Kompetensi Utama

Layanan


Orbit Geostasioner Penting bagi Indonesia
Penulis Berita : Humas/Meg • Fotografer : Humas/Meg • 16 Dec 2015 • Dibaca : 39963 x ,

Kepala Pusat Teknologi Satelit memaparkan kondisi slot orbit Indonesia.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan letak geografis di garis khatulistiwa. Posisi tersebut menjadikan Indonesia berada tepat di bawah geostationary orbit (GSO) atau orbit geostasioner. Selain itu, Indonesia juga merupakan wilayah di bawah GSO terpanjang, yaitu 13 persen dari total rentang orbit.

Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala Biro Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Umum, Christianus R. Dewanto, saat Focus Group Discussion (FGD) Geostationary Orbit di Depok, Jawa Barat, Rabu (16/12).

FGD ini bertujuan untuk mendalami GSO dalam posisi Indonesia pada sidang UNCOPUOS (komite di PBB untuk pemanfaatan angkasa luar). Menurut Chris, kegiatan ini untuk merencanakan tindak lanjut yang perlu dilakukan terkait GSO dan strategi yang perlu dilaksanakan. Nantinya, hasil pembahasan ini akan menjadi pedoman bagi delegasi RI di UNCOPUOS sehingga mendapatkan hasil yang baik bagi Indonesia.

Chris menjelaskan, hasil kesepakatan nasional mengenai posisi dasar RI mengenai GSO telah dikukuhkan pada sidang paripurna kedua Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI (Depanri) pada 10 Desember 1998. Sidang tersebut memandang bahwa GSO merupakan bagian dari antariksa dan perlu diatur dengan hukum khusus yang substansinya tidak bertentangan dengan Space Treaty 1967. Hukum ini juga tetap memperhatikan kepentingan negara-negara, terutama negara berkembang dan negara dengan letak geografi khusus seperti negara khatulistiwa.

Pembahasan mengenai GSO ini sangat penting karena orbit ini memiliki banyak manfaat untuk kepentingan Indonesia. Aplikasi GSO antara lain untuk satelit komunikasi, World Wide operational Telecomunication system untuk Telepon, TV, dan Digitized Transmission Lines, pendeteksian peluncuran roket, dan pemantauan cuaca.

Karena terkait kepentingan nasional, pengaturan hukum terkait GSO sangat penting. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Kristen Atma Jaya, Prof. Dr. IBR Supancana.

Kepentingan nasional tersebut terkait dengan profil wilayah Indonesia yang kepulauan sehingga sangat memerlukan aplikasi teknologi antariksa. Menurut Supancana, Indonesia perlu mengajukan agar pemanfaatan GSO ini dapat proporsional dan seimbang.

Sementara itu, fungsional LAPAN, Martin J. Chania, mengatakan bahwa pembahasan kepentingan Indonesia atas GSO ini bertujuan untuk menjamin kesinambungan penggunaannya oleh Indonesia untuk berbagai keperluan. Selain itu, hal ini juga untuk memberikan jaminan bagi satelit-satelit Indonesia dari berbagai macam ancaman dan gangguan pihak-pihak lain yang dapat merugikan Indonesia. Hal ini juga untuk menghindarkan penggunaan GSO dari segala bentuk kegiatan yang bukan untuk maksud damai dan kemanusiaan.

Kepala Pusat Teknologi Satelit, Abdul Rahman, mengatakan saat ini Indonesia hanya memiliki tujuh slot orbit GSO dan tiga slot orbit non-GSO. Ia menjelaskan bahwa slot orbit merupakan sumber daya yang terbatas. Untuk mendapatkan slot orbit tersebut diperlukan koordinasi jaringan satelit yang merupakan kewajiban dari pemilik atau operator satelit.

GSO adalah orbit satelit dengan bumi sebagai pusatnya, yang mempunyai periode sama dengan rotasi bumi. Menurut peneliti LAPAN, Slamet Supriyadi, orbit tersebut sebenarnya tidak diam namun bergerak sedikit karena pengaruh gravitasi matahari dan bulan, angin matahari dan radiasinya, serta bentuk bumi yang tidak bulat. Orbit ini memiliki kelebihan karena posisi permanen satelit sehingga receiver bisa terus mendapat sinyal. Satelit yang ditempatkan di orbit ini juga dapat melihat perubahan kawasan yang sama dari waktu ke waktu dan memiliki cakupan yang luas.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL