Kompetensi Utama

Layanan


Adaptasi Perubahan Iklim, Kota Besar Asia Tenggara Perlu Perencanaan Spasial
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 02 Nov 2015 • Dibaca : 29566 x ,

Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh memberikan sambutan saat membuka pelatihan.

Perubahan iklim telah menjadi masalah yang serius bagi wilayah pesisir dan kota-kota besar di wilayah Asia Tenggara. Hal ini terutama karena meningkatnya jumlah populasi dan urbanisasi mengakibatkan pertumbuhan yang sangat cepat di kota-kota besar tersebut. Contohnya yaitu, kota rentang mengalami berbagai bencana seperti banjir dan kekeringan kerap terjadi akibat perubahan musim hujan.

Guna mengatasinya, pemerintah kota di masing-masing negara perlu memiliki program berkelanjutan dalam mengatasi perubahan iklim. Salah upayanya yaitu dengan adanya perencanaan spasial untuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Untuk itu, penginderaan jauh menjadi cara penting dalam memantau pertumbuhan kota dan perubahan iklim.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN, Dr. M. Rokhis Komarudin, saat membuka Training of Trainers on Urban Climate Change Adaptation in South East Asia, Senin (2/11). Kegiatan ini berlangsung pada 2 hingga 6 November 2015 di Hotel Santika, Depok, Jawa Barat.

Rokhis melanjutkan, LAPAN diberikan mandat untuk mengakuisisi dan memanfaatkan penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang dimiliki LAPAN memiliki beragam resolusi yaitu rendah, menengah, dan tinggi. Data-data satelit tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis perubahan perkotaan dan perubahan penggunaan lahan di Indonesia.

Perencanaan spasial sangat terkait dengan penanganan perkotaan. Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sri Tantri Arundati, mengatakan bahwa perencanaan spasial ini terkait dengan pasokan air dan makanan serta perkembangan ekonomi. Sri menjelaskan, saat ini bencana banjir semakin meningkat di kawasan Asia. Hal ini antara lain disebabkan adanya kenaikan permukaan laut dan pertumbuhan penduduk. Namun, kemudian pemanasan global semakin meningkatkan bencana tersebut. Pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan permukaan laut tiga kali lebih besar dari yang diprediksi sebelmnya.

Sri melanjutkan, jika tidak ditangani dengan baik, perubahan iklim dapat berakibat buruk bagi kehidupan sosial dan ekonomi. Untuk itu, perubahan iklim perlu diatasi agar tercipta pembangunan yang berkesinambungan bagi kota di masa depan.

Selain bencana banjir, contoh masalah yang dihadapi perkotaan terkait perubahan iklim yaitu kenaikan suhu udara dan meningkatnya gelombang panas. Dr. Jariya Boonjawat dari Thailand menjelaskan bahwa kejadian ini akan mengakibatkan perubahan siklus ekosistem, misalnya nyamuk. Dengan semakin hangatnya suhu udara, maka populasi nyamuk akan semakin meningkat dengan cepat. Akibatnya, penyebaran penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan semakin cepat.

Contoh lainnya yaitu jika suhu permukaan laut naik, maka ekosistem laut juga berubah terutama terkait keberadaan koral. Jika koral menurun, maka akan mempengaruhi penurunan ikan. Hal tersebut tentunya terkait dengan pasokan makanan untuk manusia.
Jariya berpendapat bahwa perkotaan perlu memperhatikan perubahan iklim karena saat ini hampir setengah populasi dunia hidup di kota. Populasinya bahkan akan semakin meningkat. Kota-kota besar seperti Jakarta dan Bangkok meskipun tidak luas tetapi memerlukan sumberdaya alam yang tinggi, bahkan bisa lebih dari seratus kali lipat dari luas wilayahnya.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peneliti, perencana perkotaan, dan praktisi yang terlibat dalam aktivitas latih terkait adaptasi perubahan iklim di level nasional dan lokal. Acara yang diikuti oleh perwakilan dari negara-negara di Asia Tenggara ini diselenggarakan atas kerja sama LAPAN dengan Asia-Pasific Network for Global Research serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurut koordinator pelatihan, Dr. Erna Sri Adiningsih, kegiatan ini juga untuk memformulasikan aktivitas yang diperlukan untuk adaptasi perubahan iklim dalam perencanaan perkotaan. Kegiatan ini juga untuk menciptakan hubungan yang lebih kuat antara peneliti perubahan global dan komunitas perencanaan perkotaan.

Rokhis berharap, kegiatan ini dapat menjadi ajang bagi negara-negara di Asia Tenggara dapat berbagi mengenai isu-isu terkait perubahan iklim. Ia juga berharap, pelatihan ini dapat memberikan solusi cara adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim di lingkungan kita.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL