Kompetensi Utama

Layanan


Analisis LAPAN: Kebakaran Hutan Pengaruhi Kabut Jakarta dan Bandung
Penulis Berita : Humas/Meg, Sumber: PSTA • Fotografer : Dok. PSTA • 31 Oct 2015 • Dibaca : 29147 x ,

LAPAN terus memantau kondisi atmosfer di Indonesia menggunakan teknologi antariksa. Beberapa hari silam, wilayah Jakarta dan Bandung terasa berkabut atau terjadi penurunan visibilitas atmosfer pada 23 hingga 24 Oktober 2015.

Hasil analisis Tim Kebencanaan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN menunjukkan bahwa terjadi peningkatan konsentrasi aerosol di atmosfer kedua kota tersebut, yang sebagian besar berasal dari arah timur dan utara. Analisis ini diperoleh berdasarkan data satelit, model, dan observasi.

Aerosol di atas Jawa barat sebagian besar mencapai kadar di atas ambang yaitu 0.4 atau dapat dikategorikan “very hazy” (sangat berkabut/kabur) dengan nilai AOD 1-2. Bahkan, untuk wilayah Serang, AOD berada pada kisaran nilai 3-4. Berdasarkan data AOD tersebut tampak bahwa atmosfer pada tanggal 24 Oktober berada dalam kondisi ekstrem sangat keruh karena terdapat peningkatan aerosol yang cukup signifikan.

Peningkatan aerosol di Bandung tersebut selain disebabkan oleh faktor antropogenik atau karena aktivitas manusia yang mengakibatkan pembakaran CO, juga diperparah dengan kejadian kebakaran hutan di wilayah Kareumbi, Sumedang, sejak 22 Oktober 2015. Kebakaran ini semakin meluas pada 23 hingga 24 Oktober 2015. Selain dipengaruhi oleh kebakaran di Sumedang, aerosol di atas Bandung pada ketinggian 1-3 kilometer juga berasal dari Kalimantan.

Sementara itu untuk wilayah Jakarta, peningkatan aerosol juga berasal dari arah timur (Laut Timur) dan utara (Kalimantan). Kontribusi aerosol di Jakarta juga kemungkinan berkaitan dengan kejadian kebakaran hutan di Purwakarta. Keberadaan kabut di Jakarta dan Bandung juga dipengaruhi oleh konsentrasi peningkatan CO2 dengan kadarnya sebanyak19-20 ppmv. Peningkatan CO2 ini terekam oleh satelit AIRS selama periode 21-25 Oktober 2015.

Aerosol dapat terakumulasi dan kemudian menyebar di wilayah Jakarta dan Bandung juga dipengaruhi oleh angin timuran dan utara-an. Proses inilah yang kemudian menimbulkan fenomena very hazy di kedua kota.

Secara lokal, peningkatan polutan di Bandung berhubungan dengan dengan kebakaran asap yang berasal dari Gunung Kareumbi. Sementara di wilayah Jakarta pada pagi hingga siang hari dipengaruhi oleh kebakaran hutan di Purwakarta. Selain pengaruh lokal, sumber utama aerosol di Bandung dan Jakarta juga berasal dari Laut Timor (permukaan) dan Kalimantan (3-5 km). Efek komponen angin utara-an dan timuran memberikan kontribusi penyebaran dan peningkatan aerosol di Bandung dan Jakarta yang signifikan pada 23-24 Oktober 2015.



Gambar 1. Hotspot (titik panas) selama 11 hingga 17 Oktober 2015 (atas) dan sata Aerosol Optical Depth pada 17 Oktober 2015



Gambar2. Hotspot selama 16-23 Oktober 2015 (atas) dan data Aerosol Optical Depth pada 24 Oktober 2015




Gambar 3. Distribusi spasial konsentrasi CO2 melalui satelit AIRS pada 21 hingga 25 Oktober 2015




Gambar 4. Trayektori polutan yang menuju Bandung pada 21 hingga 24 Oktober 2015




Gambar 7. Trayektori polutan yang menuju Jakarta pada 21 hingga 24 Oktober 2015





Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL