Kompetensi Utama

Layanan


Fenomena Langka Gerhana Matahari Total hadir di Indonesia
Penulis : Nur Hidayat • Media : Gatra.com • 17 Jan 2016 • Dibaca : 36545 x ,

Jakarta, GATRAnews - Awal Maret mendatang menjadi hari bersejarah bagi dunia ilmu pengetahuan antariksa Indonesia. Pasalanya, fenomena langka Gerhana Matahari Total (GMT) diprediksi akan melintasi daratan Indonesia pada 9 Maret 2016. GMT tersebut akan melintasi wilayah Indonesia dari Barat hingga ke Timur.

“Gerhana matahari ini akan terjadi pada pagi hari dengan durasi sekitar tiga menit. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari lewat fenomena ini,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dalam acara Hitung Mundur GMT 2016 di Kantor LAPAN di bilangan Jakarta Timur (14/1).

Hadir dalam acara tersebut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Esthy Reko Astuty, Kepala Pusat Seismologi Teknik Geopotensial dan Tanda Waktu BMKG, Jaya Murajaya, Kepala Observatorium Bosscha, Dr. Mahasena Putra, dan Ketua Dewan Penasihat Universe Awareness Indonesia (Unawei), Premana Peradi.

Gerhana matahari adalah suatu peristiwa dimana bulan melintas diantara bumi dan matahari sehingga kedudukan matahari, bulan, dan bumi terletak pada satu garis lurus. Akibatnya cahaya matahari yang jatuh ke bumi terhalang oleh bulan.

Ada tiga aspek penting dari GMT 2016 yang dapat dimanfaatkan yaitu aspek penelitian, edukasi publik, dan aspek budaya. Ketiganya tentu akan berdampak pada pariwisata daerah. Bagi BMKG, GMT ini menjadi momen untuk mengamati dan merekam saat-saat terjadinya GMT.

Demi mengetahui perubahan terhadap variasi medan magnet bumi dan perubahan anomali gravitasi serta efeknya yang diukur dari tempat-tempat tertentu di permukaan bumi. “Kita juga mengamati dampaknya pada kegempaan,” jelas Jaya Murjaya.

Sementara, Bosscha memilih untuk meneliti kondisi umbra (bayangan inti gerhana). “Masa kini bukan lagi hal sulit untuk mengamati apa yang terjadi pada mataharinya sebab sudah ada satelit di angkasa. Malahan bisa juga dibuat gerhana buatan dengan menempatkan satelit diantara matahari dan bumi. Maka kami akan lebih fokus meneliti efek umbra pada bumi,” beber Mahasena Putra.

Pada GMT mendatang akan dilaksanakan pula beberapa ekspedisi ilmiah internasional. LAPAN sendiri akan bekerjasama dengan National Aeronautics and Space Administration (NASA) melakukan penelitian di Maba, Maluku Utara.

BMKG bekerjasama penelitian dengan The Korea Aerospace Research Institute (KARI) di Ternate, Maluku Utara. Selain itu, LAPAN juga sedang merencanakan kerjasama dengan PICARD, Prancis.

Sumber :
http://www.gatra.com/iltek/sains/182615-fenomena-langka-gerhana-matahari-total-hadir-di-indonesia








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL