Kompetensi Utama

Layanan


N-219 Menuju Kebangkitan Kedirgantaraan Nasional
Penulis : NN • Media : Koran-sindo.com • 11 Nov 2015 • Dibaca : 20797 x ,

Setelah lama tertidur, ambisi Indonesia mengembangkan pesawat karya sendiri kembali menggeliat. Adalah pesawat N219 yang dirancang 100% karya anak bangsa di PT Dirgantara Indonesia (PT DI) layak dibanggakan sebagai simbol kebangkitan dunia kedirgantaraan Nasional.

*Sekilas N-219

• N-219 adalah pesawat multi fungsi bermesin dua yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia (D.I.) dengan tujuan untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil.
• Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan juga pintu fleksibel.
• Pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo.
• Pembuatan pesawat N-219 itu merupakan kerjasama antara PT DI dengan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional )
• Saat ini proses pembuatan prototipe pesawat N-219 telah memasuki tahap perakitan akhir
• Rencananya pesawat akan terbang pertama pada Desember 2015.
• N-219 ini merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI di bawah lisensi CASA.
• Keseluruhan produksi hingga pesawat mencapai tahap finaly assembly dilakukan di PT DI dan dirancang sepenuhnya oleh putra bangsa Indonesia.
• LAPAN menghabiskan anggaran sekitar Rp 400 miliar untuk pengembangan pesawat N219

*Fitur utama

• Fungsi: angkut penumpang dan kargo (Multi fungsi, dapat dikonfigurasi ulang)
• Kapasitas: 19 Penumpang (konfigurasi tiga sejajar)
• Kinerja lepas landas dan mendarat: jarak pendek/STOL (600 m)]
• Biaya operasional: rendah
• Mesin: 2 x 850 shp

*Kinerja

• Kecepatan jelajah maksimum: 395 km / jam (213 KTS)
• Kecepatan jelajah ekonomis: 352 km / jam (190 KTS)
• Rata rata feri Maksimum: 1580 Nm
• Jarak lepas landas (halangan 35 kaki): 465 m, ISA, SL
• Jarak mendarat (halangan 50 kaki): 510 m, ISA, SL
• Kecepatan jatuh (stall): 73 KTS
• Berat lepas landas maksimum (MTOW): 7270 kg (16,000 lbs)
• Muatan Maksimum: 2500 kg (5511 lb)
• Tingkat panjat: 2300 kaki / menit (semua mesin operasi)
• Jarak: 600 Nm

*Keunggulan

• Ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan pesawat Twin Otter tetapi bisa membawa barang 500 kilogram lebih banyak.
• Harga satu pesawat sekitar USD 4,5 juta, jauh lebih murah dibandingkan pesawat sekelasnya yaitu twin otter yang harganya USD 6-7 juta
• Bisa lepas landas pada landas pacu sepanjang 500 meter. Sekedar catatan, pesawat komuter butuh landasan 1.000 meter.
• Untuk landing, hanya butuh landas pacu sepanjang 800 meter
• Mampu mendarat di ketinggian hingga 3.000 meter di atas permukaan laut
• tidak hanya mampu mengangkut penumpang, dengan rongga bagasi tergolong luas, pesawat bisa mengangkut kargo hingga dua ton
• Dilengkapi dengan peralatan navigasi digital canggih agar dapat menunjang di medan yang ekstrem.
• sistem navigasi canggih yang ditanamkan di pesawat mampu memberikan informasi cuaca

*Pesawat produk PT DI PT Dirgantara Indonesia (Persero) hingga 2012 telah memproduksi tak kurang dari 309 unit pesawat terbang.

NBO105 NBO105 adalah helikopter yang diproduksi sejak tahun 1976, kala itu PT DI masih bernama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Helikopter ini berlisensi MBB Jerman.

• NBELL412 NBELL412 adalah helikopter yang diproduksi sejak 1984, ketika PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN). Helikopter jenis ini diproduksi dengan menggunakan lisensi dari Bell Textron USA.
• NSA330 Hingga 2012, PT DI memproduksi sekitar 11 unit NSA330 yang digunakan oleh TNI AU Republik Indonesia. Helikopter puma ini diproduksi sejak 1982, zaman PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, dengan lisensi dari Aerospatiale Perancis (sekarang Eurocopter).
• NAS332 NAS332 juga diproduksi sejak 1982. Hingga 2012, helikopter super puma ini telah diproduksi sebanyak 20 unit, dengan lisensi Eurocopter.
• NC212 Hingga 2012 tercatat sebanyak 104 unit NC212 yang telah diproduksi PT DI. NC212 merupakan pesawat multiguna yang mampu membawa 20 penumpang atau muatan 2.000 kg.
• CN235 CN235 menjadi salah satu produk unggulan PT DI. Hingga 2012 tercatat sebanyak 62 unit pesawat jenis ini yang telah diproduksi, dari kontrak sebanyak 262 unit.
CN295 CN295 merupakan pesawat hasil pengembangan CN235 oleh Airbus Military (atau CASA). Badan pesawat lebih panjang 3 meter dibanding CN235, sehingga dapat membawa 40 sampai 50 penumpang.

*Rencana Pengembangan

Tahun 2011-2014
• N219
• Jarak dekat
• Landing gear tetap

Tahun 2015-2016
• N245
• Modifikasi dari CN235
• Jarak menengah

Tahun 2017-2022
• N270
• Subsonic tinggi
• Jarak jauh

*Ide pembuatan

• Rencana pembuatan pesawat N219 sudah ada sejak tahun 2005-2006 dengan didahului survey PT DI ke Papua. Dari survey diketahui landasan di Papua sangat pendek sekitar 500 meter dan belum beraspal.
• Dari sisi penumpang, karakteristik pesawat perintis di Papua cukup unik dimana tipe penumpang dibagi tiga, yakni orang, barang, dan ternak.
• Dari hasil survey, PT DI memutuskan memenuhi kebutuhan transportasi udara di Indonesia timur. Yang dibutuhkan adalah pesawat kecil sehingga dibuatlah desain N219.
• Namun saat ide ini tercetus, kondisi PT DI sedang tidak bagus akibat dampak krisis 1998.
• Tahun 2014, pemerintah mendukung dan menyatakan pembuatan N219 sebagai program nasional di bawah Lapan dan PT DI
• Setelah sembilan tahun penantian, untuk ketiga kalinya PT DI akan melakukan peluncuran pesawat produksinya yakni N219.

*Sejarah industri pesawat terbang nasional

Tahun 1946

• Di Magetan, Jatim dirakit pesawat terbang pertama dengan bahan-bahan dari Indonesia oleh putra-putri Indonesia yang diberi bana NWG-1 sesuai dengan inisial pembuatnya yaitu

Nurtanio Pringgoadisuryo dan Wiweko Supono.

• NWG-1 berjenis pesawat layang jenis zogling tanpa mesin yang biasa dipakai untuk olah raga terbang layang.
• Setelah berhasil pembuatan NWG-1, kemudian Nurtanio mencoba merakit pesawat bermesin dengan mesin sepeda motor jenis Harley Davidson buatan tahun 1928. Kerangka pesawat tersebut terbuat dari kayu dengan pipa baja yang dilapisi kain blacu. Pesawat tersebut mampu terbang dan diberi nama WEL (Wiweko Experimenttal Lightplane).

17 April 1958

• Si Kumbang mampu terbang melintasi Pulau Jawa. Setelah Si Kumbang kemudian muncul Belalang yang digunakan untuk melatih calon penerbang AURI. Kemudian menyusul Kunang 25, Kepik, Mayang, dan muncul prototipe helikopter.
• Pemerintahan menjalin kerjasama dengan pabrik pesawat Cekop dari Polandia untuk mengembangkan proyek industri pesawat nasional yang dinamai Wilga oleh Presiden Soekarno.

Tahun 1953

Bersama dengan lima belas orang staf, Nurtanio berhasil membangun pesawat serba logam pertama yang berkursi tunggal. Pesawat tersebut diberi nama Kumbang.

26 Januari 1949

Perusahaan penerbangan nasional pertama Garuda Indonesia melayani penerbangan perdana pada 26 Januari 1949 menggunakan pesawat DC3 yang dibeli rakyat Aceh dan diberi nama Seulawah.

28 April 1976

Sebagai upaya mengembangkan teknologi dan industri penerbangan, didirikan industri pesawat terbang Nurtanio yang diprakarsai B.J. Habibie. Dalam perkembangannya, perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Akhir 1980-an

IPTN mulai melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan pembuat pesawat terbang asing untuk membuat beberapa komponen pesawat terbang.

Tahun 1995

IPTN memproduksi pesawat N-250 dan telah berhasil diterbangkan.

24 Agustus 2000

IPTN direstrukturisasi dan kemudian berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

*Jenis pesawat komersial

• Wide body craft
• Narrow body craft
• Pesawat perintis.

*Rute pesawat perintis di Indonesia

• Pada tahun 2015 Kementerian Perhubungan membuka 65 rute penerbangan perintis baru.
• Total rute penerbangan perintis saat ini ada 217.
• Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2014 yaitu sebanyak 170 rute penerbangan.
• Dari jumlah rute di 2014, sebanyak 18 rute penerbangan perintis telah berubah menjadi rute komersil.

Sumber :|
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=20&date=2015-11-11








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL