Kompetensi Utama

Layanan


Penampilan Perdana Pesawat N219, Kepala LAPAN: Ini Pertanda Kebangkitan Kembali Teknologi Penerbangan
Penulis Berita : Humas/SA • Fotografer : Humas/SA • 10 Dec 2015 • Dibaca : 9944 x ,

Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menyampaikan hasil litbang iptek penerbangan di LAPAN serta sekilas sejarah LAPAN dari masa ke masa, Kamis (10/12). (Insert: foto bersama di depan pesawat N219)

Kamis (10/12), hanggar PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) meriah dengan atribut sewarna bendera pusaka, merah putih. Ratusan tamu undangan antusias ingin menyaksikan penampilan perdana pesawat transport nasional N219 hasil kerja sama LAPAN dengan PT. DI. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan hadir untuk memberikan apresiasi terhadap putra putri terbaik bangsa Indonesia yang telah membantu mewujudkan kemandirian nasional di bidang teknologi penerbangan. Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menilai N219 sebagai bukti kebangkitan kembali teknologi nasional khususnya teknologi penerbangan. 
 
Pesawat N219, Thomas menjelaskan, sepenuhnya murni dikembangkan oleh putra putri Indonesia dan tidak melibatkan seorangpun konsultan asing. “Teknik rancang bangun sudah modern, computerized, semua dirancang dan digambar secara digital, akurasinya terjaga. N219 menjadi tonggak sejarah. Kalau kita sebut terbang perdana N250 sebagai hari kebangkitan teknologi nasional, maka N219 ini menjadi pertanda kebangkitan kembali teknologi khususnya teknologi penerbangan,” Thomas menegaskan.

Menurut Thomas, program pesawat transport nasional N219 secara resmi dimulai pada 2014. Setelah tampil perdana pada publik hari ini, masih ada tahap yang harus dilalui N219 hingga dinyatakan laik terbang dan memenuhi sertifikasi sebagai pesawat transport berpenumpang 19 orang. “Pertengahan tahun depan kita akan menyaksikan terbang perdananya, sertifikasi direncanakan berakhir pada akhir 2016 atau awal 2017 dan produksi direncanakan pada 2017,” kata Thomas.

Thomas berharap N219 akan menjadi simbol kemandirian teknologi dan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu membuat teknologi tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan transportasi sebagai bagian dari konektivitas nasional. 

N219 Memperkuat Visi Kompetisi

Senada dengan Thomas, dalam sambutannya Luhut menilai Indonesia butuh solusi konektivitas yang bisa menyatukan puluhan ribu pulau nusantara. Moda transportasi angkutan udara menjadi salah satu solusi konektivitas yang Indonesia butuhkan, terutama untuk daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau melalui laut dan darat.

Menurut Luhut, selama ini memang sudah ada pesawat terbang jenis Twin Otter dengan kapasitas 9 sampai 20 orang yang menjangkau daerah-daerah terpencil seperti di Indonesia timur. Namun jumlah armadanya masih terbatas, sudah berumur dan sudah melewati masa laik terbang. Pesawat multifungsi N219, Luhut menambahkan, adalah produk Indonesia dan untuk Indonesia. 

“Karena itu saya menyambut baik usaha pengembangan pesawat N219 oleh industri penerbangan dalam negeri. Kita harapkan langkah tersebut mempercepat konektivitas yang menghubungkan nusantara dan memperkuat visi kita ke depan yaitu visi kompetisi,” Luhut menegaskan. 

Luhut tak lupa meminta kepada semua pihak agar pengembangan N219 diperhatikan dengan cermat dan didorong terus penyempurnaannya. Ia mengimbau Menteri Perhubungan agar terus berkoordinasi dengan PT. DI untuk memastikan bahwa pesawat N219 akan bisa beroperasi dengan baik dan aman. 

“Dari berbagai penyempurnaan, saya ingin melihat nantinya industri transportasi udara Indonesia dapat pula menghasilkan pesawat-pesawat untuk kebutuhan pasar dunia,” ujar Luhut. 

Rancang bangun pesawat N219 disesuaikan dengan kondisi dan fasilitas bandar udara di daerah terpencil di Indonesia dengan tetap memperhatikan aspek efisiensi dan harga yang bersaing. Pesawat ini juga dapat dioperasikan pada daerah dengan kondisi awan yang sulit maupun landasan tak beraspal di wilayah pegunungan dan kepulauan. Pesawat ini mampu lepas landas dan mendarat pada landasan yang pendek dengan stabilitas tinggi dan dinilai tepat untuk bandara di daerah terpencil Indonesia dengan lahan yang tidak luas. 

Struktur pesawat juga didesain agar dapat membawa bahan bakar yang lebih banyak dibandingkan dengan pesawat lain sekelasnya, mengingat tidak semua bandara di daerah terpencil punya fasilitas pengisian bahan bakar.

Prosesi pesawat N219 keluar hanggar PT. DI, Kamis (10/12).


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL