang dapat digunakan untuk memperdalam kerja sama sesuai kebutuhan para stakeholder.

Ia menambahkan, LAPAN memiliki berbagai program utama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan. Program pertama di bidang sains antariksa yaitu dengan rencana pembangunan observatorium nasional di Kupang. Program kedua yaitu membangun sistem pendukung kebijakan berbasis dinamika atmosfer. Hal ini bertujuan untuk memberi peringatan dini terkait kondisi ekstrem cuaca dan iklim. Program ketiga yaitu mengembangkan teknologi sonda yang akan menjadi cikal-bakal roket peluncur satelit.

Program keempat yaitu pengembangan teknologi penerbangan. Saat ini LAPAN sedang mengembangkan pesawat transportasi N219, yang akan roll out pada Oktober 2015, dan pesawat N245. Selain itu, LAPAN juga mengembangkan pesawat tanpa awak untuk sistem pemantauan maritim berbasis pesawat tanpa awak.

Program kelima yaitu pengembangan teknologi satelit. LAPAN mengembangkan satelit buatan sendiri dengan menggunakan fasilitas yang di Indonesia. Saat ini, LAPAN telah meluncurkan dua satelit yaitu LAPAN-TUBSAT dan LAPAN-A2/LAPAN-ORARI.

Program keenam yaitu pengembangan bank data penginderaan jauh. Program ini yang paling banyak dikembangkan oleh pemerintah daerah untuk pemantauan wilayah dan pembangunan daerah. Pelaksanaan program tersebut sesuai dengan Inpres Nomor 6 Tahun 2012 dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.

Program ketujuh yaitu pengembangan sistem pemantauan bumi nasional untuk kebakaran hutan dan asap. Dengan program ini, maka kebakaran hutan dan asap dipantau selama 24 jam. Hasil pemantauan tersebut kemudian diinformasikan ke berbagai instansi seperti Kantor Kepresidenan, para menteri, dan para gubernur agar langkah-langkah antisipasi dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Dengan program-program tersebut, LAPAN berupaya untuk berkontribusi dalam mempercepat pembangunan. LAPAN juga memberikan informasi mengenai potensi bencana berbasis antariksa serta berbasis sains dan teknologi sesuai kompetensi LAPAN.

Dalam acara ini, Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, Alex Noerdin, mengatakan bahwa kerja sama dengan LAPAN sangat penting. Hal ini disebabkan kompetensi yang dimiliki LAPAN, selain untuk pembangunan daerah, juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan early warning system atau peringatan dini terkait timbulnya hotspot (titik panas). Selama ini, dengan adanya peringatan dini, maka pemerintah dapat melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kebakaran hutan.

Sementara itu, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, berharap kerja sama ini akan memacu percepatan pembangunan kabupaten kupang. Ia merasa bangga karena NTT layak untuk dijadikan lokasi observatorium dan science education center. Untuk itu, ia mendukung penuh kegiatan pembangunan observatorium tersebut. Selain itu, ia juga berharap, kerja sama dengan berbagai lembaga penelitian yaitu LAPAN, ITB, dan Undana, akan menghasilkan data dan analisis ilmiah yang akan menjadi masukan yang baik bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL