Kompetensi Utama

Layanan


Kepala LAPAN: Mempelajari Antariksa Memberikan Manfaat bagi Bangsa
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 10 Oct 2015 • Dibaca : 244889 x ,

Kepala LAPAN memaparkan mengenai proses peluncuran satelit.

Saat kejatuhan apel, Newton berpikir bahwa semua benda pasti jatuh. Ia kemudian berpikir lagi, mengapa bulan mengitari bumi, dan bumi mengitari matahari. Kemudian, ia menemukan jawabannya, yaitu karena adanya gravitasi. Pemikirannya mengenai gravitasi tersebut kemudian ia rumuskan, dan hingga kini penerapannya luar biasa, mulai dari penentuan objek-objek langit, hingga membawa manusia mengekplorasi luar angkasa seperti mengirimkan satelit bahkan mengirimkan manusia ke Bulan.

Hal tersebut dijelasakan oleh Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat menjadi pembicara dalam acara Star Party, yang merupakan rangkaian Pesta Rakyat Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Jumat (9/10). Tema kegiatan ini yaitu From Apple to The Moon, yang membahas mengenai bagaimana teori Newton berhasil membawa manusia mendarat di Bulan. Kegiatan ini diikuti oleh 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan siswa SMU pecinta astronomi.

Ia melanjutkan, satelit dapat mengelilingi bumi karena memiliki prinsip yang sama dengan apel yang jatuh tersebut. Caranya, satelit dilempar kuat ke luar bumi dengan menggunakan roket peluncur. Kemudian, karena jatuhnya satelit tersebut tidak sampai ke permukaan bumi maka satelit tersebut mengelilingi bumi. “Jadi, gerak orbit satelit sebenarnya merupakan gerak jatuh ke bumi,” ujarnya.

Proses peluncurkan satelit tersebut juga menggabungkan berbagai teori astronomi seperti Kepler tentang hukum pergerakan planet, dan penemuan-penemuan Galilei. Seperti halnya peluncuran satelit LAPAN-A2/ ORARI pada 28 September 2015, teori-teori tersebut juga diaplikasikan. Dengan demikian, LAPAN-A2 dapat terus berputar mengelilingi Bumi di ketinggian 650 kilometer. LAPAN-A2 merupakan satelit yang membawa kamera untuk pengamatan bumi, sistem identifikasi kapal laut, dan sistem komunikasi radio amatir.

Proses yang sama juga berlaku untuk pendaratan ke Bulan pada 1969 dengan menggunakan wahana antariksa, Apollo. Wahana antariksa tersebut diluncurkan dengan menggunakan roket untuk diterbangkan di orbit tertentu. Ketika sudah mengorbit bumi, maka roket dimatikan. Pada titik tertentu roket dinyalakan kembali seakan-akan untuk memberikan tendangan agar dapat pindah ke orbit bulan, ini disebut dengan cambukan gravitasi. Setelah itu, roket pengereman digunakan untuk mendarat di permukaan bulan. Teori yang sama juga digunakan untuk penerbangan antarplanet seperti yang dilakukan oleh Voyager.

Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN, Clara Yono Yatini, dalam acara tersebut, mengatakan bahwa teori gravitasi ini telah menjadi dasar untuk meluncurkan wahana ke antariksa, yang kemudian menginspirasi manusia untuk melakukan eksplorasi tata surya, misalnya pendaratan manusia di bulan, penjelajahan ke Mars dan planet-planet lain, serta penjelajahan ke asteroid dan komet.

Menurut Kepala LAPAN, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa sangat penting. Hal ini disebabkan, antariksa memiliki banyak pemanfaatan. Untuk itulah, LAPAN melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang ini. Ia menjelaskan, sains antariksa dan atmosfer digunakan untuk mempelajari cuaca dan musim di antariksa serta dinamika atmosfer yang dapat memberikan pengaruh pada kehidupan manusia di bumi. Ia mencontohkan pemanfaatan sains antariksa yaitu untuk memprediksi terjadinya badai matahari yang dapat berbahaya bagi teknologi tinggi buatan manusia. Kemudian, teknologi penerbangan dan antariksa dipelajari untuk mengembangkan pesawat transportasi dan membuat satelit dan roket peluncurnya. Berikutnya, penginderaan jauh yaitu memanfaatkan satelit untuk pengamatan permukaan bumi. Salah satu contohnya, melalui satelit, LAPAN mengamati titik panas terkait kebakaran hutan selama 24 jam. Yang terakhir yaitu di bidang kajian kebijakan. Kajian ini diperlukan agar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa dapat memberikan manfaat bagi seluruh bangsa Indonesia.

Mengingat manfaat mempelajari antariksa yang sangat besar, Kepala LAPAN mengajak peserta untuk berupaya menguasai ilmu tersebut. Ia berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus mampu mandiri di bidang antariksa karena saat ini kehidupan manusia banyak bergantung pada teknologi ini, misalnya satelit yang digunakan untuk mendukung alat komunikasi. Untuk itu, LAPAN berupaya mewujudkan kemandirian bangsa di bidang tersebut.

Dalam acara tersebut, Clara juga berpendapat bahwa ilmu mengenai astronomi dan antariksa menyentuh kehidupan sehari-hari manusia. Ia juga mengingatkan mengenai pentingnya menjaga lingkungan di Bumi. Hal ini disebabkan, hasil dari eksplorasi tata surya hingga saat ini, di tengah alam semesta yang luas, hanya Bumi yang bisa ditinggali. Untuk itu, tugas manusialah menjaga planet ini.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL