Kompetensi Utama

Layanan


Kerja Sama LAPAN-KLHK: Data Spasial Penting untuk Lingkungan Hidup
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 15 Oct 2015 • Dibaca : 50496 x ,

Kepala Biro Kerjasama dan Humas LAPAN (kanan) dan Kepala P3EJ saat penandatanganan kerja sama,

Bagi lingkungan hidup, data-data spasial sangat diperlukan untuk menyusun informasi secara cepat dan akurat terutama dalam memantau kerusakan lingkungan. Selain itu, data-data ini juga untuk inventarisasi penghitungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup terkait sektor pertanian, energi, pertambangan, dan kelautan. Kemudian, data tersebut akan menjadi bahan informasi untuk memformulasikan kebijakan daerah.

Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr. Sugeng Prayitno, saat penandatanganan perjanjian kerja sama dengan LAPAN dan BIG di Yoyakarta, Kamis (15/10). Penandatanganan naskah kerja sama dengan LAPAN dilakukan oleh Sugeng dan Kepala Biro Kerjasama dan Humas LAPAN, Agus Hidayat. Sementara itu, kerja sama dengan BIG ditandatangani oleh Kepala Pusat Penelitian, Promosi, dan Kerjasama Dr. Wiwin Ambarwulan.

Ia melanjutkan, data spasial tersebut akan sangat bermanfaat dalam isu-isu lingkungan hidup di ekoregion Jawa. Isu-isu tersebut yaitu mengenai alih fungsi lahan misalnya informasi perubahan hutan alami menjadi perkebunan atau pemukiman, informasi mengenai pencemaran udara dan air di kawasan perkotaan dan kawasan industri, bencana alam karena kerusakan lingkungan seperti longsor dan banjir, degradasi fungsi ekosistem di daerah aliran sungai, menurunnya keanekaragaman hayati, serta pengambilan air tanah yang berlebih di kawasan perkotaan dan kawasan industri.

LAPAN dan P3EJ bekerja sama dalam penyediaan dan pemanfaatan teknologi dan data penginderaan jauh untuk mendukung penyelenggaraan pengendalian pembangunan ekoregion Jawa. Kerja sama tersebut juga bertujuan untuk memperkuat daya dukung dan daya tampung KLHK dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi upaya pengendalian pembangunan ekoregion di wilayah Jawa. Kegiatan ini sekaligus sebagai tindak lanjut kerja sama antara LAPAN dengan KLKH yang telah berjalan.

Ruang lingkup kerja sama LAPAN dengan P3EJ Jawa antara lain meliputi penyediaan data dan informasi penginderaan jauh, pengembangan metode pengolahan data dan pedoman pemanfaatannya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pertukaran data, informasi, dan tenaga ahli.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Biro Kerjasama dan Humas LAPAN mengatakan bahwa LAPAN memiliki berbagai penelitian dan pengembangan, sesuai dengan kompetensi LAPAN, yang dapat mendukung kerja P3EJ. Kompetensi pertama yaitu di bidang sains antariksa dan atmosfer, LAPAN memantau kondisi lingkungan cuaca antariksa. Pemantauan ini bertujuan untuk memberikan informasi jika cuaca antariksa berpotensi mengganggu kehidupan atau peralatan di bumi.

Selain itu, LAPAN juga memantau sampah antariksa sebagai upaya untuk memberikan peringatan jika ada yang berpotensi jatuh di wilayah Indonesia. Di bidang sains atmosfer, LAPAN mengembangkan Satellite Disaster Early Warning System (SADEWA), yaitu peringatan dini berbasis antariksa. Peringatan dini tersebut disampaikan ke nelayan terkait adanya cuaca ekstrem yang dapat membahayakan pencarian ikan di laut.

Kompetensi kedua yaitu teknologi penerbangan dan antariksa. LAPAN mengembangkan pesawat tanpa awak atau Lapan Surveillance UAV (LSU) yang dikendalikan secara otomatis. LSU ini telah digunakan antara lain untuk memotret situasi pascalongsor di Banjarnegara, memetakan banjir di DKI Jakarta, memotret puncak Gunung Merapi pascaletusan, memantau pertumbuhan padi di Subang, dan pemetaan kawasan pantai bekerja sama dengan BIG.

Selain LSU, LAPAN juga mengembangkan pesawat ringan dua awak (LSA) yang juga berfungsi sebagai surveillance. Pesawat ini dapat dimanfaatkan antara lain untuk memantau bencana dan pemantauan kelautan. Kemudian, LAPAN juga mengembangkan pesawat transportasi N219 hasil kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI). Di masa depan LAPAN dan PT DI juga akan mengembangkan pesawat berikutnya yaitu N245 dan N270.

Kemudian, LAPAN juga mengembangkan teknologi satelit. LAPAN telah mengorbitkan dua satelit yaitu LAPAN-Tubsat/A1 dan LAPAN-A2/ORARI. Selanjutnya, LAPAN akan meluncurkan satelit LAPAN-A3, LAPAN-A4, dan LAPAN-A5. Seluruh satelit tersebut berbobot di bawah 100 kilogram. Agus Hidayat melanjutkan, di masa mendatang, LAPAN bersama konsorsium nasional berencana membangun satelit operasional dengan bobot satu ton. Sementara itu, di bidang teknologi antarika, LAPAN saat ini juga mengembangkan roket sonda yang dibuat secara mandiri. Pengembangan roket tersebut nantinya bertujuan untuk mengorbitkan satelit.

Kompetensi berikutnya yaitu penginderaan jauh. LAPAN memiliki data penginderaan jauh dengan berbagai resolusi yaitu rendah, menengah, dan tinggi. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk sumberdaya wilayah darat, misalnya pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pertambangan. Penginderaan jauh juga dimanfaatkan untuk sumberdaya wilayah pesisir dan laut, seperti menyusun parameter oseanografis dan pemantauan ekosistem pesisir dan laut. Di bidang lingkungan dan mitigasi bencana, penginderaan jauh digunakan untuk pemantauan banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan gunung api. Data penginderaan jauh bersifat historis sehingga dapat merekam adanya perubahan di suatu wilayah. Dengan demikian, ini tentunya akan dapat mendukung kegiatan di P3EJ.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL