Kompetensi Utama

Layanan


Begini Detik-detik Gerhana Matahari Total
Penulis : Amal Nur Ngazis • Media : Viva.co.id • 04 Feb 2016 • Dibaca : 18333 x ,

5 menit sebelum GMT akan muncul efek seperti berlian pada Matahari.

VIVA.co.id – Masyarakat Indonesia punya kesempatan untuk menyaksikan fenomena langka Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016.

Diketahui, ada 12 Provinsi di Indonesia yang dapat menyaksikan seluruh fenomena langka, yaitu Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

GMT itu juga bisa dinikmati di sejumlah kota besar seperti, Palembang, Tanjung Pandang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate, dan Sofifi.

Lantas, bagaimana kondisi yang terjadi saat detik-detik sebelum GMT terjadi.

Peneliti Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Abdul Rachman menuliskan pengalaman merasakan GMT yang ditulis dalam buku Totality: Eclipses of the Sun oleh Mark Littmann, Ken Willcox, dan Fred Espenak terbitan Oxford University Press. Pengalaman itu diunggah di website Lapan.

Dalam buku itu dituliskan jelang GMT, pada kontak pertama akan muncul torehan kecil di sisi barat Matahari, torehan kecil lama-lama tampak bagai Bulan sabit.

Perubahan bentuk Matahari berjalan lambat selama kira-kira 30 menit, setelah itu kejadian cepat berubah.

"Langit terang tapi birunya terlihat memudar, Bumi sekitar mulai tampak gelap. 10-15 menit selanjutnya alam seolah-olah disinari cahaya abu-abu metalik," tulis buku itu.

15 menit sebelum GMT

Selanjutnya, kejadian makin cepat, kurang lebih 15 menit sebelum GMT. Pada saat ini, langit barat makin gelap dibanding langit timur, bayangan Bulan sedang mendekat.

Untuk 15 menit sebelum GMT, Matahari masih tetap cemerlang cahayanya, walaupun bentuknya telah berubah menjadi sabit tipis.

"Biru langit berubah menjadi biru abu-abu atau ungu," tulis buku itu.

Kemudian, langit gelap mulai menutupi sekeliling Matahari, Sang Surya tak lagi menerangi langit sepeti biasanya.

5 menit sebelum GMT

Keadaan langit makin gelap pada 5 menit sebelum GMT. Langit barat makin gelap dan tampak seperti sesuatu naik ke angkasa dan menyebar ke sepanjang horison barat.

"Kegelapan itu laksana membentuk badai yang besar tapi tanpa suara, tanpa bunyi gemuruh," tulis buku tersebut.

Pada konisi ini, gelap mulai mengambang di atas horison dan menyingkapkan cahaya kuning atau jingga di bawahnya bak cahaya senja.

Selanjutnya muncul sabit Matahari, sekarang berupa kepingan putih yang berkobar. Langit yang menghitam semakin ketat membungkus sekeliling Matahari, semakin lama semakin cepat menelan Sang Surya. Setelah itu, akan muncul bintik terang di bagian Matahari.

"Ujung-ujung kepingan putih Matahari pecah menjadi titik-titik terang laksana membentuk manik-manik yang dinamakan Baily's beads (sorotan-sorotan terakhir cahaya Matahari yang melewati lembah bulan yang terdalam)," tulis buku tersebut.

Di sisi lain, sabit Matahari samar-samar terlihat di pandangan. Korona mulai muncul.

Dalam waktu bersamaan, sabit Matahari yang sangat tipis menyerpih membentuk sederetan manik-manik dan busur kecil serta akhirnya menyusut dan sirna berurutan dalam waktu cepat. Akhirnya tinggal satu biji manik yang tampak seperti sebuah berlian yang mempesona pada cincin.

Sumber :
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/731925-begini-kondisi-detik-detik-gerhana-matahari-total








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL